
Sifat kamu berbeda dengannya, tapi entah kenapa aku merasa nyaman bila dekat dengan mu seperti saat aku masih bersama dia.
.
.
.
Tersentak kecil saat menyadari tubuhnya yang berada di ranjang empuk dengan selimut yang lembut serta ruangan putih yang klasik.
saat Eva sudah duduk di ranjang dan memijat sedikit kepalanya yang terasa berat serta beralih melihat jam dinding yang menunjukkan jam sudah tengah malam.
Begitu terkejutnya saat menyadari ia tertidur di waktu jam kerja, dan kenapa ia bisa tertidur di kamar Arzan.
ia yang sudah berdiri dan akan meninggalkan kamar Arzan tanpa sengaja melihat tubuh Arzan yang berbaring di sofa saat memunggunginya.
berjalan untuk melihat Arzan yang tertidur lelap dengan tangan yang bersendekap di dada, menatap begitu lama hingga Eva tanpa sadar melengkungkan bibirnya. ia pun mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Arzan yang tertidur di sofa.
" Terima kasih sudah membuat ku sedikit tenang." ucap lirih Eva dan beranjak pergi dari kamar Arzan.
Saat berada di lantai bawah ia mendapat sedikit teguran pada pengawasnya karena Eva tidak ada di ruangannya dan tidak bekerja sama sekali membuat pekerja lain sedikit kesulitan akan banyaknya permintaan pengunjung pada akhirnya Eva harus lembur hingga pagi.
Merenggangkan otot saat tubuhnya merasa sedikit sakit akibat tidur di sofa, perlahan Arzan bangun memijat tengkuk kepalanya yang sedikit sakit dan beralih menatap selimut yang berada di lantai.
menyadari jika itu selimut di ranjang ia pun melihat ke arah ranjang yang sudah rapi dan kosong, ia pun sedikit tersenyum jika semalam ia dan Eva tertidur di satu ruangan
melihat jam dinding yang menunjuk kan jarum di angka lima pagi, ia pun segera bergegas untuk membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya untuk beribadah.
Arzan yang sering tertidur di hotelnya ia memilih untuk menyimpan sebagian pakaiannya di sana agar ia tidak bermondar-mandir ke rumah utama hanya untuk berganti pakaian.
setelah rapi ia memilih untuk turun ke lantai bawah meninjau hotel dan menikmati teh di pagi hari sebelum beraktivitas.
pintu lift yang sudah terbuka itu memperlihatkan suasana di pagi hari yang sedikit lenggang, berjalan menuju restoran tanpa sengaja ia melihat Eva yang berafmda di lobby.
"Eva?" sapa Arzan
Eva yang mendengar namaya di panggil itu pun menatap ke arah sumber suara. hingga semua karyawan hotel menunduk memberi hormat pada Arzan, Eva pun juga mengikutinya.
" Jam berapa kok sudah masuk kerja." tanya Arzan saat menghampirinya.
__ADS_1
" Saya semalam lembur pak, dan ini akan pulang." jawab Eva jujur
" Siapa yang menyuruh kamu lembur." Tegas Arzan dengan menatap tajam, sedikit mengerutkan kening saat Arzan menatapnya dengan tajam dan membuat semua karyawan lain takut dan hanya menunduk.
" Jawab siapa yang menyuruh kamu lembur.!" ucapnya lagi,
" Arzan." lirih Eva dengan menggelengkan kepala, mendesah keras karena Eva tak ingin menjawabnya.
" Aku akan mengantar mu pulang." ucap Arzan dan menarik tangan Eva untuk menuju bastmen parkiran.
banyak karyawan yang sedang menatap Eva saat tangannya di genggam oleh Arzan, membuat semua karyawan hotel mulai bergosib tentang dirinya. tentang ada hubungan apa dia dengan bosnya.
Arzan dan Eva yang sudah berada di dalam mobil itu pun saling terdiam dan Arzan mulai menelpon asistennya menyuruhnya untuk menanyakan pada atasan Eva tentang Eva yang lembur bekerja.
