
Viona pulang ke rumah setelah satu malam menginap di tempat Cecil, tentu saja ketidak pulangannya membuat kalang kabut Darren yang semalam begitu malu dan murka.
“Dari mana saja kamu? Kenapa ponselmu di matikan?” tanya Darren saat melihat Viona pulang.
Tentu saja Darren tidak ke perusahaan karena terlalu malu akibat video yang diputar semalam. Belum lagi kini channel berita dan gosip yang menyiarkan tentang skandal perselingkuhannya, membuat Darren dihubungi oleh beberapa orang tidak dikenal.
“Aku pikir kamu tidak peduli,” jawab Viona sinis. Dia mengabaikan sang suami dengan terus melangkah menuju anak tangga menuju kamar.
Darren geram karena Viona tak acuh kepadanya. Dia langsung mencekal lengan istrinya itu dan menahan agar tidak pergi.
“Kenapa semalam kamu begitu tega memutar video itu?” tanya Darren dengan nada suara tinggi.
Viona langsung menoleh Darren dengan senyum getir di wajah saat dituduh sangat tega.
“Tega? Kamu mengataiku tega? Lalu bagaimana denganmu? Tega mana antara aku dan kamu, hah? Kamu pikir aku buta? Kamu pikir aku bodoh dan tidak tahu apa-apa? Satu tahun aku memendam semuanya sendirian, berpikir kamu bisa berubah dan kembali lagi kepadaku seutuhnya. Tapi apa? Kamu semakin menjadi-jadi dan menggila dengan selingkuhan-selingkuhanmu!” hardik Viona yang emosi, lantas menepis kasar tangan Darren yang menahan lengannya.
Darren terperangah, jadi selama ini Viona sudah tahu jika dirinya berselingkuh.
__ADS_1
“Aku tidak bodoh, Darren. Jangan kamu pikir aku lemah!” Viona menatap tajam ke Darren.
“Semua ini juga salahmu! Kamu selalu sibuk dengan shopping dan wisata ke luar negeri tanpa memikirkan suamimu. Kamu membuatku kesepian hingga aku berpikir untuk berselingkuh!” Tidak ingin disalahkan karena berselingkuh, Darren pun melempar kesalahan ke Viona.
Viona tertawa keras mendengar tuduhan Darren, bahkan perutnya sampai sakit karena tidak bisa berhenti tertawa. Sungguh Viona merasa sangat lucu dengan segala pembelaan Darren.
Dahi Darren berkerut halus melihat Viona tertawa, kenapa istrinya itu seolah sedang menghina dirinya.
Viona menghentikan tawa setelah merasa puas, hingga menatap tajam Darren yang memandangnya dengan ekspresi wajah keheranan.
“Cinta dan kesetiaan, tidak memandang apakah kamu ditemani atau tidak. Kamu akan setia menanti jika orang yang kamu harapkan belum kembali, itulah kesetiaan. Aku sangat mencintaimu hingga tak sanggup berbagi kesedihan dan penderitaan denganmu. Namun, kamu ternyata mencintaiku sebatas saat kita berada di atas ranjang, tidak ada cinta yang tulus juga keinginan untuk setia. Sudah cukup aku menahan sakit dan ditambah luka yang kamu torehkan. Aku ingin bebas.”
“Tidak ada yang perlu dibahas lagi sepertinya di sini. Aku sudah bicara ke pengacaraku untuk mengajukan gugatan cerai,” ujar Viona kemudian, lantas berjalan lagi untuk pergi ke kamar mengambil beberapa barangnya.
Darren tersadar saat Viona berkata jika akan mengajukan gugatan cerai. Hingga kemudian kembali mengejar Viona yang sedang menaiki anak tangga.
“Apa maksudmu dengan tidak mau berbagi kesedihan denganku? Lalu kenapa kamu tiba-tiba mengajukan gugatan cerai?” tanya Darren sambil mengekor Viona dengan wajah panik.
__ADS_1
“Aku sudah lelah denganmu,” jawab Viona tanpa menoleh Darren.
Viona sudah sampai di lantai atas, berjalan menuju kamar dengan Darren yang masih mengekor. Darren tak suka jika diabaikan, lantas kembali menarik lengan Viona agar berhenti berjalan.
“Jelaskan kepadaku, apa maksud ucapanmu!” Darren bicara dengan lantang.
Viona berhenti melangkah dan menoleh Darren, hingga melihat kalau suaminya itu terkejut memandangnya.
“Ada apa? Kenapa menatapku begitu?” tanya Viona keheranan.
“Vi, hidungmu?” Darren melihat darah mengalir dari lubang hidung Viona.
Viona menyentuh hidung dengan jemari, hingga melihat darah segar di jemari lentiknya.
“Vi.” Darren tiba-tiba merasa bersalah, hingga berpikir jika memang ada yang disembunyikan Viona.
Viona menepis tangan Darren dari lengan, hendak melangkah tapi tiba-tiba kepala terasa pusing. Pandangannya berkunang sebelum akhirnya Viona limbung.
__ADS_1
“Viona!” teriak Darren panik.