
Malam itu Farzan dan Sandra benar-benar pergi ke rumah orangtua Farzan. Keduanya sudah bertekad jika akan meminta restu, meski mungkin akan mendapatkan penolakan.
Farzan sendiri menyadari jika Anisa pasti sudah sangat kecewa karena dirinya pernah berkata tak butuh restu ibunya itu. Namun, semua itu dilakukan Farzan karena semata-mata merasa lelah dengan sikap sang ibu, serta hanya ingin membuat ibunya merasa kehilangan dan berubah pikiran.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Farzan sambil menatap Sandra yang duduk di samping kemudi.
Mobil Farzan sudah sampai di halaman rumah Harun, tapi Farzan dan Sandra belum turun sama sekali.
Sandra terlihat menghela napas kasar, kemudian menoleh Farzan dengan seulas senyum.
“Aku baik,” jawab Sandra mencoba melegakan hati Farzan.
Meski sebenarnya jantung Sandra saat ini sedang berdegup cepat, serta merasa begitu gugup karena hendak bertemu keluarga Farzan, tapi dia juga berusaha tenang agar Farzan pun tak cemas.
“Baiklah, ayo turun!” ajak Farzan sambil melepas seat belt.
Sandra mengangguk kemudian ikut melepas seat belt dan keluar dari mobil.
Malam itu Sandra mengenakan gaun sederhana yang sedikit tertutup dengan lengan sebatas siku dan ujung rok di bawah lutut. Mungkin terlihat kuno dan kolot, tapi baginya pakaian itu pilihan terbaik dan sopan ketika bertemu dengan orang tua.
Farzan mengulurkan tangan, meraih telapak tangan Sandra dan menggenggam erat. Pria itu bisa merasakan kulit telapak tangan Sandra yang dingin, menebak jika kekasihnya itu sebenarnya sedang gugup.
Di dalam rumah. Harun meminta pembantu untuk menyiapkan makan malam karena akan kedatangan Farzan dan Sandra, sedangkan Anisa terus mengomel karena tak senang jika Sandra menginjakkan kaki di rumah itu.
“Kenapa Papa mengizinkan Farzan membawa wanita itu?” tanya Anisa yang tak habis pikir dengan keputusan Harun.
“Ma, kita harus melihat sendiri dan bicara secara langsung agar tahu seperti apa wanita pilihan putra kita,” jawab Harun mencoba menjelaskan karena tak ingin mengambil keputusan hanya dari cerita sang istri.
“Tapi Mama sudah tahu seperti apa wanita itu, Pa. Apa Papa tidak percaya dengan Mama?” tanya Anisa yang tak senang jika suaminya tak memihak kepadanya.
“Bukan seperti itu, Ma. Setidaknya izinkan Farzan mengenalkan secara resmi wanita itu, lalu kita lihat bagaimana sikap dan tutur katanya,” jawab Harun masih bersabar dalam menghadapi sang istri.
“Sikap dan tutur kata? Papa lupa dengan Grisel? Dia begitu manis dalam bicara dan selalu bersikap sopan juga baik, nyatanya apa? Nyatanya apa? Busuk!”
Tampaknya emosi Anisa sedang meluap-luap hingga tak mampu menahan diri bahkan saat sedang bicara dengan suami.
__ADS_1
Harun menghela napas kasar, sudah mengiakan untuk menerima kedatangan Farzan dan Sandra, bagaimana bisa sekarang menolak.
Saat Anisa dan Harun masih berdebat, terdengar suara ketukan pintu kamar.
“Tuan, Nyonya. Mas Farzan sudah datang.” Suara pembantu rumah terdengar dari luar.
Anisa dan Harun sama-sama memandang ke pintu, sebelum kemudian keduanya saling tatap.
“Jika Papa mau menemui mereka, silakan! Mama tidak sudi!” Anisa memilih naik ke ranjang, kemudian menarik selimut dan menutupi tubuh.
Harun mendengkus kasar, kenapa istrinya sangat bersikukuh tak ingin memberi kesempatan untuk Farzan dan Sandra.
