
Setelah Grisel datang ke kantor serta memberikan ancaman untuk Farzan, kini dia setiap siang akan menyempatkan diri untuk menjemput Chila di sekolah, semua dilakukan untuk menjaga Chila maupun Sandra dari kegilaan Grisel. Farzan tak tenang jika membiarkan Sandra dan Chila di luar berdua. Dia takut jika Grisel melakukan hal yang tak terduga untuk menyakiti Sandra maupun Chila.
“Seharusnya kamu tidak usah repot-repot menjemput Chila setiap hari, lagi pula hari ini aku memiliki banyak waktu,” kata Sandra saat dirinya bertemu dengan Farzan di sekolah.
“Aku tidak memiliki kesibukan saat jam istirahat, jadi memilih meminta izinmu untuk menjemput Chila,” balas Farzan.
Chila sudah keluar dari gedung sekolah, gadis kecil itu berlari dan langsung menghampiri Sandra dan Farzan. Namun, siapa sangka jika yang digandengnya bukanlah sang ibu, melainkan Farzan.
“Apa kamu lapar? Mau makan siang apa?” tanya Farzan saat Chila menggandeng tangannya.
Sandra sendiri cukup terkejut dengan sikap Chila sekarang, putrinya terlihat sangat menyukai Farzan, seperti dulu menyukai Gilang.
“Kita makan di tempat biasa saja, mau?” tanya Farzan karena Chila tidak menjawab.
Chila hanya mengangguk dengan senyum lebar, tampaknya sangat bersemangat untuk bisa pergi dengan Farzan.
Sandra sendiri hanya bisa mengikuti permintaan Chila, karena baginya Chila adalah prioritas utama.
“Ayo!” ajak Farzan pada Sandra.
Mereka pun pergi bersama, menuju kafe yang biasa didatangi Sandra dan Chila.
“Apa kamu masih memikirkan ucapan Grisel tempo hari?” tanya Farzan pada Sandra, jujur saja dirinya merasa tak enak hati karena Grisel bermulut pedas.
“Ucapan mana?” tanya Sandra balik menoleh Farzan, sebelum kemudian ingat kejadian di kafe. “Ah … itu. Aku sudah melupakannya, lagi pula aku juga sudah membalasnya,” ujar Sandra kemudian.
Farzan tersenyum, ternyata ketakutannya jika Sandra akan menghindar darinya akibat Grisel tak terbukti.
__ADS_1
“Aku pikir kamu akan menghindar dan menjauhiku karena ulah juga sikap Grisel,” kata Farzan kemudian sambil mengemudikan mobil.
Sandra terkejut mendengar perkataan Farzan, sebelum kemudian malah tertawa.
“Untuk apa aku melakukannya, dia dan kamu adalah dua karakter yang berbeda. Kamu sendiri sudah mau berusaha membantu melindungi Chila, lantas untuk apa aku marah padamu. Lagi pula, apa yang dia katakan, tidak ada hubungannya denganmu. Dia yang bersalah karena telah mengeluarkan kata pedas, bukan berarti aku juga memvonis dirimu salah karena kamu mantan suaminya. Intinya dia adalah dia, dan kamu adalah kamu. Aku tidak akan menyangkutpautkan satu sama lain,” ujar Sandra panjang lebar.
Farzan terkejut dengan ucapan Sandra, hingga tanpa disadari degupan kecil di dada terdengar begitu cepat. Kenapa wanita itu bicara sangat bijak, bahkan Sandra memiliki pemikiran yang sangat luas dan tak sesempit pemikiran Grisel. Farzan tak bisa berkata-kata lagi, dia semakin jatuh cinta pada wanita yang berumur lebih tua darinya itu.
**
Mereka bertiga pun pergi ke kafe yang biasa didatangi, hingga saat baru saja masuk, Joya—mantan kekasih Farzan, melambai dan memanggil nama Sandra.
Tampaknya Joya tidak tahu jika Sandra datang bersama Farzan, hingga memanggil wanita itu begitu saja.
