
Tanpa terasa tiga bulan pun berlalu, Sandra dan Farzan melalui hari-hari bersama penuh kebahagiaan. Chila sendiri kini sudah kembali tinggal bersama mereka, tidak ada lagi ancaman dari Herman, mungkin saja penjahat itu takut karena diburu oleh anak buah Gilang, sehingga memilih pergi dari kota itu dan tidak mengganggu Sandra lagi. Lagi pula, Herman melakukan semua itu juga atas perintah Grisel, jika sekarang Grisel saja di rumah sakit jiwa, lantas untuk apa Herman mengganggu Sandra lagi.
“Sayang, bisa bantu ikatkan dasiku!” Suara Farzan membuat Sandra buru-buru masuk.
Dilihatnya sang suami yang berdiri di depan lemari, sambil memegang dasi di tangan.
Farzan dan Sandra masih tinggal di rumah Sandra. Wanita itu hanya merasa jika lebih nyaman tinggal di rumah sederhana itu, daripada rumah besar.
“Biasanya juga ikat sendiri,” kata Sandra sambil mendekat.
Farzan tersenyum melihat istrinya begitu gerak cepat saat dirinya memanggil dan meminta sesuatu. Salah satu yang tidak pernah didapatkan Farzan dari Grisel adalah perhatian kecil seperti ini. Jangankan langsung datang saat dipanggil, mendengar pun Grisel tidak. Mantan istrinya itu lebih memperhatikan diri sendiri dan mengabaikan suaminya.
Sandra mengambil dasi dari tangan Farzan, meski dirinya keheranan karena kini Farzan lebih suka dirinya yang mengikat dasi, tapi Sandra pun tidak pernah bertanya atau menolak.
“Sudah,” ucap Sandra sambil menatap dasi yang sudah terikat rapi, lantas jemarinya mengangsurkan ke permukaan dasi itu.
“Terima kasih, kamu yang terbaik,” ucap Farzan, lantas mengecup kening Sandra penuh kasih sayang sebagai hadiah.
Sandra sangat tersentuh, Farzan akan memberikannya imbalan sebuah kecupan, jika dirinya melakukan hal-hal kecil yang suaminya inginkan.
“Ayo sarapan, Chila sudah menunggu!” ajak Sandra.
**
Setelah mengantar Chila ke sekolah, Farzan pun mengantar Sandra ke perusahaan seperti biasa.
__ADS_1
“Nanti malam kita akan makan malam di rumah Bibi, kamu tidak masalah ‘kan?” tanya Farzan saat keduanya berada di mobil menuju perusahaan.
Sandra menoleh Farzan, mendengar kata makan malam keluarga, sedikit membuatnya merasa resah, seolah makan malam keluarga adalah momok menakutkan untuk wanita itu. Bagaimana tidak? Setiap bulan saat makan malam keluarga besar, para bibi Farzan akan membahas tentang hamil, anak, juga status dan strata, membuat Sandra merasa tidak nyaman.
“Tentu,” jawab Sandra meski tertekan, tapi juga tidak ingin suaminya kecewa.
Farzan mengulurkan tangan, kemudian mengusap rambut Sandra dengan lembut. Jika bisa, Farzan pun tidak ingin datang karena tahu jika Sandra merasa tidak nyaman dengan lingkungan keluarga besarnya. Namun, Farzan pun tidak ingin keluarga besarnya berpikir Sandra dan dirinya sombong karena tidak mau datang ke acara keluarga.
Mobil Farzan pun sampai di perusahaan Sandra, hingga istrinya itu melepas seat belt dan bersiap keluar.
“Sayang,” panggil Farzan dengan suara lembut.
Sandra menoleh dan seperti biasa sebuah kecupan mendarat di kening wanita itu.
Sandra memejamkan sekilas, sungguh Farzan memang selalu bersikap manis dan membuatnya begitu beruntung mendapatkan suami seperti pria itu.
Semenjak menikah, memang Chila kini lebih sering di rumah Anisa atas permintaan wanita paruh baya itu. Farzan dan Sandra sendiri menuruti keinginan Anisa agar wanita itu tidak marah atau merasa diabaikan.
“Baiklah, kamu juga jangan lupa makan,” balas Sandra kemudian turun dari mobil.
Farzan memandang Sandra yang masuk lobi, sebelum kemudian memilih memacu mobil meninggalkan tempat itu.
**
Sandra fokus bekerja, beberapa minggu ini banyak sekali job, sehingga dirinya harus lebih bekerja keras untuk menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik. Bahkan Sandra sampai lembur di rumah, karena takut jika pekerjaan yang dipercayakan kepadanya tidak selesai.
__ADS_1
“Bu Sandra, apa Anda tidak istirahat?” tanya asisten Sandra. Dia tahu jika Sandra terkadang telat makan karena terlalu fokus bekerja.
“Seben--” Sandra ingin menjawab pertanyaan asistennya, tapi tiba-tiba merasa perutnya sakit.
“Bu, Anda tidak apa-apa?” tanya asisten panik, langsung mendekat untuk melihat kondisi Sandra.
“Sepertinya asam lambungku naik,” jawab Sandra sedikit meringis menahan sakit. Dia memegangi perut bagian atasnya yang nyeri.
“Kita ke dokter ya, Bu!” ajak asisten Sandra.
Sandra menggeleng, kemudian meminta asistennya mengambilkan obatnya di tas.
Sandra memang memiliki riwayat asam lambung, jadi merasa sudah biasa jika tiba-tiba kambuh.
Asisten pun langsung mengambil tas Sandra, kemudian merogoh dan mengeluarkan obat yang biasa dikonsumsi atasannya itu.
“Ini, Bu.” Asisten mengulurkan obat dan juga air minum.
Sandra segera mengambil obat itu, lantas meminum dengan cepat.
“Bu, apa baik mengonsumsi obat tanpa resep dokter? Ibu terlalu stres dan banyak pekerjaan, mending ke dokter untuk memastikan kondisi Ibu,” kata sang asisten penuh kecemasan.
Sandra tersenyum mendengar ucapan asistennya, tahu jika bawahannya itu hanya mencemaskan dirinya.
“Tenang saja, setelah ini juga aku baikan. Aku sudah terbiasa meminumnya, jadi kamu tenang saja,” ujar Sandra dengan senyum meski wajah wanita itu terlihat pucat.
__ADS_1
Sandra sendiri merasa mual juga, mungkin karena efek asam lambung yang naik dan dia sudah terbiasa merasakan itu.