Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Kebahagiaan


__ADS_3

Pernikahan Sandra dan Farzan pun berjalan lancar, keduanya baru saja mengikat janji suci dan kini telah sah menjadi suami istri.


Sandra dan Farzan menemui rekan kerja Farzan yang datang, mereka memberikan selamat, serta tidak jarang yang memuji jika Sandra cantik. Bahkan mengira jika umur Sandra lebih muda dari Sandra.


“Sepertinya saya memang sangat awet muda,” seloroh Sandra menanggapi pertanyaan rekan Farzan.


Tentu saja candaan Sandra membuat tamu-tamu itu tertawa, mereka menilai jika Sandra adalah wanita yang sangat supel dan mudah bergaul. Mungkin hal itu dikarenakan Sandra yang memang sering berinteraksi dengan banyak orang sebelumnya.


Dari kerjauhan, Gilang duduk bersama Liana sambil memandang ke arah Sandra dan Farzan.


“Tugasmu selesai.” Liana bicara sambil memperhatikan ekspresi wajah suaminya. “Dia sekarang sudah ada yang melindungi.”


“Hm ….” Gilang membalas ucapan istrinya dengan sebuah dehaman. “Tapi tetap saja aku harus mengawasinya, aku masih memiliki tanggung jawab menjaga Chila juga. Kamu tidak ingat kalau Herman belum tertangkap.”


Liana menghela napas kasar mendengar sang suami mengingatkan tentang pria yang berusaha mencelakai Sandra. Pria itu dulu pekerja di perusahaan Gilang, kemudian dipecat karena telah melakukan korupsi dan manipulasi, bahkan sampai dipenjara karena telah dengan sengaja menyabotase mobil Gilang, sampai pada akhirnya membuat suami Sandra meninggal.

__ADS_1


“Jangan sampai kamu membahasnya di depan Sandra, atau kebahagiaan yang sedang dirasakan akan sirna seketika dan berubah dengan ketakutan,” ujar Liana dengan tatapan tertuju ke Sandra.


Liana melihat senyum penuh kebahagiaan di wajah Sandra. Wanita yang sudah menjanda sejak bayinya masih merah.


“Tentu saja tidak akan, aku tahu mana yang boleh dibahas dan tidak boleh dibahas untuk saat ini,” timpal Gilang.


Sandra dan Farzan masih berbincang dengan tamu yang mendatangi mereka. Hingga Sandra meminta izin untuk mengambil minum sekalian mencari Chila.


Sandra mencari keberadaan Chila, hingga melihat dari jauh jika putrinya itu sedang bersama Anisa. Sandra terdiam di tempatnya, berdiri memandang Anisa yang sedang memperkenalkan Chila sebagai cucunya, bahkan wanita itu terlihat begitu senang sampai senyum tidak pudar dari wajah Anisa.


“Maaf,” ucap Sandra karena minuman wanita yang ditabraknya tumpah. Bahkan minuman itu mengotori gaunnya.


“Aku yang minta maaf,” kata wanita itu.


Farzan melihat Sandra yang terkena masalah, lantas menghampiri istrinya itu.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Farzan.


“Tidak apa-apa, aku tidak memperhatikan jalan dan menabraknya. Gaunku sedikit kotor saja,” jawab Sandra sambil berusaha membersihkan sisa air di gaunnya.


“Saya benar-benar minta maaf karena tidak hati-hati.” Tamu wanita itu merasa bersalah.


Sandra tersenyum, kemudian berkata jika tidak masalah. Semua tamu sempat memperhatikan ketika melihat kejadian itu, tapi kemudian mengabaikan karena sudah tidak terjadi apa-apa.


“Aku ganti baju saja,” kata Sandra karena gaunnya kotor.


“Baiklah, mau aku temani?” tanya Farzan kemudian.


Sandra menggelengkan kepala, lantas memilih izin ganti pakaian sebentar.


Sandra mengangkat sedikit gaun bagian depannya agar bisa melangkah dengan leluasa. Hingga langkah terhenti saat mendengar suara dari salah satu ruangan yang dilewati. Sandra memilih berhenti sejenak, mendengarkan perbincangan di dalam, hingga kedua telapak tangan tanpa sengaja meremas gaun yang dipegang.

__ADS_1


__ADS_2