“Joy.” Sandra mengulas senyum melihat Joya, melihat wanita itu mengayunkan tangan seolah memintanya bergabung.
“Ada apa?” tanya Farzan.
“Ada Joya dan suaminya,” jawab Sandra.
Farzan tidak merasa gugup atau kesal, karena sejatinya dia sudah tidak pernah lagi menaruh perasaan pada Joya.
“Joya mengajakku bergabung dengan mejanya, bagaimana?” tanya Sandra yang tentu saja memikirkan perasaan Farzan, hanya takut jika pria itu merasa tak nyaman.
“Tidak apa-apa, kita duduk bersama mereka,” jawab Farzan.
Sandra mengangguk meski sedikit ragu, lantas menoleh Joya yang tampak menunggunya menghampiri meja.
__ADS_1
Akhirnya Sandra mengajak Chila berjalan masuk, disusul oleh Farzan yang berjalan di belakang Sandra.
Sandra melihat Joya yang tampak terkejut, tapi kemudian bersikap biasa kepadanya. Farzan sendiri juga tak menunjukkan rasa gugup atau apa pun, karena sejatinya dia tidak memiliki perasaan apa pun lagi terhadap Joya. Mereka pun makan bersama, meski ada Joya terlihat salah tingkah sebab sang suami tahu jika pria yang berhadapan dengan mereka adalah mantan kekasihnya waktu kuliah.
**
Sandra kembali ke perusahaan diantar Farzan setelah mengantar Chila, tapi hanya sampai di depan gerbang pintu masuk perusahaan. Dia lantas berjalan menuju gedung karena jam istirahatnya hampir habis.
Namun, sebelum sampai di depan lobi. Seseorang tiba-tiba menarik lengan Sandra, membuat wanita itu menoleh karena terkejut.
“Kamu?” Sandra langsung melepas paksa tangannya yang di tangan.
“Jadi kamu benar-benar menjalin hubungan dengan Farzan?” Ternyata Grisel sengaja datang untuk menemui Sandra.
Sandra yang tahu bagaimana hubungan Farzan dengan Grisel, serta bagaimana sifat wanita itu, jelas takkan menghadapi Grisel dengan emosi. Dia menatap Grisel dengan senyum kecil di wajah, seolah tak takut pada wanita itu.
“Kalaupun aku memiliki hubungan dengannya, lantas apa aku harus melapor padamu,” ucap Sandra begitu santai.
Grisel terlihat tak senang melihat Sandra yang seolah menantang dirinya. Dia menyipitkan mata dan maju hingga berdiri tepat di hadapan Sandra.
“Aku hanya memperingatkanmu, jangan dekat dengannya karena bagaimanapun dia masih berstatus suamiku. Kami belum sah bercerai, jadi dia masih terikat denganku,” ujar Grisel penuh penekanan. Jika dirinya tidak bisa membuat Farzan menjauhi wanita, maka dirinya yang akan membuat siapapun wanita di sekitar Farzan menjauh dari pria itu.
“Oh, maaf ya. Aku tidak ada urusannya dengan hubungan kalian mau sah bercerai atau tidak. Selama Farzan tidak melarang atau meminta aku untuk menjauhinya, maka selama itu pula aku takkan menghindarinya,” balas Sandra begitu tegas. Dia paham dengan maksud Grisel, sadar jika wanita seperti Grisel takkan melepas Farzan begitu saja, terlebih karena Farzan yang menggugat cerai dan bukan sebaliknya.
Grisel semakin geram dengan Sandra yang sedang melawannya. Ia mengangkat tangan dan hendak menampar Sandra, mungkin sekalian membalas dendam karena pernah ditampar oleh wanita satu anak itu.
Namun, siapa sangka jika ada yang mendorong lengannya dari samping, membuat Grisel terdorong ke samping dan belum sempat mendaratkan tangan di pipi Sandra.
__ADS_1
Sandra pun terkejut karena ada yang mendorong Grisel, lantas menoleh dan melihat Sasa berdiri dengan memasang wajah tak suka saat menatap Grisel.