
Hidup itu memang keras, sekerasnya juga saat aku berjuang untuk mendapatkan mu.
.
.
.
.
" Kau ingin menikah dengan cucu ku?" tanya pria tua, yang sedang duduk di depan sepasang kekasih tiga puluh menit yang lalu saat pria muda itu mengengkapkan ingin menikahi cucunya.
Siapa lagi jika bukan Mario, tiga hari yang lalu mendapatkan lampu hijau dari Anna untuk datang ke rumahnya, menemui kakeknya untuk melamarnya.
Menepati janjinya pada wanita yang ada di sampingnya untuk segera melamar Anna dengan datang sendiri tanpa membawa apa-apa. Ya! walaupun dia sangat gugup saat memasuki rumah Anna.
Bukan takut pada kakek Anna, hanya saja dia belum pernah meminta melamar anak orang langsung di hadapan orang tuanya. Jika masalah pekerjaan Mario sangat percaya diri, tegas dan pintar. Tapi lihat sekarang, dia begitu gugup dan masih bingung harus mengatakan apa lagi saat dia berhadapan di depan calon mertuanya.
Mempresentasikan dalam meting begitu gampangnya, menggoda Anna juga begitu tidak sulit. Tapi ini! sungguh rasanya dia begitu gugup dengan jarinya yang mengetuk-ngetuk di pahanya dan jari kaki yang di goyang-goyangkan.
Pernah bertemu beberapa kali dengan pria tua yang ada di hadapannya ini, tapi saat acara penting dan meeting bersama, Mario tidak segugup seperti ini. Malah pria tua itu yang seperti gugup saat berhadapan dengan Mario dan Arzan.
Memang sempat sedikit cemas kala Mario datang ke rumahnya dan takut jika cucunya berbuat salah dengan perusahaan Arzan.
Bukan cemas yang pria tua itu dapat, tapi keterkejutan saat Mario melamar cucunya hingga pria tua itu kembali bertanya pada Mario.
" Iya, saya ingin menikahi cucu anda Tuan Varman." jawab Mario dengan tegas, walaupun sebenarnya dia gugup.
Kali ini Tuan Varman lebih tegas dan sedikit menakutkan, karena ini bukan masalah pekerjaan tapi masalah lamaran dadakan dari seorang pria yang menjadi patner kerjanya.
Sebagai kakek Anna bukannya dia harus seleksi untuk mendapatkan calon yang benar-benar mencintai dan menyanyangi Anna, agar hidup cucunya itu tidak sama seperti ibunya, yang menderita akibat perbuatan suaminya hingga membuatnya depresi dan meninggal.
__ADS_1
Posesif, mungkin bisa di bilang iya. Karena Anna satu-satunya yang dia punya dalam dunia ini, di saat semuanya pergi meninggalkan dia sendiri.
" Atas dasar apa kau ingin melamar cucu ku.?" tanya Tuan Varman dengan menatap Mario
" Saya mencintai cucu Anda." jawab Mario dengan saling menatap, tidak ada keraguan dalam mata Mario saat Tuan Varman menatap matanya.
" Hanya cinta.!" dengan tersenyum miring, membuat Anna dan Mario mengerutkan keningnya.
" Yang di butuhkan bukan hanya cinta tapi juga uang. Jika kau ingin menikahi cucu ku, apa yang bisa kau berikan jaminan untuk cucu ku." ujarnya lagi.
" Jaminan.!" ucap Mario.
" Iya, aku ingin kau memberi jaminan lima puluh persen dari perusahaan mu untuk cucu ku, jika kau macam-macam pada cucu ku, aku bisa mengambil haknya kan." ucapnya lagi membuat Anna membulatkan mata.
" Kek.!" pekik Anna.
" Saya hanya mempunyai beberapa swalayan mungkin itu bisa membuat jaminan untuk saya bisa menikahi cucu anda, Tuan." jawab Mario, membuat Anna menatapnya tidak percaya apa yang Mario ucapkan. Merelakan beberapa swalayannya untuk kakeknya agar Mario bisa menikah dengannya.
" Jika aku ingin jaminan saham dari perusahaan tempat kau bekerja." saut cepat Tuan Varman. Menajamkan mata ke arah pria tua itu karena menginginkan saham perusahaan Arzan.
" Kau bisa kan mengalihkan sebagian sahamnya atas nama cucu ku." pancingnya, yang membuat Mario semakin menajamkan mata ke arah Tuan Varman.
