
Aku senang jika di menganggap ku saudara, itu berarti aku tidak sendiri, aku masih mempunyai keluarga. Tapi aku bimbang antara kamu dan saudaraku.
.
.
.
.
suara tembakan terdengar jelas di telinga Eva meskipun Arzan menutupnya dengan telapak tangannya dan menyandarkan kepala Eva pada bidang dadanya.
mencekram kuat kemeja Arzan pada bidang dadanya dan menutup mata untuk tidak melihatnya.
begitu begetar tubuh Eva saat tembakan itu terdengar beberapa kali, jelas dan dekat seakan nafasnya berhenti untuk sesaat.
Inilah sisi lain dari Arzan yang begitu dingin dan kejam saat berhadapan dengan lawannya. Tidak membunuh hanya memberi luka dan membuatnya hancur saat lawan itu mengusik ketenangannya, keluarganya, ataupun orang yang di cintainya.
Arzan yang masih mendekap Eva merasakan jelas tubuh dia yang bergetar, mencekram kuat kemejanya.
mengusap punggung Eva untuk menenangkannya, saat ia sudah selesai dengan menembak lawannya hingga pingsan.
" Tidak apa apa, aku ada di sini." ucap Arzan, membuat hati Eva merasa lega dan meneteskan air mata saat mendengar suara Arzan, seakan ia takut bila terjadi dengan Arzan.
Masi dalam pelukan Arzan saat asisten dan Revan datang untuk melihat ruangan yang terdengar tembakan.
terlihat jelas Eva yang begitu ketakutan dan memeluk Arzan, dan terlihat begitu besarnya saudara tirinya itu melindungi Eva dan menenangkannya dalam pelukannya.
" Tuan.?" sapa Asisten Rizal.
" Urus dia." dengan suara dingin, dan memberikan senjata yang dia pegang pada Asistennya.
hanya anggukan dan melambaikan tangan pada pengawal untuk membawa pria yang menculik Arzan untuk di bawa ke markasnya.
kini hanya ada tiga orang dalam ruangan itu yang masih tidak ada perubahan, Eva yang masih dalam pelukan Arzan dan Revan yang berada di belakang hanya menjadi penonton.
menyentuh ke dua pundak Eva untuk berbagi jarak agar dia bisa melihat wajah Eva yang masih menangis.
" Jangan takut, Kamu aman sekarang." ucap Arzan dengan lembut, dan mengusap air mata Eva.
membuka matanya dan melihat Arzan tersenyum hangat padanya.
" Terima kasih." ucap tulus Eva, dan di anggukan kecil oleh dia.
" Pulang lah yang di belakang sudah khawatir dengan mu." kata Arzan dan bergeser sedikit agar Eva bisa melihat orang yang berada di belakangnya.
" Revan?" lirih Eva, Revan hanya tersenyum untuk menutupi luka dan rasa sedikit cemburunya.
Menatap Arzan saat ia tidak percaya akan apa yang di ucapkan dia.
" Pulang lah bersamanya, aku masih ada urusan." ucapnya lagi yang mengerti akan tatapan Eva.
__ADS_1
hanya mengangguk kecil dan tersenyum samar saat Arzan menyuruhnya untuk pulang bersama Revan.
menghampiri Revan dan berjalan bersampingan untuk keluar dari ruangan, tapi kali ini dia berhenti sekilas untuk menatap pria yang ada di belakangnya dengan masih tersenyum saat menatap kepergiannya.
Melihat punggung Eva yang sudah menjauh dan tidak terlihat, membuatnya menarik nafas dengan berat hingga dia meringis ke sakitan saat merasakan sesuatu yang terluka di punggung atas kanannya ia pun menyentuh punggungnya dan terdapat darah di tanggannya.
ya Arzan memang menghindar tapi sayangnya ia kalah cepat, tapi beruntung peluru itu tidak mengenai punggung tengah yang tertuju tepat ke arah jantung yang membuatnya akan mati.
berjalan keluar ruangan dengan masih memegang punggungnya, menghampiri Asistennya yang sedang menunggunya.
berjalan terlebih dahulu, dan membuatnya berhenti kala Asistennya berbicara dengan nada khawatir.
" Tuan, anda terluka.?" ucapnya dan menghampiri Arzan dengan memegang lengannya, agar tidak terjatuh.
" Hanya luka kecil."
" Kita ke rumah sakit Tuan." pinta Asistennya.
" Tidak perlu, suruh dokter datang ke rumah aku tidak ingin musuh ku tau jika aku terluka." perintahnya, di anggukkan oleh Asistennya dan berjalan menuju mobil mengendarinya dengan kencang agar sampai di rumah Tuannya.
