Eva My Life Line

Eva My Life Line
Mulai terbuka


__ADS_3

Aku tidak tau harus mengucap apa saat ini, tapi aku terasa nyaman dekat dengan mu.


.


.


.


Tidak ada dalam pikiran Anna harus berkencan dengan Mario apa lagi doble date bersama seseorang yang membuatnya terluka akan hatinya.


Duduk di meja restoran berhadapan dengan Dani dan Dewi yang melihatnya begitu mesra, dari Dani yang memesankan makanan kesukaan Dewi, hingga Dewi dengan santainya menyuapkan makanan pada Dani, tidak menolak justru Dani membalasnya dengan kembali menyuapi Dewi.


Terluka? hanya sedikit, tidak terlalu banyak. Karena Anna sudah belajar move one dari Dani dan melupakan cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Makan dengan tenang dan tidak ingin terlihat terluka serta tidak ingin membalas perlakuan Dani yang memanasinya.


" Yank.?" sapa Mario, dan entah kenapa Anna menoleh ke samping.


" Kalau makan yang benar.?" ucap Mario, mengusap ujung bibir Anna yang terdapat saus dangan jarinya dan menghisap sisa makanan yang ada di jarinya hingga membuat Anna membulatkan mata, Dewi dan Dani pun juga sama membulatkan mata.


" Manis, seperti kamu.?" ujarnya lagi dengan santai dan tersenyum.


Astaga! apa yang dia lakukan. Apa dia tidak jijik." gumam Anna dalam hati dan menatap Mario yang sedang tersenyum dengan mengerlingkan satu matanya hingga membuat Anna tersenyum


" Kamu sudah selesai yank?" tanya Anna, pada Mario membuat Mario terkesiap akan panggilan Anna.


" Sudah, kenapa.? kamu mau jalan-jalan." tanya Mario dengan santai.


" Hmm." jawabnya dengan tersenyum dan mengangguk.


" Dewi, kami tinggal dulu ya." Pamit Anna dengan berdiri


" Terima kasih ya An, sudah mau makan bersama dengan kami." ucap Dewi yang juga ikut berdiri.


" Iya.?" jawabnya dengan tersenyum.


" Saya tinggal dulu ya pak Dani, kekasih saya sudah tidak sabar untuk jalan berdua." ucap Mario dengan tersenyum menatap Dani


" Iya, terima kasih doble datenya pak." balas Mario.


"Ayo Yank." ajak Mario dengan menggenggam tangan Anna, berjalan bersama meninggalkan sepasang kekasih yang menatap kepergian mereka.

__ADS_1


Dengan Dani yang sedikit merasa cemburu, dan Dewi yang merasa senang karena dia sudah mengetahui pacar Anna.


" Mereka serasi ya Dan.?" kata Dewi, membuat Dani menatapnya, hanya tersenyum paksa saat Dewi menatapnya. Dan beralih untuk makan dengan Diam.


Berjalan bergandengan tangan menuju parkiran, tanpa Anna sadari dia sudah berada di depan mobilnya.


saling berhadapan dan masih menggenggam tangan, dengan Mario yang tersenyum hangat padanya.


" Sudah malam, cepat pulang, kamu pasti lelah.?" kata Mario dengan sangat perhatian pada Anna.


" Hmm, terima kasih." ucap Anna dan melepaskan genggaman tangan Mario.


" Untuk?"


" Karena mu aku tidak sendiri." jawab Anna tersenyum, Ini pertama kalinya Anna tersenyun pada Mario, senyum itu sangat tulus hingga membuat Mario juga ikut tersenyum.


" Kamu membuntuti ku ya! kenapa bisa kamu ada di restoran in." ujar Anna lagi dengan mulai berbicara jutek, baru saja Mario merasa berbunga-bunga karena Anna berbicara lembut dengannya. Tapi kini mulai lagi rasa jutek Anna kembali lagi padanya.


" Gr banget sih Cil.!" dengan menarik hidung Anna, membuat pemilik hidung memekik kesakitan. " Aku habis bertemu dengan klien dan tidak sengaja melihat mu di sini! Berarti kita jodoh ya." ujarnya dengan tersenyum nakal.


