Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Rencana pernikahan


__ADS_3

Sesaat sebelumnya. Harun sudah bersiap berangkat setelah pembantu rumah memasukkan barang bawaan ke rumah Gilang di mobil. Sampai langkah Harun terhenti karena teriakan Anisa.


“Papa benar-benar tega ingin ninggalin Mama?” Anisa berada di ambang pintu dengan wajah bersungut kesal.


Pembantu dan sopir Harun sampai saling tatap karena ucapan Anisa.


Harun sendiri menghela napas kasar, sungguh istrinya kali ini sangat kekanak-kanakkan.


“Ninggalin apa sih, Ma? Papa hanya pergi ke rumah Pak Gilang untuk menemani putramu melamar. Kamu sendiri yang tidak mau ikut, jadi jangan berkata seolah Papa yang ninggalin,” ujar Harun santai.


Anisa benar-benar kebingungan karena Harun bersikukuh pergi.


“Sudah! Papa mau pergi nanti terlambat.” Harun bersiap pergi, hingga Anisa kembali membuat pria itu terhenti.


“Tunggu!” teriak Anisa begitu lantang. “Mama juga akan ikut,” imbuhnya lirih.


Harun menaikkan kedua sudut alis, benarkah sang istri akhirnya akan setuju dengan keputusan putra mereka.


“Jangan ge’er ya! Mama ikut karena tidak mau dikatai sakit atau Papa dibilang nggak punya istri, jadi tunggu jangan pergi sebelum Mama keluar!” perintah Anisa yang kembali masuk rumah untuk berganti pakaian.


Harun menghela napas pelan, apa pun alasan Anisa ikut, yang terpenting istrinya mau datang bersamanya.


Jadi disinilah Harun dan Anisa yang membuat Farzan terkejut, meski begitu pria itu tetap menyambut kedua orangtuanya meski dengan rasa penasaran karena sang mama mau datang.


“Pa, Ma,” sapa Farzan.


Harun membalas sapaan putranya, sedangkan Anisa sedikit memalingkan wajah hingga membuat Farzan berpikir jika Anisa pasti datang karena terpaksa.


Farzan pun mengajak masuk Anisa dan Harun, hingga mereka disambut oleh Liana dan Gilang. Namun, Liana terlihat begitu terkejut melihat Anisa dan tampak tak senang karena ingat betul jika Anisa adalah wanita egois yang merebut strawberry Chila, tapi dia berusaha tenang dan mengabaikan demi Sandra dan kelancaran acara malam ini.

__ADS_1


“Senang bertemu dengan Anda,” sapa Harun.


“Saya juga senang bertemu Anda. Silakan!” Gilang membalas sapaan lantas mempersilakan duduk.


Anisa sendiri memaksakan senyum meski tak suka datang ke sana. Saat duduk wanita itu memandang Gilang dan Liana bergantian, kepalanya sedang dipenuhi dengan pertanyaan akan hubungan antara Sandra dan Gilang.


Sandra keluar bersama Chila, mereka langsung duduk di samping Farzan dengan Chila berada di tengah.


Sekilas Anisa memperhatikan Chila, gadis kecil baik hati yang ditemuinya dua kali.


Harun pun mulai menyampaikan maksud kedatangannya melamar Sandra untuk putranya. Gilang sendiri langsung menyambut baik niat Harun.


“Untuk menghindarkan dari fitnah, saya berharap agar mereka segera menikah,” kata Gilang sambil memandang bergantian Farzan dan Sandra.


Anisa sangat terkejut mendengar Gilang meminta agar acara pernikahan diadakan secepatnya, sedangkan Harun mengulas senyum lantas menatap Farzan.


“Saya setuju, saya ikut saja kapan waktu yang tepat untuk pernikahan mereka,” balas Harun.


“Sebagai calon mempelai, kalian berhak memutuskan acara seperti apa yang diinginkan. Mumpung kita berkumpul, tidak ada salahnya dibicarakan sekalian,” ujar Gilang ke Sandra dan Farzan.


Sandra memandang Farzan yang juga sedang menoleh ke arahnya, kemudian kembali menatap Gilang dan Harun secara bergantian.


“Sebenarnya aku dan Farzan sudah membicarakan hal ini bersama. Kami sudah memutuskan jika pernikahan kami diadakan sederhana saja, mengingat umur yang sudah tidak muda lagi, serta status kami yang sebelumnya pernah menikah,” ujar Sandra memberikan keputusan setelah sebelumnya berdiskusi dengan Farzan.


“Tidak!” Suara Anisa mengejutkan semua orang.


Semua orang yang ada di sana langsung memandang Anisa, merasa heran karena wanita itu berkata tidak.


“Ma.” Harun bicara dengan suara lirih, takut jika Anisa membuat masalah.

__ADS_1


Gilang dan Liana sendiri menatap Anisa dengan rasa heran, kenapa ibu Farzan itu menolak dan apa yang sebenarnya ditolak.


“Aku tidak setuju jika pestanya diadakan sederhana. Meski Farzan sudah duda, tapi dia anakku satu-satunya. Jadi jika memang mereka ingin menikah, maka aku ingin pestanya diadakan secara meriah,” ujar Anisa menjelaskan penolakannya.


Harun menghela napas, sang istri masih saja memikirkan diri sendiri dan tidak menghormati keputusan orang lain.


Sandra cukup terkejut mendengar permintaan Anisa, sebenarnya dia hanya malu kalau diadakan pesta mewah sedangkan dirinya sudah berumur.


Farzan menoleh Sandra, kemudian menganggukkan kepala untuk mengisyaratkan agar mengikuti keinginan Anisa saja.


“Bagaimana San?” tanya Gilang ke Sandra.


Sandra mengulum bibir dan terlihat kebingungan, hingga kemudian mengangguk karena Farzan memintanya setuju.


“Jika Tante menginginkan seperti itu, maka aku juga takkan menolak,” ucap Sandra pada akhirnya.


Akhirnya diputuskan pernikahan mereka akan diadakan di ballroom hotel sesuai permintaan Anisa, mereka juga membahas tanggal pernikahan Farzan dan Sandra.


**


Anisa pergi ke kamar mandi setelah selesai makan malam. Saat akan kembali ke ruang tamu karena semua orang sudah di sana, langkah wanita itu terhenti saat melihat Chila masih di ruang makan. Ditatapnya gadis kecil itu sedang ikut membantu pembantu membereskan meja, meski pembantu melarang tapi Chila bersikukuh membantu.


“Dia baik, ‘kan! Jangan dimanfaatkan.”


Sebuah suara mengagetkan Anisa, hingga langsung menoleh dan melihat Liana yang sudah berdiri di belakangnya.


“Siapa yang ingin memanfaatkan?” Anisa bicara dengan ketus, sedikit salah tingkah karena ketahuan mengamati Chila.


“Kamulah! Chila itu anak baik, jangan sampai nantinya kamu hanya memanfaatkan dia,” balas Liana. Dia masih kesal karena masalah di supermarket tempo hari.

__ADS_1


Anisa ingin membalas, tapi urung karena sadar jika dia memang salah hari itu. Hingga rasa penasaran akan hubungan Gilang dan Sandra kembali menggelitik, membuat Anisa memberanikan diri bertanya.


“Aku tahu Sandra bukan bagian dari kalian, lantas kenapa kalian yang menerima lamaran kami? Juga, bukankah Sandra sangat dekat dengan suamimu, ada hubungan apa sebenarnya?”


__ADS_2