Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Pulang ke rumah


__ADS_3

Sandra termangu di ruangannya, tidak fokus bekerja setelah bertemu dengan Anisa. Selama hidupnya berada di kota itu, disebut sebagai perebut suami wanita lain sudahlah menjadi hal biasa baginya.


Namun, entah kenapa saat tuduhan itu terlontar dari Anisa, membuat hatinya sakit. Dia merasa begitu buruk karena telah dicap oleh wanita yang melahirkan Farzan—pria yang mencuri hatinya.


Sandra mengguyar kasar rambutnya ke belakang, baru kali ini frustasi karena dicap sebagai pelakor. Hingga ponselnya berdering, mengalihkan fokus Sandra akan pikiran tentang ucapan Anisa.


“Halo.”


Sandra langsung bicara begitu menjawab panggilan itu, hingga terlihat mengangguk-angguk mengerti.


“Baik, terima kasih.” Dia pun mengakhiri panggilan setelah selesai bicara, hingga terdengar suara helaan napas antara lega dan berat.


**


Sore harinya, Sandra baru saja keluar dari lift saat bertemu dengan Sasa—Cleaning service yang hari itu membantunya melawan Grisel.


“Bu Sandra baru pulang?” tanya Sasa.


“Eh Sasa, iya,” jawab Sandra dengan senyum ramah. “Kamu juga baru mau pulang?” tanya Sandra balik.


“Iya,” jawab gadis itu dengan senyum lebar. Tapi nungguin seseorang,” imbuhnya.


Keduanya bicara sambil berjalan ke arah pintu lobi.

__ADS_1


“Nunggu teman?” tanya Sandra dengan satu alis tertarik ke atas.


Sasa hanya menyeringai kuda mendengar pertanyaan Sandra, sampai Sandra melihat seorang pria yang tak lain kepala keamanan di perusahaan itu mendekat ke arah mereka.


“Sa.” Pemuda bernama Rion itu menyapa Sasa.


“Kamu nunggu dia?” tanya Sandra.


Sasa mengangguk-angguk dengan cepat.


“Bu,” sapa pemuda yang kini berdiri di samping Sasa.


Sandra membalas sapaan pemuda itu dengan sebuah anggukan dengan senyum hangat di wajah. Dia tahu jika pemuda itu adalah teman Kenzo—putra Gilang.


“Tidak usah, kalian pergilah dulu. Aku masih menunggu seseorang.”


Akhirnya Sasa dan pemuda bernama Rion pun pergi meninggalkan Sandra. Wanita itu sendiri lantas keluar dari lobi untuk menunggu Farzan datang menjemput.


Tepat saat Sandra baru saja menginjakkan anak tangga di depan lobi, mobil Farzan tampak melaju memasuki halaman perusahaan, sebelum kemudian berhenti tepat di hadapan Sandra.


Pintu mobil terbuka, Farzan terlihat sedikit melongok keluar.


“Sudah nunggu lama?” tanya Farzan.

__ADS_1


Sandra menggelengkan kepala dengan sedikit senyum, kemudian memilih buru-buru masuk mobil.


Farzan pun kembali melajukan mobil begitu Sandra sudah duduk dan memasang seat belt, mengemudi meninggalkan perusahaan menuju apartemen.


Terasa hening di dalam kabin mobil, jika biasanya Sandra akan menanyakan bagaimana pekerjaan Farzan, kali ini entah kenapa suaranya enggan untuk dikeluarkan.


“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanya Farzan karena merasa Sandra lebih banyak diam dari biasanya.


“Lumayan melelahkan,” jawab Sandra, menoleh sekilas ke Farzan dengan seulas senyum.


Keduanya kembali diam, hingga Sandra menghela napas berat, menandakan jika ada beban yang begitu berat di pundaknya.


“Jendela rumah sudah selesai diperbaiki, aku sepertinya bisa pulang ke rumah malam ini,” ucap Sandra memecah keheningan.


Farzan sangat terkejut mendengar ucapan Sandra, hingga tanpa sadar menginjak pedal rem begitu dalam, sehingga mobil yang dikemudikan pun berhenti mendadak.


Sandra sangat terkejut dengan yang dilakukan Farzan, lantas menoleh takut jika ada yang menabrak atau membuat kemacetan panjang sebab berhenti di tengah jalan.


“Zan!” Sandra mencoba menyadarkan pria itu jika mereka tidak boleh berhenti mendadak.


“Kenapa tiba-tiba ingin balik ke rumah? Bukankah sudah sepakat untuk tinggal di tempatku sampai pelakunya tertangkap?" tanya Farzan seolah tak percaya dengan keinginan Sandra.


Gilang berkata ke Farzan jika akan mencari pelaku penyerangan terhadap Sandra dan Farzan, meski Gilang tidak tahu jika Sandra tinggal bersama Farzan, tapi pria itu berpesan agar mantan suami Grisel itu menjaga Sandra dengan baik sampai pelakunya tertangkap.

__ADS_1


"Akan aku jelaskan, tapi sekarang jalan dulu,” pinta Sandra yang tak ingin menjadi penyebab kemacetan.


__ADS_2