Memilih mengabaikan sang istri, Harun pun kemudian keluar kamar untuk menyambut Farzan dan Sandra.
Sandra masih terlihat gugup, bola matanya mengeksplore isi rumah Harun yang tak kalah mewah dengan milik Gilang.
“Mas, Tuan sebentar lagi keluar,” kata pembantu yang tadi memanggil Harun dan Anisa.
Farzan mengangguk dan berterima kasih, dia dan Sandra memang tak duduk sebelum bertemu dengan Harun dan Anisa.
Sandra mengulas senyum kemudian menggelengkan kepala. Farzan tahu jika Sandra masih gugup tapi terus menutupi.
“Kalian datang.” Harun langsung menyapa.
“Pa.” Farzan melihat senyum di wajah sang ayah, hingga menengok ke belakang ayahnya dan tak mendapati Anisa.
Farzan sudah menduga jika Anisa pasti marah kepadanya hingga tak mau menemui. Namun, baginya kini yang terpenting Harun mau bicara dan menerima Sandra dulu.
Tatapan Harun jatuh ke Sandra, memandang penampilan wanita itu dari ujung kaki dan kepala, hingga melihat Sandra sedikit membungkukkan badan memberi hormat.
“Pa, ini Sandra.” Farzan memperkenalkan Sandra secara resmi ke sang ayah.
Sandra mengulurkan tangan ke Harun, lantas memperkenalkan dirinya. “Saya Sandra Kamalia.”
Harun membalas jabat tangan Sandra, kemudian mengajak Farzan dan Sandra ke meja makan.
__ADS_1
“Di mana Mama?” tanya Farzan karena Anisa tak kunjung keluar.
“Ah … tadi mamamu bilang sedikit pusing, mungkin sedang beristirahat,” jawab Harun sedikit canggung.
Sandra dan Farzan tahu jika Harun pasti berbohong, tapi keduanya memilih mengangguk dan tak bertanya lagi.
“Oh ya, kamu bekerja di mana?” tanya Harun saat mereka mulai makan malam, mencoba memecah kecanggungan serta mencairkan suasana.
“Saya bekerja di anak cabang Magnifique yang ada di Paris sebagai desainer senior di sana,” jawab Sandra dengan suara lemah lembut.
Harun cukup terkejut mendengar jawaban Sandra, hingga menatap Farzan kemudian memandang Sandra dengan ekspresi tak percaya.
“Mangnifique?” Harun tiba-tiba merasa kagum.
Sebagai seorang pebisnis, tentu saja Harun tahu seperti apa dan bagaimana sepak terjang perusahaan itu.
“Tidak menyangka kamu bekerja di sana,” kata Harun yang diakhiri tawa kecil.
“Saya bekerja di sana sudah sepuluh tahun, tepatnya saat anak saya masih bayi,” ujar Sandra menjelaskan.
Mendengar kata anak, membuat Harun terdiam. Namun, tawa yang hilang itu kini berubah menjadi senyum hangat di wajah.
“Farzan bilang suamimu meninggal?” tanya Harun menyelidik.
Sandra mengulum senyum, menoleh Farzan kemudian memandang Harun dan menganggukkan kepala.
“Ya, karena kecelakaan. Sejak itu saya diajak oleh mantan atasan suami saya ke kota ini, kemudian memulai kehidupan baru dan bekerja demi menghidupi anak saya,” jawab Sandra yang merasa sedikit sedih jika mengingat masalah meninggalnya sang suami.
Farzan menatap Sandra yang tampak sedih, hingga meraih telapak tangan Sandra yang ada di atas meja.
Harun menaikkan sudut alis melihat putranya bersikap manis dan perhatian ke Sandra di hadapannya, hingga membuat pria itu berdeham karena merasa canggung sendiri.
Sandra terkejut karena Farzan menggenggam tangannya, merasa malu sebab Harun sampai berdeham.
“Pasti berat bekerja dan merawat anak sendirian selama bertahun-tahun. Apa kamu sebelumnya tidak berpikir untuk menikah lagi, jauh sebelum mengenal Farzan?” tanya Harun tiba-tiba.
__ADS_1