Eva My Life Line

Eva My Life Line
fitting baju


__ADS_3

Mendadak jantung ku berdebar begitu saja saat ajakan nikah keluar dari bibir mu dan begitu kencang saat kau menyentuh lembut pipi ku dengan tersenyum hangat.


.


.


.


.


Mematung saat mendengar ucapan yang keluar dari bibir Arzan begitu saja saat mengajaknya menikah.


Entah kerasukan setan apa di pagi hari Arzan begitu gamplangnya melamarnya secara mendadak yang membuatnya tersadar kembali saat mata sudah mulai mengantuk.


menatap lengkat wajah pria itu untuk mencari lecah kebohongan atau keraguannya yang dia ucapkan barusan. Tapi sayangnya dia tidak menemukan itu yang dia temukan hanya tatapan yang serius dalam mengajaknya menikah.


Arzan yang mendapatkan tatapan menyelidik dari Eva hanya bisa tersenyum kecil, karena dia tau tidak semudah itu wanita yang ada di hadapannya sekarang dengan gampang menerima ajakan menikah yang mendadak.


Ia tau jika Eva masih trauma dengan semua masa lalunya, tapi tidak ada salahnya ia coba untuk mengungkapkan kejujurannya untuk segera menikahi seorang janda yang sudah membuat hatinya sedikit luluh saat berhadapan dengan dia.


berusaha menetralkan kegugupannya dan mulai berbicara yang serius dengan pria yang ada di sampingnya sekarang.


" Apa kamu sudah tau latar belakangku yang status janda di usia muda." kata Eva dengan menatap lekat wajah Arzan " Dia putus dengan ku karena orang tuanya ti-"


" Aku tau, apa ada masalah dengan status kamu yang janda." jawab Arzan " Aku tidak mempermasalahkan itu, janda atau perawan yang terpenting bagi ku aku merasa nyaman dekat dengannya." jawab jujur Arzan.


" Jangan jawab sekarang jika kamu belum yakin untuk mau menikah dengan ku, aku akan tetap menunggu jawaban dari mu IYA atau TIDAK sampai kamu datang sendiri pada ku." ujarnya lagi dengan menatap Eva tersenyum karna ia tau jika Eva membutuhkan waktu untuk menjawab.


" Terima kasih, aku akan memikirkan dahulu ajakan menikah dari bos ku." ucap Eva yang ikut tersenyum tulus menatap Arzan yang bersikap hangat pagi ini.


" Mau pulang ke rumah ku atau ke kost kamu." ajak Arzan.


" Ngapain ke rumah kamu!" seru Eva.


" Belajar mengurus aku, nanti kalau kita jadi menikah." gombal Arzan di pagi hari, Eva tertawa mendengar gombalan Arzan


" Ternyata kamu bisa gombal ya, aku pikir kamu pria dingin dan kaku!" tawa Eva yang masih mengudara di dalam mobil. " Antarkan saja aku ke kost pak bos." tambahnya lagi dengan tawa membuat Arzan pun jadi tertawa.

__ADS_1


Entah mengapa di sisi Eva ia bisa tersenyum dan tertawa ringan seperti hilang rasa kecewa, marah dan dendam yang ada di hatinya itu luntur seketika.


hampir lima tahun dia sendiri, setelah keluarga satu satunya tiada di sisinya dan mantan kekasihnya itu berhianat serta juga meninggalkan dia untuk selamanya.


kesunyian itu yang membuat Arzan menjadi dingin dan menutup dirinya untuk tidak lagi berhubungan dengan seorang wanita karena dia sudah tidak percaya lagi dengan cinta wanita.


tapi saat pertama ia bertemu dengan Eva entah mengapa yang semula merasa kasihan kini menjadi suka dengan dia.


awal Arzan mulai suka dengan Eva saat dia berjumpa di panti asuhan, yang begitu tulus berbaur dengan anak kecil serta memberinya kasih sayang pada mereka yang tak pernah pilih kasih.


senyum yang tak pernah Arzan lihat saat bertemu dengannya di saat hujan malam yang membasahi tubuhnya, kini melihat wanita yang dia suka tersenyum dan tertawa dan tak lagi takut dengan wajah dinginnya.


" Tetap seperti ini tertawa dan tersenyum jangan lagi menangis." kata Arzan dengan menyentuh pipi Eva mengusapnya dengan lembut dan tersenyum.


