Eva My Life Line

Eva My Life Line
rumah sakit.


__ADS_3

Aku janji akan bawa dia kepada mu bu, dan tidak akan aku lepaskan dia saat dia sudah menjadi milik ku nanti.


.


.


.


.


Memasuki ruangan ICU saat satu jam yang lalu mendapatkan kabar dari adiknya kala ibunya sudah membuka mata, tapi dengan masih memakai alat bantu pernafasan.


Terengah-engah memasuki ruangan itu dengan pandangan pertama melihat ibunya yang membuka mata dengan posisi setengah duduk.


Berjalan dengan langkah cepat dan duduk tepat di depannya, setelah adiknya memutuskan untuk berdiri dari duduknya agar bergantian dengan kakaknya.


Menatap ibunya dengan tersenyum dan mata yang berkaca-kaca serta memegang tangan ibunya yang masih lemah. Menciumnya dengan membolak-balikkan telapak tangan ibunya beberapa kali, merasa sangat bahagia kala ibunya membuka matanya.


Menatap Anak lelakinya dengan tersenyum dengan bibir yang begitu pucat dan mata yang yang juga mulai menggenangkan air.


" Mario merindukan ibu." ucapnya dengan suara serak dan menempelkan tangan ibunya di pipinya.


" Ibu juga merindukan mu nak." jawabnya dengan tersenyum dan mengusap pipi putranya.


" Ibu tidak merindukan ku.!" sela gadis yang masih berusia enam belas tahun merajuk pada ibu dan kakaknya, membuat keduanya menatap ke arah gadis itu dengan tersenyum dan tertawa kecil.


Mendapati adiknya yang cemberut membuat Mario menyuruhnya untuk mendekat pada ibunya dan memeluk bersama di dalam tubuh ibunya.


" Ibu Merindukan, anak-anak ibu." ucapnya dengan membelai rambut putri dan putranya.


" Maria sayang ibuk." ucap putri remajanya dengan menangis.


" Ibu juga sayang dengan Maria." dengan mencium puncak kepala putrinya.


Menangis dalam pelukan ibunya, merasa bahagia kala ibunya benar-benar sudah bangun dari komanya. Melepaskan pelukannya dan menghapus air mata putrinya, beralih menatap putranya yang menghapus air mata dengan menundukkan kepala dan mengusap rambut putranya dengan lembut.


Bercerita panjang panjang lebar dengan mereka yang tertawa saat Maria bercerita tentang teman yang ada di sekolahnya, hingga waktu begitu cepat dan dokter pun menyuruh mereka untuk memberikan istirahat bagi pasiennya yang belum sembuh total dari komanya


Maria yang tidak ingin pulang dan masih ingin bersama ibunya. Dokter pun mengizinkannya asalkan tidak membuat pasiennya terganggu.


Maria yang merasa kelelahan akhirnya pun tertidur di sofa panjang dengan menghadap ibu dan kakaknya.


" Adik mu sudah tertidur." kata Ibu Mario dengan melihat wajah putrinya.

__ADS_1


" Mungkin dia lelah buk." jawabnya. " Ibu, istirahatnya." pinta Mario


" Ibu ingin mengobrol panjang sekali dengan mu malam ini." pinta ibu Mario dengan menatap putranya.


" Dokter, menyarankan ibu untuk Istirahat. kita lanjut besok lagi ya buk." ujarnya dengan lembut dan mendapatkan penolakan dari ibunya dengan menggelengkan kepala.


" Kamu pernah bilang pada ibu kan, jika kamu sudah mempunyai calon istri." tanya Ibu Mario membuat Mario sedikit terkejut.


" Ibu mendengarkan perkataan ku." tanya Mario dan di anggukkan oleh ibunya.


" Setiap Anak-anak ibu bercerita ibu akan mendengarkannya." jawabnya. " Apa dia masih bersama kamu."


" Sudah dua minggu aku tidak bertemu dengannya buk." jawab Mario lirih.


" Kamu mencintainya Rio.?" tanya ibunya, menatap ibunya dan menganggukkan kepalanya.


" Cinta butuh pengorbanan Rio? Jika kamu mencintainya carilah dia, kejar cintanya dan bawa dia untuk menemui ibu mu jika dia sudah menerima cinta kamu." kata ibu Mario.


