
Anisa pergi ke rumah sakit bersama Chila dan Harun. Wanita itu sudah tidak sabar melihat cucunya dari sang putra, cucu yang akan menjadi kebanggaan serta harapan penerus keluarga Abrisam.
Di kamar inap. Bayi Sandra sudah diberikan ke orangtuanya setelah memastikan kondisi bayi baik pasca lahir karena operasi caesar.
“Dia tampan sekali. Lihat hidungnya sepertimu,” ucap Sandra sambil mengamati hidung mungil bayi yang digendongnya.
Farzan duduk di samping Sandra, ikut mengamati bayi mereka yang begitu lucu.
“Bibirnya seperti bibirmu,” balas Farzan sambil menyentuh bibir bayi mereka dengan telunjuk, membuat mulut bayi bergerak-gerak karena sentuhan yang membuat geli.
“Mama.” Chila masuk bersama Anisa dan Harun.
Sandra langsung tersenyum saat melihat kedatangan Chila. Dia bahkan melambai dan meminta Chila untuk mendekat.
“Mau lihat adik bayi?” Farzan turun dari ranjang, kemudian mengangkat tubuh Chila dan mendudukkan di samping Sandra.
Chila begitu senang melihat adiknya lahir. Dia menusuk-nusuk pipi sang adik yang tampak menggemaskan.
__ADS_1
“Lahirannya lancar, ‘kan?” tanya Anisa yang tidak sabar ingin mengendong bayi Sandra.
“Sandra harus operasi caesar, Ma. Karena tekanan darah yang tinggi, juga usia Sandra yang memang tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal,” jawab Farzan.
“Operasi atau normal sama saja, yang terpenting semua sehat,” ucap Anisa tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan karena mendapatkan apa yang selama ini dinanti-nanti.
Sandra tersenyum mendengar ucapan Anisa, kemudian menatap bayinya yang masih memejamkan mata.
“Boleh Mama gendong?” tanya Anisa mengulurkan kedua tangan.
Anisa menimang bayi Sandra, terlihat binar kebahagiaan saat bisa menggendong cucu kandungnya sendiri. Tujuh tahun pernikahan Farzan dan Grisel, Anisa selalu mendamba ada suara tangis bayi menyentuh gendang telinganya, kini semua impiannya itu malah diwujudkan oleh Sandra yang baru dinikahi Farzan satu tahun ini.
“Dia sepertimu saat bayi, Zan.” Anisa bicara dengan tatapan masih tertuju ke bayi dalam gendongan.
“Benarkah?” Farzan mengangkat tubuh Chila, memangkunya sambil duduk di samping Sandra.
Farzan merangkul pundak Sandra, bahkan mengecup lembut kening sang istri. Dia menunjukkan rasa kasih sayang yang begitu besar, serta rasa terima kasih karena istrinya telah melengkapi kebahagiaan keluarga mereka.
__ADS_1
“Akan kamu beri nama siapa putramu?” tanya Harun.
“Anzel Evano Abrisam.” Farzan menjawab pertanyaan sang papa, kemudian menatap wajah sang istri yang terlihat begitu bahagia. “Pemberian Tuhan yang paling indah dan penuh kebahagiaan.”
“Owh … baby Anzel, Oma akan selalu menyayangimu juga kakak Chila. Kalian akan membuat rumah Oma begitu berwarna.” Anisa mendekatkan wajah baby Anzel ke arahnya, kemudian menyentuhkan ujung hidung mereka.
Farzan mencium pucuk kepala Chila, sebelum kemudian beralih mengecup kening sang istri. Tidak ada hari yang paling membahagiakan selain hari ini, di mana keluarganya utuh penuh cinta dan kasih sayang.
Benar kata orang, tidak akan ada pelangi yang indah setelah badai. Farzan sudah menjalani hidup penuh badai dan godaan, tapi kesabarannya kini membuahkan hasil yang begitu membuat bahagia. Dia berjanji untuk setia, dan kesetiaan itu terbalas bersamaan dengan cintanya ke wanita yang tidak pernah dia pandang statusnya. Cintanya tulus dan itu mendapatkan balasannya sekarang.
**
Kesabaran dan usaha, pada akhirnya akan memberikan sebuah hasil yang tidak kita duga. Terkadang apa yang kita harapkan, tidak seperti apa yang kita dapatkan. Namun, dibalik itu ada sebuah hikmah dalam setiap kejadian. Penantian, harapan, serta cinta yang tulus, membuahkan hasil yang manis.
Semua akan indah pada waktunya, saat kita mau berusaha.
TAMAT
__ADS_1