Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Mengungkapkan isi hati


__ADS_3

Setelah berhari-hari tanpa gangguan dari Grisel, Farzan pun semakin gencar mendekati Sandra untuk bisa mengambil hati wanita itu. Hatinya telah yakin akan hubungan yang ingin dijalani dengan wanita berstatus janda satu anak itu. Farzan sendiri awalnya ditawari keluarganya untuk melakukan perjodohan dengan putri pengusaha kaya, tapi dirinya menolak dengan alasan ingin menenangkan pikiran selama masa perceraian dengan Grisel, serta tidak ingin gegabah menikah lagi. Padahal itu hanya alasan karena dirinya masih butuh mendekati serta mengetahui perasaan Sandra terhadapanya. Setelah semua pasti, tentu Farzan akan memperkenalkan Sandra ke keluarganya.


Hari itu Farzan menjemput dan mengantar Chila ke rumah seperti biasa bersama Sandra. Keduanya langsung pergi setelah memastikan Chila bersama pengasuhnya.


“Apa kamu masih ada waktu istirahat?” tanya Farzan, menoleh sekilas pada Sandra yang duduk di sebelahnya.


Sandra menengok arloji yang melingkar di pergelangan tangan, lantas menganggukkan kepala.


“Aku sedang tidak ada banyak proyek, jadi memiliki waktu lebih banyak untuk santai. Kenapa?” tanya Sandra kemudian.


“Aku ingin mengajakmu minum kopi, sekalian ada hal yang ingin aku sampaikan,” jawab Farzan, menoleh Sandra dengan senyum kecil di wajah.


Sandra melihat ekspresi wajah Farzan yang sedikit berbeda, entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdegup dengan cepat. Sepertinya pembicaraannya dengan Joya tempo hari seperti sebuah sugesti yang terus berputar di kepala. Meski dirinya memungkiri dan berkata semua hanya kebetulan, tapi sikap dan cara bicara Farzan memang mengarah ke sebuah kesengajaan.


Farzan senang karena Sandra mau meluangkan waktu untuk bicara dengannya. Dia lantas mencari tempat yang pas untuk bicara dengan Sandra.


Keduanya kini sudah duduk di sebuah kafe, memilih meja yang terdapat di lantai dua karena lebih sedikit pengunjung di sana, sehingga Farzan bicara dengan leluasa.


“Kamu ingin menyampaikan apa?” tanya Sandra membuka perbincangan. Dia kemudian menyesap kopi yang dipesan.


Farzan melipat bibir ke dalam, seolah sedang memikirkan kalimat yang pas untuk menjawab pertanyaan Sandra.


“Aku sebenarnya bingung ingin memulai dari mana,” jawab Farzan, jemarinya saling meremas seolah sedang merasa gugup.

__ADS_1


Sandra melirik Farzan, melihat jika pria itu tampak kebingungan. Dia meletakkan cangkir ke meja, lantas menatap Farzan dengan senyum kecil di wajah.


“Mulai dari mana saja boleh, asal itu membuatmu nyaman,” balas Sandra.


Farzan menganggukkan kepala, tampak menarik napas panjang dan menghela perlahan, sebelum kemudian menatap Sandra.


“Aku menyukaimu.” Akhirnya kalimat itu lolos dari bibir Farzan. Setelah sekian lama mendekati, akhirnya Farzan berani mengungkapkan isi hatinya ke janda satu anak itu.


Sandra seketika terdiam, menatap Farzan dengan rasa tak percaya.


Farzan menatap Sandra, memperhatikan reaksi wanita itu karena takut jika Sandra marah dan langsung meninggalkannya. Farzan sendiri tak tahu kenapa dirinya begitu berani mengungkap perasaan secepat ini, mungkin dirinya takut jika terlalu lama diam malah akan kehilangan wanita itu.


Sandra tertawa kecil, menganggap jika Farzan sedang bercanda.


Sandra memang merasa jika sikap Farzan kepada dirinya dan Chila terlalu berlebihan, tapi tidak menyangka jika pria yang umurnya lebih muda darinya itu akan menyukai dirinya.


Farzan terkejut karena reaksi dan tanggapan Sandra seperti itu, hingga pria itu menggenggam telapak tangan Sandra yang berada di atas meja.


Sandra sangat terkejut, menatap telapak tangan yang digenggam Farzan lantas menatap pria itu secara bergantian.


“Aku tidak bercanda, aku benar-benar menyukaimu,” ucap Farzan memperjelas.


Sandra merasa bingung, tak tahu bagaimana cara menanggapi ucapan Farzan.

__ADS_1


“Kamu mungkin hanya simpati kepadaku, karena status dan nasibku,” balas Sandra masih mengelak.


“Tidak!” sangkal Farzan. “Aku benar-benar menyukaimu sejak lama, tapi aku terus mencoba meyakinkan agar tidak ada penyesalan. Namun, kini aku sudah yakin, jika perhatianku kepadamu dan Chila, karena aku menyayangi kalian, bahkan ingin melindungi dan bersama kalian. Aku tertarik padamu sejak lama, hanya saja tak berani mengungkapnya,” ujar Farzan panjang lebar.


Sandra sedikit syok mendengar pengakuan Farzan, matanya kembali melirik tangan Farzan yang masih menggenggam telapak tangannya.


“Aku seorang janda dengan anak satu, apa kamu yakin menyukaiku?” tanya Sandra memastikan.


“Aku tidak peduli dengan status,” jawab Farzan.


“Aku lebih tua darimu, bahkan lebih pantas menjadi kakakmu,” ucap Sandra mencoba menggoyahkan keyakinan Farzan untuk mencintainya.


“Aku tidak peduli dengan umur, bahkan jika kamu tampak lebih pantas seperti ibuku pun aku tak peduli, karena cinta tak memilih.” Farzan tetap pada keyakinannya mencintai Sandra.


Sandra semakin bingung, dia sendiri sebenarnya tak tahu perasaan apa yang ada untuk pria di hadapannya itu.


“Kamu masih berstatus suami orang, aku tak ingin jika dianggap sebagai orang ke tiga dalam rumah tanggamu, yang mengakibatkan kalian bercerai. Aku seorang janda anak satu, pandangan orang akan selalu buruk kepadaku. Penggoda, perayu, perebut suami orang, begitulah orang akan menilai, ketika aku menerimamu untuk menyukaiku.” Sandra mengutarakan apa yang ada di pikirannya, sebuah keterbukaan yang sebenarnya memberikan lampu hijau bagi Farzan.


“Jadi, jika aku sudah resmi bercerai, apa kamu mau menerimaku?” tanya Farzan karena merasa Sandra sedang memberinya kesempatan.


Sandra terperangah, baru sadar jika dirinya tengah memberi kesempatan kepada Farzan. Namun, entah kenapa hatinya pun tak menolak memberi kesempatan, seolah mendukung jika pria itu menyukai dirinya.


“Mungkin, jika kamu sudah bercerai dari Grisel, aku bisa mempertimbangkan hubungan antara kita.”

__ADS_1


__ADS_2