" Enggak akan berjodoh, selera ku bukan kamu." cibik Anna


" Aku akan berdoa. Ya Allah turunkan selera dia, turunkan selera dia, turunkan selera wanita ini agar aku berjodoh dengannya." ucapnya begitu keras dan ke dua tangan mengangkat ke atas, Anna tersenyum dan menggelengkan kepala saat Mario berdoa pada Tuhan, Pria yang ada di hadapannya ini sungguh banyak Alasan dan banyak jawaban yang begitu menyebalkan tapi bisa membuatnya tersenyum.


" Iya, Kamu hati-hati." kata Mario dengan mengusap pipi Anna.


" Iya, kamu juga." jawab Anna dengan tersenyum.


Membukakan pintu mobil untuk Anna dan menyuruhnya untuk masuk, tersenyum saat Anna di perlakukan istimewa dengan seorang pria.


Masuk dalam mobil dan membuka jendela dengan Mario yang membungkuk untuk menatap Anna.


" I Love U." kata Mario, menggigit bibir bawah menahan senyum dan malu saat Mario berkata cinta dengannya.


****


" Sudah di minum susunya." tanya Arzan


"Sudah. Ay.?" kata Eva dengan manja yang duduk di atas pangkuan suaminya.


" Hmm." jawab Arzan yang selalu saja mengusap perut istrinya.

__ADS_1


" Besok boleh ya aku jalan-jalan ke moll." pinta Eva dengan wajah memelas pada Arzan.


" Kamu mau beli apa ke moll, biar nanti aku suruh Mario saja membelikannya sepulang dari kantor." tawar Arzan.


" Aku bosan di rumah.!! aku ingin jalan-jalan." berubah Expresi dengan wajah yang mulai cemberut serta memainkan jarinya di dada Arzan dengan menggambar pola.


melihat istrinya yang mulai berubah sedih membuat Arzan tidak bisa untuk melarangnya.


" Jangan sendiri. Ajak salah satu mbak yang ada di rumah (ART)." kata Arzan dengan lembut membuat Eva menatapnya dan tersenyum.


"Boleh.?" tanya Eva lagi dan di anggukkan Arzan " Hmm, suami ku baik sekali.!! terima kasih Ay." ujarnya lagi, tersenyum senang dan menciumi pipi suaminya.


Melihat istrinya yang senang membuatnya juga ikut senang, Arzan memang melarang istrinya untuk tidak berpergian sendiri karena takut jika akan terjadi lagi pada istrinya, saat dirinya tidak bersamanya.


Banyak sekali yang Arzan takutkan saat Eva pergi sendiri, dari seorang paparazi yang mengukutinya, atau dari musuh yang ingin mencelakai istrinya. Meskipun ada pengawal, tetap saja Arzan masih khawatir, ingin dia menemani istrinya tapi karena pekerjaan dan sudah ada janji menemui klien dari hongkong untuk memulai kerja samanya.


" Aku ingin membeli baju Bayi, peralatan untuk bayi, tempat tidur ba-."


" Budhe sudah belarang kita untuk tidak membeli dulu perlengkapan bayi sampai kandungan kamu tujuh bulan Ay.?" potong Arzan dengan mengusap pipi istrinya. " Apa kamu masih ingat." ujarnya lagi dengan lembut.


Mengingat kembali perkataan Budhe yang melarang suami istri ini untuk tidak membeli perlengkapan bayinya ketika belum menginjak tujuh bulan, karena itu pamalik.


" Aku ingat.?" jawab Eva dengan lesu saat mengingatnya. " Tapi apa salahnya aku membeli satu saja Ay." pinta Eva dengan memohon, mungkin karena Eva selalu melihat online shop, menjual baju bayi yang sangat begitu menggemaskan hingga itu dia menginginkannya.


" Hanya satu.!" tanya Arzan


" Mungkin lebih dari satu." jawab Eva dengan tersenyum. " Boleh." tambahnya lagi dan di anggukkan oleh Arzan dengam tersenyum.


" Terima kasih.!!" ujar Eva dengan bahagia dan memeluk suaminya dengan Erat, bukan cuma Eva saja yang ingin membeli perlengkapan bayi, tapi Arzan juga sama ingin sekali membelikan mainan untuk anaknya yang masih di dalam kandungan istrinya.


Diam-diam dia sudah memesankan perhiasan gelang untuk anaknya yang terdapat nama inisial Arzan dan Eva sebagai lambang cintanya untuk buah hatinya.


.


.


.


.


.🐨🐨🐨

__ADS_1


Siap-siap yuk untuk nanti ..... 😂😂


__ADS_2