" Jangan Menyerah ibu percaya dia akan menjadi milik putra ibu." dengan mengusap lembut lengan putranya serta tersenyum untuk menyemangatinya, membuat Mario tersenyum dan mengangguk.


" Sekarang ibu sangat senang bisa melihat putra dan putri ibu, jaga diri mu dan adik mu baik-baik ya nak. Ibu sekarang ingin tidur dengan tenang."


" Tidur lah buk, kita bisa melanjutkan bes-." ucap Mario yang menggantung kala mendengar bunyi mesin detak jantung yang begitu nyaring dengan tanda garis yang begitu lurus, menatap mesin itu dan beralih menatap ibunya yang menutup mata dengan tersenyum serta merasakan tangan ibunya yang terkulai lemas dan dingin.


" Ibu kenapa kak.?" tanya panik Maria


" Panggil dokter Maria.! cepat.!!" perintahnya dengan berteriak, Maria pun segera berlari keluar ruangan berteriak mencari suster untuk segera menolongnya.


" buk bangun buk, jangan tinggalin Mario buk! aku mohon bangun buk.!!" ucap Mario dengan menangis dan mengusap tangan ibu untuk memberikan kehangatan.


Dua dokter serta dua suster berlari begitu cepat dan membuka pintu dengan kasar, dan menyuruh Mario dan adiknya untuk keluar dari ruangan.


Sempat Marah karena Mario tidak boleh untuk tetap berada di samping ibunya, dengan pengertian seorang suster akhirnya pun Mario dan adikknya keluar dari ruangan dan menunggunya dengan berdiri di depan pintu yang terdapat jendela dan memperlihatkan jelas bagaiman ibunya sedsng di tangani oleh dokter dan suster.


" Kak.?" ucap Maria dengan menangis di samping Mario.


Memeluk adiknya dengan erat dan mengenangkannya dalam dekapannya dengan masih menatap dalam ruangan.


" Ibu akan baik-baik saja." ucap Mario dengan mata yang terpejam hingga meneteskan air mata.


****


Malam yang begitu pekat saat tidak ada bulan dan bintang, menatap langit yang mulai hujan dengan rintik-rintik.

__ADS_1


sepasang suami istri yang sedang berada di balkon dengan di temani teh serta susu hangat untuk ibu hamil.


" Ibu Mario sudah siuman.?" ucap Arzan dengan mengusap lembut bahu istrinya yang dia rangkul.


" Benar kah.!" kata Eva dengan senang dan menatap wajah suaminya.


" Iya, kamu mau me-." belum sempat untuk mengucapkan ponsel Arzan berbunyi, mengambilnya dari meja dan melihat nama penelpon. Membuatnya mengerutkan kening kala Mario menelponnya di malam hari dan segera mengangkatnya.


" Ya Mario." ucap Arzan, dan tersentak kecil serta membulatkan mata saat mendengar ucapannya Mario dari sebrang sana.


Melihat tubuh Arzan yang menegang dan mata yang membulat saat menatapnya. Membuat hati Eva merasa tidak tenang.


" Aku akan ke sana." jawab Arzan dengan mematikan ponselnya.


" Aku akan ke rumah sakit." ucap Arzan dengan berdiri membuat Eva juga ikut berdiri.


" Ada apa.?" tanya Eva dengan memegang tangan Arzan.


" Mario sedang membutuhkan ku."


" Aku ikut." pinta Eva


" Ti-."


" Aku ikut Ay.!!" pintanya lagi dengan memaksa membuat Arzan dengan terpaksa menyetujuinya.


Mengambil kunci mobil dan turun dari tangga tidak begitu cepat karena Arzan juga menjaga istrinya agar tidak berlari saat turun dari tangga.


Mengendarai mobil dengan kecepatan sedang dan beruntungnya jalanan tidak terlalu ramai hingga mereka bisa sampai dengan cepat di rumah sakit.


Memarkirkan mobil dan berjalan dengan bergandengan tangan saat memasuki lorong rumah sakit.


" Mario.!" teriak Arzan saat melihat Mario yang ada di depan pintu ruang pasien dengan memeluk adiknya.


.


.


.


.🐨🐨🐨


Mau tamatin Eva dulu baru nanti akan buat cerita kisah Mario. 😁😁

__ADS_1


kalau enggak males ya.😅


__ADS_2