
Anisa terlihat duduk di kafe dengan wajah sedikit tak senang. Tentu saja wanita itu sedang memikirkan tentang sang suami yang merestui hubungan mereka dengan seorang janda. Bahkan Harun berkata jika akan melamar Sandra untuk Farzan, tentu saja hal itu semakin membuat Anisa kesal.
“Aneh sekali, pria yang pernah menjadikannya selingkuhan, kini menjadi tempat untuk meminta restu. Jangan-jangan nanti setelah Farzan menikah dengannya, wanita itu tetap berselingkuh dengan pria bernama Gilang itu,” gerutu Anisa dalam hati.
Anisa berpikiran aneh karena tahu jika Gilang adalah pria yang telah berselingkuh dengan Sandra, sebab itu dia semakin tak rela dan merasa kalau Sandra bukan wanita baik-baik.
Harun sendiri semalam sudah mencoba menjelaskan, bisa saja ada kesalahpahaman akan informasi yang didapat Anisa, tapi kenyataannya wanita itu tetap tak percaya.
“Tante.”
Ternyata Anisa di kafe untuk bertemu dengan Valeria. Gadis itu terlihat menghampiri dengan seulas senyum di wajah.
“Akhirnya kamu datang, ayo duduk!” ajak Anisa dengan senyum hangat di wajah, membuang jauh ekspresi kesal sebelumnya.
Valeria mengangguk, kemudian duduk berhadapan dengan Anisa.
“Kenapa Tante memintaku datang?” tanya Valeria.
Anisa tersenyum mendapat pertanyaan dari Valeria, hingga kemudian memilih memesankan minum untuk gadis itu.
“Val, sebenarnya Tante memintamu datang untuk membahas soal Farzan,” kata Anisa.
Valeria terlihat terkejut mendengar perkataan Anisa, hingga kemudian mengulas senyum.
“Tante ingin membahas masalah perjodohan lagi?” tanya Valeria menebak.
Anisa mengangguk-angguk menanggapi pertanyaan Valeria, tak terkejut karena gadis itu cerdas dan pasti bisa menangkap maksud undangannya.
Valeria tersenyum karena tebakannya benar, gadis itu memilih meminum jus pesanannya sebelum kembali berbincang dengan Anisa.
__ADS_1
“Kamu tidak berubah pikiran ‘kan, Val?” tanya Anisa sambil menatap Valeria.
“Sebenarnya aku juga ingin membahas hal ini dengan Tante,” ucap Valeria.
Anisa terdiam mendengar ucapan Valeria.
“Tan, sepertinya aku dan Farzan takkan cocok,” kata Valeria.
Anisa cukup terkejut mendengar perkataan gadis itu.
“Kenapa kamu bilang seperti itu? Apa Farzan mengatakan sesuatu? Apa dia menyinggungmu?” tanya Anisa menebak karena Valeria tiba-tiba berkata demikian.
“Tidak, Farzan tidak berkata apa-apa kepadaku. Hanya saja aku berpikir jika profesiku takkan cocok dengan Farzan. Farzan butuh seseorang yang selalu ada untuknya, sedangkan aku mungkin akan sering menghabiskan waktu di luar negeri,” ujar Valeria menjelaskan. “Lagi pula, bukankah Tante bilang jika ingin memiliki cucu dari Farzan, jika menikah denganku, mungkin Tante juga Farzan harus menahan keinginan itu,” lanjutnya menjelaskan.
Anisa terperangah mendengar ucapan Valeria, jadi bisa dibilang jika gadis itu pun sebenarnya belum siap untuk menikah dan berumah tangga.
“Aku sendiri masih mengejar karier, Tan. Setelah dipikir-pikir, aku tidak bisa terikat dengan sebuah hubungan, aku masih ingin bebas,” kata Valeria lagi.
“Maaf, Tan. Aku tidak bermaksud mengecewakan Tante. Namun, meski aku tidak menikah dengan Farzan, aku tetap akan menganggap Tante seperti ibuku,” ucap Valeria, terus bicara agar Anisa tak kecewa, meski raut wajah wanita itu sudah menunjukkan kekecewaan.
Anisa sendiri tidak bisa berkata-kata atau melarang karena semua keputusan ada di tangan gadis itu. Dia hanya bisa mengangguk-angguk dengan senyum getir di wajah.
**
Di sisi lain. Viona hendak melancarkan aksi kedua. Setelah dari tempat pemotretan, dia mendatangi ruang kerja Darren seraya membawakan kopi kesukaan suaminya itu.
Darren berada di ruang kerjanya seperti biasa, hingga terdengar suara ketukan pintu dan pria itu langsung mempersilakan masuk.
“Sayang!” Viona langsung memanggil begitu membuka pintu.
__ADS_1
Darren berdiri saat melihat sang istri datang, lantas menghampiri untuk menyambut.
“Kenapa mau datang tidak bilang dulu?” tanya Darren.
Viona tersenyum manis menanggapi pertanyaan Darren, lantas mengulurkan cup kopi yang dibawanya.
“Aku sebenarnya hanya mampir, tadi membelikan kopi kru pemotretan, lantas ke sini,” jawab Viona sambil memberikan cup kopi untuk suaminya.
Darren merasa sang istri sangat perhatian. Dia lantas mengambil cup dari tangan Viona, hingga melihat kulit tangan Viona yang merah.
“Tanganmu kenapa?” Darren terlihat terkejut, lantas memegang telapak tangan sang istri.
Viona mengamati kulit tangannya, hingga kemudian berucap, “Tadi saat aku ingin memberikan kopi untuk model baru itu, dia tiba-tiba menyenggol tanganku dan membuat kopi panas tumpah ke tangan.”
Tentu saja semua tidak benar karena Viona sendiri yang menumpahkan kopi itu ke tangan untuk memfitnah Grisel.
“Model baru? Grisel?” tanya Darren dengan dahi berkerut halus.
Viona mengangguk-angguk dengan wajah manisnya, hingga kemudian berkata, “Tapi dia sudah minta maaf karena tak sengaja.”
Viona sengaja menunjukkan jika Grisel baik dan tak salah, padahal sebenarnya itu cara agar Darren merasa jika Grisel hanya berpura-pura.
“Ceroboh sekali dia! Aku harus memberinya hukuman nanti karena sudah membuatmu terluka,” geram Darren.
Viona tertawa dalam hati, kemudian menyentuh dada sang suami untuk menenangkan.
“Sudah tidak perlu, sayang. Aku juga tidak apa-apa, ini hanya luka kecil,” ucap Viona berpura jika tak perlu mempermasalahkan, padahal dia sedang memancing emosi Darren.
“Kamu ini terlalu baik, bagaimana bisa kamu bilang tidak apa-apa.” Darren menatap wajah polos sang istri yang dianggapnya tak mengetahui apa pun serta tak bisa berbuat apa pun.
__ADS_1
Viona melingkarkan kedua tangan di pinggang Darren, lantas menyandarkan kepala di dada pria itu.
“Aku memang baik, sampai membiarkanmu terus berselingkuh. Tapi lihat saja, kali ini aku tidak akan tinggal diam,” gumam Viona dalam hati.