" Jangan begitu, Ini salah ku karena semalam tertidur saat lagi bekerja." ucap Eva yang melihat Arzan telah selesai dengan menelpon.
" Aku sudah bilang pada semua atasan kamu untuk tidak membuat kamu lembur, apa lagi kerja sift malam." jawab Arzan, membuat Eva melototkan mata
" Tapi itu tidak adil Zan, kamu mau membuat aku di benci sama karyawan kamu."
" Kalau begitu berhenti lah bekerja!" seru Arzan.
" Apa!" pekik Eva " Aku enggak mau dan kenapa aku harus berhenti bekerja.!"
******
kediaman Tuan Gio
pagi yang terbiasa penuh canda tawa dari keluarga harmonis merasa sedikit sepi.
Revan yang mulai tinggal dengan orang tuanya hanya diam dan tak terlalu berbicara. meja makan yang sunyi hanya terdengar denting garpu dan sendok yang tergores dengan piring.
"Revan.?" sapa mama Vanie
"iya" jawab Revan dan menatap mamanya.
" Nanti ikut fitting baju ya sama Bella." pinta mamanya.
" Aku sibuk ma."
__ADS_1
" Hanya sebentar sa-"
" Mama bawa contoh saja kemeja aku." ralat Revan dan pergi meninggalkan meja makan tanpa berpamitan pada orang tuanya.
Nyonya Vani dan Tuan Gio sempat tertegun dengan sikap prilaku putranya yang tidak pernah membantah atau melawan kepadanya, apa lagi saat sedang berbicara tak pernah dia meninggalkannya tanpa berpamitan. Sifat putranya itu berubah saat ia sudah memutuskan hubungan dengan seorang janda
Revan yang sudah berada di dalam mobil dengan segera meninggalkan rumah utama menuju pabrik untuk mendinginkan suasana hatinya.
Sungguh rasa marah pada ke dua orang tuanya hanya ia bisa pendam dan tidak ingin melukai hati mereka.
Menerima perjodohan hanya terpaksa untuk menyenangkan ke hati mamanya, tapi mamanya pun tidak pernah tau akan hatinya yang hancur karena perjodohan yang mereka buat tanpa memberitahukan dahulu kepadanya.
Revan yang biasa terkenal ramah dan tersenyum pada siapapun di kantor, kini berubah menjadi pria yang dingin tak ada senyum dan tak ada ramah pada siapa pun.
Memasuki ruang kerja ia pun segera menghempaskan tubuhnya di kursi kebesaran dia, menutup mata serta memijat panggal hidung untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya.
tok tok tok.
Suara ketukan pintu membuat Revan membuka mata dan menyuruhnya untuk masuk.
" Apa kamu sudah mendapatkan semua yang aku mau." ucap Revan pada asistennya yang berada di hadapannya sekarang.
" Sudah pak, semua sudah saya kumpulkan di dalam amplop ini." jawab Rizal dan mengulurkan amplop coklat itu pada Revan
Menerima amplop itu dan membukanya, mendapatkan beberapa foto perempuan bersama seorang pria saat berada di clab malam serta bercumbu mesra tanpa mempedulikan keramaian.
" Aku ingin anak buah mu mengawasi gerak gerik dia, dan berikan semua fotonya pada ku. " ucap Revan tegas, dengan tangan mengepal rahang mengeras dan mata yang menatap tajam foto tersebut.
" Baik pak." jawab Rizal dan pergi dari ruangan bosnya.
Revan menaruh foto itu dalam amplop dan menyimpannya dalam tas kerja, membuka ponsel dengan melihat foto Eva yang menjadi walpeper di ponselnya itu dengan tersenyum membuat dia rindu akan sosok Eva yang telah menjauh darinya.
Aku kangen Va dengan mu, apa kamu akan membalas pesan ku saat aku menanyakan kabar mu." gumam Revan
.
.
.
__ADS_1
.🌹🌹🌹🌹
Kalian mau aku up 2 kali tapi gak mau ngasih aku Vote.😞