Eva My Life Line

Eva My Life Line
mengantarnya pulang.


__ADS_3

Wajah mu mengingatkan aku pada seseorang. Seorang, wanita yang pernah singgah di hatiku, sebelum hatiku hancur berkeping keping.


.


.


.


.


sinar matahari yang menelusuk masuk ke dalam kamar tanpa permisi membuat sang penghuni merasa terganggu.


perlahan dia membuka mata dengan kepala yang masih terasa berat. melihat atap ruangan yang begitu terasa asing di matanya itu, membuat matanya melebar sempurna merasa terkejut dan bangun dari tidurnya.


terdengar suara pintu yang terbuka, membuatnya melihat ke arah siapa yang sudah membawanya ke ruangan yang asing ini.


"Nona sudah bangun.?" Ucap sang pelayan paruh baya dengan tersenyum dan menghampiri Eva serta membawa nampan berisi makanan.


Eva hanya mengangguk dan membalas senyumannya. beranjak dari ranjang untuk berdiri, akan tetapi di tahan oleh sang pelayan itu.


"Nona mau kemana.?" tanya pelayan.


"maaf buk, saya ada dimana.?" tanya balik Eva.


"Nona ada di rumah Tuan saya, semalam Tuan membawa nona dalam keadaan pingsan di jalan." jawabnya dengan sopan.


Perkataan sang pelayan membuat Eva tersadar dan teringat tentang kejadian semalam yang hampir saja tertabrak mobil karena dia menyabrang tanpa melihat keadaan sekitar. dan ia mengingat kekasihnya yang sudah berbohong serta menghianati cintanya itu.


Air mata Eva mulai menggenang saat mengingat Revan, saat orang tua Revan mengenalkan calon menantunya itu pada semua orang. mengingatnya itu membuatnya sesak dia pun segera menunduk dan menghapus air matanya.


"Nona tidak apa-apa.?" Tanya pelayan karena merasa khawatir melihat wanita di hadapannya itu menundukkan kepala saat air matanya akan terjatuh.


"Saya tidak apa-apa buk.?" Jawabnya.


"Sebaiknya Nona sarapan dahulu dan minum obatnya. setelah itu Nona istirahat.?" Perintah pelayan dengan suara lembut.


"Buk, boleh saya meminta tolong." Kata Eva, di anggukkan oleh pelayan itu.


"Boleh saya pinjam baju ibuk, saya tidak merasa nyaman pakai baju seperti ini.?" ucapnya, membuat wanita paruh baya itu tersenyum.


Berjalan ke arah sofa untuk mengambil paberbag yang tadi pagi sudah di antar oleh pelayan. dan menyerahkannya pada Eva.

__ADS_1


Eva mengerutkan kening saat pelayan itu memberikan paberbag kepadanya. perlahan ia membuka paberbag itu dan melihat isinya.


begitu terkejut saat melihat isinya yang terdapat pakaian serta dalaman buat Eva.


"Itu dari Tuan Nona.!" Ucapnya.


"Apa dia yang menggantikan baju ku buk.?" Refleks tanya Eva, membuat sang pelayan tersenyum.


"Tidak Nona, saya yang menggantikan baju nona karena basah. karena di sini tidak ada baju perempuan jadi Tuan memberikan bajunya untuk Nona pakai sementara." ujarnya, hingga Eva bernafas lega.


"Terima kasih." Ucap Eva dan di anggukkan kepala pelayan serta pergi undur diri dari kamar.


Eva melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. cukup lama di kamar mandi kini ia sudah keluar dengan pakaian yang sudah di belikan oleh pria itu.


dres selutut berbahan chiffon serta bermotif floral dengan lengan panjang membuatnya tampil elegan.


Eva mulai keluar kamar, untuk mencari ibuk pelayan yang mengajaknya berbicara tadi pagi.


saat ia beradada di ruang tamu, ada satu pelayan yang menyapanya.


"Selamat siang Nona, ada yang bisa saya bantu Non." ucap pelayan itu dengan menundukkan kepala di hadapannya.