Anna yang mendengar perkataan kakeknya begitu terkejut dan tidak percaya akan apa yang di ucapkan kakeknya. Ini seperti bukan kakeknya yang rakus akan kekayaan dan kekuasaan.
" Maaf, tapi saya bukan seorang penghianat. Jika Anda mau, ambil saja semua yang saya punya, tapi jika Anda menolaknya saya juga tidak akan keberatan." jawab Mario dengan menahan Amarah. " dan tentang lamaran saya pada cucu Anda memang saya serius, saya akan tetap memperjuangkannya meskipun dengan cara yang sedikit memalukan.!" ujarnya lagi, yang membuat Anna dan Tuan Varman menatapnya.
" Maksud kau apa.!" sahut Tuan Varman.
" Mungkin dengan menghamili Anna saya bisa menikahinya." jawab Mario dengan santai dan tersenyum. mendengar ucapan Mario, Tuan Varman sedikit terkejut dan menajamkan mata saat Mario tersenyum kepadanya, sedangkan Anna membulatkan mata karena tidak percaya akan perkataan Mario yang absurd begitu percaya dirinya saat mengucapkan itu di depan kakeknya yang membuat suasana semakin runyam.
Mario hanya tersenyum saat melihat Tuan Varman seperti menahan amarah dan menatapnya tajam dengan rasa permusuhan, pancingan kontroversi yang membuat siapa saja marah akan perkataannya.
__ADS_1
" Saya orang yang bukan sebejat dan b*jingan seperti itu Tuan pada wanita." kata Mario
" Wanita bukanlah pakaian yang bisa saya pakai dan lepas dengan semau saya, mereka terhormat dan memiliki haknya. Dan saya akan menghormatinya, seperti saya menghormati dan menyayangi ibu dan adik saya." tegas Mario dengan menatap Tuan Varman.
Tersenyum saat mendengar tutur kata pria muda yang ada di hadapannya, begitu tegas dan percaya akan cintanya pada Anna yang bisa membuat cucunya bahagia dan mampu melindungi Anna dari orang-orang yang jahat saat dirinya sudah tidak ada di dunia ini. Menghembuskan nafas lega sebelum mengucapkan sesuatu pada Mario.
" Kau harus tau, saya pria tua yang hanya mempunyai satu orang yang paling penting dalam hidup saya ini, hidup yang membuat saya bisa kembali bangkit dan semangat kembali. Saat dua orang dalam hidup saya sudah pergi dari dunia ini untuk selamanya. Anna, cucu saya yang sangat berharga dan dia adalah penerus perusahaan saya dan tidak akan saya biarkan dia jatuh di tangan orang yang tidak tepat." dengan menjeda ucapannya.
" Saya terkejut, kau datang untuk melamar cucu saya. Bukan saya tidak senang, saya merasa sangat senang sekali karena kepercayaan Tuan Arzan melamar cucu saya. Mencoba untuk menguji mu seberapa besar kau cinta dan mengabdi pada Tuan mu, pemikiran mu sangat dewasa dan tegas meskipun ucapan mu hampir saja membuat ku marah karena ingin menghamili cucu ku terlebih dulu." gerutu Tuan Varman dengan, membuat Mario meringis karena malu.
" Apa Tuan menerima lamaran saya untuk menikahi cucu Anda." tanya Mario
" Iya, saya menerima lamaran kamu." jawab Tuan Varman dengan tersenyum dan mengangguk.
Mario yang mendapat kan restu dan tidak di tolak lamarannya membuatnya ingin sekali berteriak, mengatakan yes tapi ia pendam dalam hati. Mungkin karena takut imagenya yang tegas dan dingin berubah menjadi pecicilan di hadapan calon mertuanya.
Anna yang mendengar perkataan kakeknya yang sudah merestui dan menerima lamaran Mario begitu senang hingga dia berjalan ke arah kakeknya dan memeluk erat kakeknya dari samping dengan rasa bahagia.
" Terima kasih kek." ucap Anna dengan mencium pipi kakeknya.
" Kakek hanya ingin kamu bahagia dan dia adalah orang yang tepat." kata Tuan Varman dengan mengusap punggung Anna dan mencium puncak kepala cucu kesayangannya.
Menatap ke arah kekasihnya yang begitu tegas dan dewasa dalam menghadapi situasi yang menegangkan di dalam ruang tamunya. Antara dia dan kakeknya tadi, dan dia tersenyum saat Mario juga tersenyum melihatnya
.
.
.
.
__ADS_1
.🐨🐨🐨🐨
Wiihhh ada yang enggak sabar icik-icik ehem-ehem nich.😅😅