Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Tidak salah memilih


__ADS_3

Darren sangat terkejut mendengar ucapan Viona, hingga menatap istrinya itu sambil menelan ludah susah payah.


Viona bisa melihat ketakutan dalam mata Darren, hingga dirinya semakin yakin jika suaminya memang tidak berubah sama sekali.


“Sayang, kenapa wajahmu pucat seperti itu? Apa aku salah bicara?” tanya Viona yang tentunya berpura-pura bodoh.


Darren langsung menggelengkan kepala cepat, kemudian mencoba tersenyum meski harus sedikit dipaksakan.


“Tidak ada, sayang. Hanya tak menyangka jika kamu akan bicara seperti itu,” kata Darren mencoba menutupi kegugupannya.


Viona tersenyum lebar, lantas mendekat ke Darren dan duduk di pangkuan suaminya itu. Dia merangkulkan kedua lengan di leher Darren, lantas tersenyum begitu manis seperti yang biasa dilakukannya.


“Ish … aku tadi tuh hanya berandai, sayang. Kamu tahu aku sangat mencintainya, kadang berpikir apa yang harus aku lakukan jika kamu tega seperti Angga. Namun, aku pun percaya kamu tidak akan selingkuh. Benar begitu?” Viona terus menunjukkan jika bodoh dan tak tahu apa-apa, untuk mencari celah agar bisa menggerebek sang suami dan selingkuhan saat bersamaan.


Darren terlihat gelagapan mendengar ucapan Viona, hingga mencoba bersikap biasa agar sang istri tidak mencurigainya.


“Tentu saja, sayang. Bagaimana bisa aku berpaling darimu, hm ….” Darren memeluk pinggang Viona.


Viona tersenyum manis, sebelum kemudian menyentuhkan kening mereka agar bisa menatap dengan jarak begitu dekat.

__ADS_1


“Sekarang kamu tenang atau sedang gelisah? Nikmati ketenanganmu saat ini, karena sebentar lagi akan kubuat semua terbalik!” Gumam Viona dalam hati.


**


Sandra dan Farzan pulang ke rumah. Farzan masih betah tinggal bersama Sandra dengan alasan melindungi, apalagi ditambah surat kaleng yang mungkin pengirimnya bisa mengancam nyawa Sandra.


“Maaf jika tidak sesuai keinginanmu,” ucap Farzan saat keduanya sudah di rumah.


Sandra sedang melepas high heels, hingga menoleh Farzan yang berdiri di belakangnya.


“Tidak sesuai keinginanku apa?” tanya Sandra bingung dengan ucapan Farzan.


Farzan menggenggam telapak tangan Sandra, melihat cincin di jari manis yang tadi disematkan olehnya tadi.


“Soal keinginanmu menikah sederhana, malah jadi mewah karena Mama,” jawab Farzan merasa bersalah.


Sandra menaikkan kedua sudut alis mendengar ucapan Farzan, hingga kemudian mengulas senyum dan membalas genggaman tangan pria itu.


“Tidak apa-apa, yang terpenting mamamu tidak marah lagi. Setidaknya dengan menyetujui keinginannya, kita secara langsung sudah membuatnya bahagia,” balas Sandra dengan hati ikhlas menerima semua keputusan yang dianggap baik.

__ADS_1


Farzan memang tidak salah memilih pasangan kali ini. Sandra adalah wanita dewasa yang memikirkan masa depan serta mengutamakan orang lain daripada diri sendiri.


**


Chila terlihat bahagia setelah acara pertunangan sang mama dengan Farzan. Siang itu dia mengajak Liana pergi ke toko peralatan alat tulis untuk membeli pensil dan beberapa kebutuhan menggambar lain.


“Apa sudah semua?” tanya Liana saat mereka sedang di kasir.


Chila mengangguk-angguk, setelah meneliti barang yang dibelinya.


Liana pun meminta kasir untuk menghitung, kemudian pergi dari toko setelah selesai membayar.


“Chila mau beli es krim, nggak? Mumpung di luar?” tanya Liana sambil menggandeng tangan Chila.


Chila mengangguk-angguk tanda ingin, siapa yang bisa menolak pesona makanan dingin yang lembut dan beraneka rasa itu.


Liana mengajak Chila pergi ke kedai es krim yang dekat dengan toko alat tulis, seperti biasa Chila duduk di depan toko sedangkan Liana memesan es krim yang diinginkan.


“Hei, bocil! Tak kusangka bertemu denganmu di sini!”

__ADS_1


Chila begitu terkejut mendengar suara yang dikenalnya, hingga menatap siapa yang kini sedang memandangnya.


__ADS_2