Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Tak direstui


__ADS_3

Farzan pulang ke apartemen dengan wajah lesu. Dirinya sempat berdebat dengan sang ibu karena masalah menolak perjodohan dan memilih menyukai janda anak satu. Namun, Farzan pun akan terus bersikukuh mempertahankan Sandra, bagaimanapun wanita itu adalah pilihannya dan Farzan takkan melepas begitu saja setelah memperjuangkan.


“Aku pikir kamu menginap di rumah orangtuamu,” kata Sandra saat melihat Farzan masuk kamar.


Farzan menggelengkan kepala, kemudian memilih langsung duduk di sofa.


Sandra sendiri merasa heran dengan sikap Farzan, kemudian memilih mendekat dan duduk di sebelah pria itu. Dia ingin bicara tapi saat melihat perban yang membalut luka Farzan tampak merah, membuat Sandra langsung meraih tangan pria itu.


“Kenapa ini merah? Lukamu berdarah lagi?” tanya Sandra panik.


Farzan memandang tangan yang kini sudah dipegang Sandra, lantas mengingat jika dirinya tadi mengepalkan telapak tangan erat sebab mendengar semua penolakan ibunya. Dia kesal karena Anisa tidak mau merestui hubungannya dengan Sandra, membuatnya tadi marah hingga tanpa sadar membuat lukanya mungkin terbuka lagi.


“Aku tidak tahu kalau berdarah lagi,” jawab Farzan dengan ekspresi wajah datar.


Sandra menatap kekasihnya itu, hingga mencebik lantas berdiri untuk mengambil kotak obat. Dia pun membuka perban yang membalut luka di telapak tangan, lantas membersihkan dan mengobati sebelum kembali membalut dengan kain kasa bersih.


“Kenapa bisa berdarah lagi?Apa kamu tidak hati-hati?” tanya Sandra dengan suara lembut, sedangkan tatapan tertuju pada luka Farzan.


“Sudah hati-hati, mungkin memang mau berdarah lagi,” jawab Farzan. Memandang wanita yang kini sedang mencemaskan dirinya.


Sandra melirik sekilas Farzan, menyadari ada yang berbeda dari pria itu.

__ADS_1


“Apa terjadi sesuatu?” tanya Sandra. Baru saja selesai membalut dan kini memastikan perekat menempel sempurna.


“Tidak ada,” jawab Farzan. Tak mungkin jujur jika kedua orangtuanya tak setuju dengan hubungan mereka.


Farzan tak ingin jika Sandra kecewa atau berpikir berlebih tentang dirinya, membuat pria itu memilih tak mengatakan yang sebenarnya demi menjaga perasaan wanita itu.


Sandra memandang Farzan, sebagai wanita tentunya dia lebih peka dengan hal-hal yang terjadi di sekitar.


“Saat pergi tadi, kamu masih terlihat seperti biasanya. Kenapa sekarang kamu lebih murung? Apa ada masalah? Kamu tidak mau bercerita?” tanya Sandra.


Farzan menatap lekat dua bola mata Sandra, sebelum kemudian berbaring berbantal paha kekasihnya itu.


“Mungkin aku sedikit lelah, jadi rasanya tak bersemangat,” ucap Farzan dengan suara lirih.


Sandra memandang Farzan yang berbaring di pangkuannya, tapi tak berani menyentuh pria itu hingga kedua tangan ada di samping tubuh.


Ditatapnya kedua kelopak mata yang kini sudah terpejam, Sandra melihat jika ada kecemasan di guratan wajah kekasihnya itu. Namun, Sandra pun tak berani bertanya lagi karena sejak tadi Farzan seolah menutupi sesuatu.


**


“Aku akan mencari tahu siapa wanita itu! Bagaimana bisa putra kita menyukai janda anak satu? Memangnya sudah tidak ada gadis di negara ini!” geram Anisa yang tidak habis pikir karena keputusan Farzan yang menolak perjodohan.

__ADS_1


“Kamu sabar dulu, Ma.” Harun mencoba menenangkan agar tekanan darah sang istri tidak naik.


“Bagaimana bisa aku sabar sih, Pa?” Anisa memutar posisi duduk, memandang sang suami yang duduk di ranjang.


“Kamu lihat sendiri tadi, Farzan sampai berani membangkang hanya untuk membela janda itu! Aku yakin jika wanita itu memiliki sifat tak baik, hingga membuat Farzan berani membantah ucapanku!” Anisa masih tidak terima dengan pilihan Farzan.


Anisa telah sepakat menjodohkan Farzan dengan salah satu putri temannya yang berasal dari golongan atas. Putri anak temannya seorang pemusik orkestra, bahkan sudah bermain di beberapa negara.


“Mungkin Farzan memiliki pemikiran sendiri, Ma.”


Anisa langsung mendelik mendengar ucapan Harun, menganggap jika suaminya itu mendukung keputusan putra mereka.


“Papa setuju Farzan menikah dengan janda itu, daripada menikah dengan Valeria?” tanya Anisa dengan tatapan tak senang.


“Bukan begitu, Ma. Lebih baik kita beri waktu untuk Farzan berpikir. Jangan gegabah melakukan hal yang bisa membuatnya marah juga,” ujar Harun yang tahu betul bagaimana sifat putranya.


“Pokoknya Mama tidak setuju kalau Farzan bersama janda. Sampai kapan pun takkan setuju jika dia berhubungan dengan wanita yang tak jelas!” tandas Anisa.


Anisa meletakkan kapas yang dipegang ke meja, lantas berjalan ke ranjang. Dia naik dan langsung membaringkan tubuh dengan posisi miring memunggungi sang suami, kemudian memejamkan mata seolah memperlihatkan jika sedang marah dan tak peduli dengan yang lainnya.


Harun mendesau, sungguh menghadapi ketegangan antara Farzan dan Anisa bukanlah hal mudah, apalagi keduanya memang memiliki sifat sedikit keras.

__ADS_1


__ADS_2