Eva yang mendapat sentuhan dari Arzan membuat dia tersentak kecil dengan jantung sedikit berdebar, seperti saat ia mendapatkan sentuhan dari mantan kekasihnya begitu lembut dan hangat, Revan yang masih ada sedikit ruang di dalam hatinya.


begitu saja pikiran Eva tertuju dengan Revan, hingga dia mencoba membuang jauh pikirannya serta mencoba melupakan kenangan indah yang pernah ia lalui bersama Revan.


tidak mudah sekali Eva melupakan kenangan itu saat bersama Revan, wajah yang tengil dan suka manja saat bersamanya serta selalu melindunginya saat berada di luar membuatnya sedikit rindu.


Apa kabar mu, boleh kah aku rindu dengan mu meskipun kau bukan kekasih ku lagi.!" gumam Eva dan menatap jendela luar saat mobil sudah melaju ke arah kostnya.


" Tante di mana Revan.?" tanya Bella saat melihat Nyonya Vani berada di butik sendirian.


" Katanya dia lagi ada meting sama claennya mangkanya dia tidak bisa ikut." bohong nyonya Vani untuk menutupi kesalahan putranya.


" gakpapa kan sama tante saja.?" ujarnya lagi yang melihat wajah Bella sedikit kecewa karena Revan tidak ada di butik untung fitting baju pertungannya.


" Ah tidak papa tante, mungkin Revan lagi sibuk untuk masa depan kita nanti." ucapnya dengan lembut membuat siapa saja terhipnotis dengannya.


" Jangan panggil tante, panggil mama ya sama seperti Revan." kata Nyonya Vani dan menyentuh pipi calon tunangannya Revan dan kesempatan itu tidak Bella sia siakan ia pun segera menghambur ke pelukan Nyonya Vani.


" Terima kasih mama." jawab Bella hingga membuat Nyonya Vani tersenyum.


" Lho kok berpelukan, ada apa ini.!" seru mama Bella saat melihat anak serta calon besannya berpelukan.


Mereka pun saling melepaskan pelukannya dan menatap mama Bella dengan tersenyum.

__ADS_1


" Aku menyuruh anak kamu memanggil ku mama, tapi dia malah memeluk ku, aku kan jadi terharu jeng.!" ucap Nyonya Vani dengan menghapus air mata yang sedikit keluar dari pertahanannya.


" Ah dia begitu bahagia jeng, anak aku sudah kamu anggap sebagai menantunya." ucap mama bella.


" Ya sudah ayo jeng Vani kita fitting baju, sudah di tunggu tu sama desainernya." ujarnya lagi dan di anggukkan oleh Nonya Vanu serta berjalan dengan bersamaan dengan mereka.


Yang terpenting mamanya Revan sudah luluh dengan ku, kini tinggal anaknya saja.!" guman Bella dalam hati dengan tersenyum jahat


mencoba memakai beberapa kebaya yang sudah di pilih oleh Nyonya Vani untuk Bella, hingga kebaya gold yang simpel dan elegan yang tertuju pada pandangannya saat Bella memakainya.


Sedikit merasa tidak cocok dengan pilihannya itu, yang dia ingin kan pertunangannya dengan gaya eropa memakai baju pesta saat di gedung nanti, tapi karna ia tidak ingin membuat semuanya kacau hingga akhirnya Bella menyetujuinya dengan terpaksa.


Bella dan mamanya sudah menyiapkan gedung pertungannya di sebuah hotel berbintang lima yang megitu megah dan mahal.


" Jeng saya sudah menyewa gedung pesta pertunangan anak kita di hotel bintang lima.?" ucap mama Bella dengan bangga.


" Iya kah, nama hotelnya apa Jeng." jawab Nyonya Vani.


" Nama hotelnya Ra-" belum sempat mengucapkan nama hotelnya, ponsel Nyonya Vani berdering hingga membuat sang pemilik ponsel segera mengambilnya di tas dan mengangkat panggilan itu. Cukup lama ia menerima panggilan hingga akhirnya panggilan itu terputus.


" Siapa jeng.?" tanya Mama bella.


" Ayahnya Revan jeng, aku pamit dulu ya jeng Ayahnya Revan sudah pulang dari kantor." ujarnya, " Bella mama pulang dulu ya nak, kamu jaga kesehatan jangan terlalu capek biar nanti di urus sama WOnya." ucap Nyonya vani di hadapan Bella.


" iya ma, mama hati-hati di jalan." ucap Bella dan mencium tangan calon mertuanya itu.


.


.


.


.


🌹🌹🌹


terima kasih untuk kalian yang memberikan aku semangat dan votenya

__ADS_1


dan terima kasih untuk tips koin dari kalian 😘😘


__ADS_2