"Mbak, Saya mencari ibuk yang tadi masuk ke kamar saya, sekarang dimana orangnya.?" tanya Eva


"Bisa mbak tolong antarkan saya." pintanya dan di anggukkan oleh pelayan itu.


di saat sang pelayan akan mengantarkan Eva untuk bertemu kepala pelayan. suara deheman pria dari arah ruang tamu terdengar membuat Eva dan pelayan itu melihatnya.


pelayan itu membungkuk kan badan sebagai tanda hormat pada Tuannya dan Eva pun juga sama mengikuti pergerakan pelayan itu. kini tinggal Eva dan pria yang berada di hadapannya saat ini karena pelayan itu pergi saat sesudah memberi hormat pada Tuannya.


Pria itu menatap ke arah Eva, begitu terpesona melihat penampilan Eva yang terlihat anggun dan cantik.


"Kamu sudah lebih baik." tanyanya dengan wajah dingin.


"Sudah, terima kasih sudah menolong ku." jawabnya dan di anggukkan kecil oleh pria itu.


"Boleh kah aku pulang." Ucap Eva ragu ragu.


"Apa kamu sudah makan siang." tanyanya, membuat eva menggelengkan kepala.


"Temani saya makan siang, setelah itu kamu akan aku antar pulang." perintahnya, dan berjalan terlebih dahulu ke arah ruang makan.

__ADS_1


Eva pun menurut dan mengikutinya dari arah belakang, itung itung menemaninya makan sebagai tanda terima kasih. pikirnya.?


Eva yang melihat pria itu duduk di kursi kepala meja makan membuatnya sedikit gugup dan masih berdiri sedikit jauh dari dia.


"Duduk lah." perintah pria itu hingga akhirnya Eva pun duduk di samping pria itu.


Eva melihat beberapa pelayan membawa makanan untuk di sajikan pada Tuannya. melihat pelayan paruh baya yang menyajikan makanan itu membuatnya tersenyum.


"Biar saya ambil sendiri makanannya buk.?" tolak halus Eva, di saat kepala pelayan itu akan mengambilkan makanan untuk Eva.


Pelayan itu tersenyum dan akan mengambil kan makanan pada Tuannya, akan tetapi tangan Tuanya terangkat untuk menolak.


"Apa kau mau mangambilkan saya makanan.?" pinta pria itu, membuat Eva menatapnya, ia pun mengangguk dan berdiri mengambilkan makanan untuk pria itu.


makan bersama pria ini, mengingatkan dia bersama Revan. rasanya ia rindu dengan Revan tapi sedetik kemudian dia mulai marah kepada kekasihnya saat mengingat acara pesta. ia pun menunduk untuk menahan air mata yang akan jatuh, agar tidak merusak suasana makan siangnya bersama pria yang sudah menolongnya.


selesai makan Eva berdiri dari duduknya dan mulai membersihkan piring kotor yang ada di meja makan.


"Biar pelayan yang membersihkannya." Ucap tegas pria itu dan berdiri untuk berjalan ke ruang tamu.


Pelayan paruh baya itu menghanghampiri Eva, menyuruhnya untuk mengikuti Tuannya.


berada di ruang tamu, dia melihat pria itu sedang berbicara pada asistenya. seperti sedang membicarakan pekerjaan dan mereka pun berjalan ke arah ruang kerja untuk membahasnya di sana, Eva menunggunya di ruang tamu dan diam menunduk.


"Apa aku boleh pulang.?" tanya Eva yang sudah melihat pria itu keluar dari ruang kerjanya.


"Saya akan mengantarkan kamu." jawab pria itu dan berjalan keluar rumah di ikuti Eva serta asistennya.


Eva duduk di kursi belakang bersama pria dingin itu, menatap luar jendela untuk merenungi sesuatu yang ada di dalam pikirannya.


"Nona, di mana alamat rumah anda.?" tanya asisten pria itu. eva pun memberitau alamat kostnya pada asisten pria itu dan beralih lagi menatap luar jendela.


diam diam pria dingin itu selalu mencuri pandang wajah cantik yang berada di sebelahnya. entah kenapa dia sedikit tertarik dengan wanita itu.


.


.


.


.🌲🌲🌲

__ADS_1


hayooo.!!!


pilih babang kadal atau pria dingin ini, nich.!😀😀


__ADS_2