Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Tidak ingin terlibat


__ADS_3

Farzan mengemudikan mobil menuju sebuah kafe. Awalnya dia ingin menjemput Chila, tapi Sandra menghubungi jika putrinya tidak di sekolah, membuat Farzan bertanya-tanya apakah ada yang terjadi.


Pria itu berjalan cepat dari parkiran dan masuk ke kafe, dilihatnya Sandra yang sudah duduk menunggu dirinya.


“Apa yang terjadi, kenapa Chila tidak sekolah? Di mana dia sekarang?” tanya Farzan penasaran. Dia langsung memberondong Sandra dengan pertanyaan karena sejak tadi begitu cemas.


Sandra melihat guratan kecemasan di wajah Farzan, lantas mengulas senyum untuk menenangkan.


“Duduklah dulu.” Sandra meminta Farzan duduk dengan tenang, sebelum dirinya menceritakan apa yang terjadi agar Farzan tidak cemas.


“Ada apa, hm?” tanya Farzan karena Sandra belum bicara. Dia duduk berhadapan dengan Sandra, menatap wanita yang baru saja menjadi kekasihnya itu.


“Kamu tahu, jika kehidupanku tidaklah mudah. Setelah aku bicara, aku akan menerima semua keputusan yang akan kamu ambil,” ujar Sandra sebelum menceritakan masalah yang terjadi.


“Ada apa sebenarnya?” tanya Farzan tiba-tiba merasa cemas. Kenapa Sandra mengucapkan kata-kata yang membuat hatinya begitu tak tenang.


Sandra juga bingung harus memulai dari mana, tapi dirinya harus bicara karena tak ingin jika Farzan terlibat dalam masalahnya. Dia mencoba mengatur emosi, menarik napas dalam-dalam dan menghela perlahan, seolah apa yang ingin diceritakan memang begitu berat, atau mungkin sebenarnya dia berat jika sampai Farzan mengambil keputusan yang tak diinginkan Sandra.


“Pria yang pernah dijebloskan ke penjara oleh mendiang suamiku sekarang sudah bebas. Aku tidak tahu dia tahu informasi tentangku dari mana, tapi yang jelas kini dia tahu keberadaanku dan Chila,” ujar Sandra memulai bercerita.

__ADS_1


Farzan diam mendengarkan cerita Sandra, agar tahu masalah apa yang sedang dialami oleh kekasihnya itu. Ditatapnya wajah sang kekasih yang terlihat guratan kecemasan dan juga ketakutan.


“Pagi ini dia mengancamku, kemungkinan ingin balas dendam. Aku terpaksa tidak membawa Chila ke sekolah untuk sementara waktu, demi keselamatannya. Aku tidak ingin hal buruk menimpanya.” Sandra kembali melanjutkan cerita.


Farzan masih diam mendengarkan dengan ekspresi wajah datar. Mencoba menebak ke mana nantinya arah pembicaraan mereka.


“Mungkin pria itu akan melakukan hal nekat untuk membalas dendam, serta mungkin saja dia akan mengincar orang-orang yang dekat denganku, termasuk kamu. Aku tidak ingin kamu terlibat dalam masalahku,” ujar Sandra selanjutnya dengan tatapan sendu, memandang Farzan begitu berat saat mengatakan hal itu.


Mendengar ucapan Sandra tentu saja membuat Farzan sangat terkejut. Dia langsung menggenggam telapak tangan wanita itu begitu erat.


“Bagaimana bisa kamu berkata demikian? Kamu ingin aku meninggalkanmu hanya agar aku tidak terlibat?” tanya Farzan yang tak senang setelah tahu arah pembicaraan Sandra.


Sandra bingung cara menyampaikan, hanya tak ingin pria itu terlibat dan terluka karenanya.


Farzan kini menggenggam satu telapak tangan Sandra dengan kedua tangan, menggenggam erat seolah tak ingin melepaskan.


“Aku memilihmu berarti aku ingin melindungimu, lalu bagaimana bisa kamu memintaku untuk tidak terlibat? Apa kamu tidak percaya kepadaku?” tanya Farzan meyakinkan jika dirinya akan selalu ada untuk Sandra, serta takkan meninggalkan wanita itu meski masalah yang dihadapinya sangat berbahaya.


Sandra kebingungan dengan sikap Farzan, dirinya hanya tak ingin jika ada orang lain yang terluka karena masa lalu mendiang suaminya. Namun, melihat keseriusan di mata Farzan, tentu saja membuat Sandra tidak bisa juga mengabaikan pria itu.

__ADS_1


“Bukan aku tidak percaya, hanya takut jika sampai kamu masuk ke dalam masalah yang sebenarnya kamu tidak tahu,” jawab Sandra.


Farzan menghela napas kasar, semakin mempererat genggaman tangannya.


“Sudah kubilang, memilihmu adalah keputusanku. Jika aku harus terlibat masalahmu, maka aku anggap itu sebagai pembuktian jika aku benar-benar takkan pernah meninggalkanmu,” ujar Farzan mencoba meyakinkan.


Sandra sudah tidak bisa berkata-kata, kemudian memilih mengangguk dan berdoa agar Farzan tidak menjadi salah satu incaran pria itu.


“Lalu, di mana Chila sekarang?” tanya Farzan.


“Dia di rumah Pak Gilang,” jawab Sandra. “Hanya di sana tempat teraman untuknya, mungkin Chila akan tinggal sementara waktu di sana. Kami berencana mencarikan tutor untuk mengajari Chila di rumah.”


Farzan mengangguk paham, kadang merasa cemburu karena tampaknya pria bernama Gilang sangat memperhatikan Chila juga Sandra.


“Jadi aku tidak bisa bertemu Chila untuk sementara waktu?” tanya Farzan. Sedikit sedih jika tak bisa melihat gadis kecil itu.


“Bisa, aku sudah berjanji ke Chila jika akan mengajakmu ke rumah Pak Gilang, kalau ingin bertemu,” jawab Sandra dengan senyum kecil di wajah.


Farzan mengangguk paham, sedikit lega karena Sandra tak serius memintanya untuk pergi.

__ADS_1


“Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu juga akan tinggal di rumah pria itu?” tanya Farzan menyelidik.


Sandra tersenyum, kemudian menjawab, “Tidak, aku akan tetap tinggal di rumah. Aku tidak enak hati jika tinggal di sana, serta setidaknya aku bisa menjaga diri sendiri.”


__ADS_2