*****
Eva yang berada di dalam mobil Revan hanya menatap luar jendela dengan termenung dan memikirkan Arzan.
Entah kenapa ia seperti khawatir dengan keadaan Arzan, seperti dia tidak baik baik saja, seperti dia menyembunyikan sesuatu saat orang yang menculiknya berusaha menembak Arzan.
Beberapa kali Revan melirik Eva yang hanya termenung dan menatap luar jendela mobil, seperti dia sedang memikirkan sesuatu.
" hmm, tidak apa-apa.?" jawabnya dengan tersenyum " terima kasih sudah mau menolongku." ucap tulus Eva.
" Bukan aku yang menolong kamu, tapi dia." kata Revan.
"Sama saja, kamu juga ikut menolongku." jawab Eva, membuat Revan hanya tersenyum serta mengangguk.
tidak ada percakapan lagi saat mobil Revan sudah tiba di tempat kost Eva, melepas saatbalt dan menatap Revan.
" Sekali lagi terima kasih." ucapnya dengan senyum.
" iya, sama-sama. istirahat yang banyak ya, jika membutuhkan sesuatu telpon aku." jawab Revan dan di anggukkan oleh Eva.
mulai membuka pintu mobil dan berjalan tanpa melihat ke belakang.
Kamu tidak melihat ku ke belakang saat aku menunggu mu, tapi saat dia menunggu mu kamu menatapnya seakan tidak ingin meninggalkan dia." gumam Revan dalam hati, dan melajukan mobil saat tubuh Eva sudah menghilang.
Eva yang sudah berada di kost, begitu lupa jika tasnya masih berada di tempat kerja ia pun harus meminjam pada ibu kost untuk masuk ke dalam kamar kostnya.
di dalam kost ia segera mandi, menaruh ponselnya di atas laci membersihkan diri dan merebahkan badannya di atas ranjang.
ia ingin sekali tidur, tapi isi kepalanya itu masih memikirkan Arzan. berguling kesana kemari hingga dia bangun dengan rasa khawatir.
Eva segera mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Arzan tapi tidak di angkat.
__ADS_1
rasa khawatir Eva semakin tidak karuan hingga dia memutuskan untuk memesan taksi online dan bersiap siap untuk ke rumah Arzan, meskipun nantinya ia tidak tau Arzan ada di rumah atau tidak.
segera bergegas keluar kamar saat taksi yang dia pesan sudah tiba di depan kost.
hari yang sudah malam membuat jalanan tidak terlalu ramai hingga taksi tiba di depan rumah megah Arzan.
" terima kasih pak." ucap Eva dan menyerahkan uang pada sopir taksi.
" Sama sama mba." jawab sopir taksi.
Saat Eva sudah berada di pintu pagar ia pun segera menekan tombol bel agar penjaga membukakan pintu.
" Non Eva.?" sapa penjaga rumah dengan sedikit terkejut hingga dia pun membukakan pintu pagar untuk Eva. dua kali Eva ke rumah Arzan semua penghuni rumah sudah menghafal wajahnya.
" Pak, Arzannya ada." tanya Eva.
" Ada non, mari saya antar ke dalam rumah" ucap penjaga itu dengan sopan, Eva hanya mengangguk dan tersenyum mengikuti penjaga ummasuk ke dalam rumah untuk bertemu dengan bibik santi terlebih dahulu
" Non Eva." sapa bibik Santi saat berada di ruang tamu dan menghampiri Eva
" Buk Santi." sapa balik Eva dengan tersenyum.
" Buk, Arzannya ada." kata Eva.
" Tuan ada di kamarnya Non, Tuan Arzan habis terluka." lirih bik santi hingga membuat Eva tersentak kecil.
Dia terluka, apa dia tertembak." gumam Eva dalam hati.
" Boleh saya bertemu dengan Arzan buk." pinta Eva.
" Mari saya antar Non." jawab bibi santi.
Tiba di kamar Arzan, bik santi mencoba mengetuk pintu hingga terdengar suara dari dalam jika menyuruhnya untuk masuk.
Bibik Santi menyuruh Eva untuk masuk ke dalam kamar Arzan, di saat dia masuk ke dalam kamar. melihat Arzan yang berdiri di depan jendela dengan menatap langit gelap dan melihat punggung Arzan yang di perban membuat dirinya merasa bersalah.
" Ada apa bik." ucap Arzan tanpa melihat ke belakang.
"Arzan.!" sapa Eva lirih, membuat pria yang ada di hadapannya tersentak kecil saat mendengar suara wanita yang sedang ia pikirkan.
"Eva.!"
.
.
.
🌱🌱🌱🌱
selamat hari libur.😇
__ADS_1