
Kini antara kamu dan dia, tapi maaf hati ku sudah berpindah karena dia, saat kamu memilih untuk berpisah dari ku.
.
.
.
.
Malam yang di tunggu Revan dengan tidak sabar saat akan menjemput Eva di kostnya.
Melajukan mobilnya dengan di iringi musik yang menggema di dalam mobil yang berjudul halalkan mu, gambaran hal yang sempurna di hati Revan saat ini karena sudah mendapatkan lampu hijau dari mamanya.
Mobil yang di kendarai kini sudah tiba di depan kost Eva, turun dari mobil dan mencoba menelpon Eva untuk memberitahunya jika ia sudah ada di depan kost.
Cukup menunggu lama, saat kini ia melihat Eva sudah berjalan untuk menghampirinya.
Seratus delapan puluh derajat bibir Revan melengkung sempurna melihat Eva yang malam ini terlihat sangat cantik dan elegan dengan balutan gaun sabrina berwarna navy serta rambut yang terikat setengah.
Terlalu fokus dengan Eva hingga ia tidak tersadar saat Eva ada di hadapannya dan memanggilnya beberapa kali hingga pada akhirnya Eva menepuk pundak Revan untuk menyadarkannya.
" Ah, maaf." ucapnya dengan menggaruk tengkuk yang tidak gatal " kamu cantik Va." ujarnya lagi membuat Eva hanya tersenyum sekilas.
" Ayo." ajak Revan dengan membukakan pintu mobil depan, sedikit ragu untuk masuk hingga Eva melihat kanan kini.
" Ada apa?" tanya Revan,
" Hhmm, tidak ada apa-apa.?" jawabnya hingga dia pun menundukkan kepala sebentar dan kembali menatap depan serta melangkah untuk masuk ke dalam mobil Revan.
Saat akan masuk ke dalam mobil, suara bariton yang memanggilnya begitu lembut terdengar di telinganya hingga sang pemilik nama menatap ke samping sumber arah itu.
Menatap dengan diam sebelum akhirnya tersenyum sempurna dengan melipat bibirnya, saat yang di harapkan ternyata datang.
Mengerutkan kening saat Revan melihat Arzan berada di depan kost Eva, berjalan melangkah untuk menghampiri Eva serta Revan.
" Kamu di sini.?" ucap Eva pada Arzan.
" Aku akan ikut kamu." jawabnya, hingga Revan terkejut dan Eva tersenyum dengan menganggukkan kepala.
" Dia akan ikut, boleh kan.?" ucap Eva pada Revan dengan tersenyum, dan tak ada pilihan Revan pun hanya mengangguk serta tersenyum kecil.
" Aku akan duduk di belakang dan kamu di depan ya." pinta Eva pada Arzan, mengangguk kecil dan tersenyum.
__ADS_1
Fast black
Arzan yang sudah selesai dari Metiing dan akan makan siang bersama kini menyentuh ponselnya untuk menghubungi Eva, karena dia tau jika hari ini Eva sedang libur bekerja.
Tidak butuh waktu lama untuk menjawab dan mendengar suara wanita yang sudah menghiasi hatinya.
" Sudah makan?" tanya Arzan
" Belum, kamu sudah makan?" tanya balik di sebrang sana.
" Malas makan, gak ada kamu." ucapnya membuat Eva tersenyum.
" Sudah siang cepat makan nanti sakit" perintahnya
"Hmm, lagi apa." tanya Arzan duduk di sofa dengan menyandarkan kepalanya untuk menatap dinding atas.
" rebahan."
" Kapan pulang."
" nanti."
" aku jemput."
" Hhmm."
" Nyonya Vani mengundangku makan malam." ucap Eva lirih, membuat Arzan duduk dengan sempurna dan menatap arah depan.
" Kapan." katanya,
" Nanti jam tujuh, Revan akan menjemput ku di kost." jawabnya, hingga tidak ada jawaban dari Arzan.
" Apa nanti kamu sibuk." ucap lirih Eva.
" Sedikit." jawabnya, hingga membuat Eva menghembuskan nafas berat ingin rasanya ia meminta Arzan untuk ikut dengan dirinya tapi itu tidak mungkin pasti Arzan akan menolak, pikirnya!
" Jangan telat makan, nanti aku akan hubungi kamu lagi." kata Arzan dan mematikan telponnya setelah mendapatkan jawaban dari Eva.
Menerawang jauh saat melihat Eva menangis dan di hina di tempat umum serta membuat tontonan orang sekitar, muncul rasa marah dan rahang mengeras saat mengingat itu. tersadar suara ketukan pintu hingga membuat Arzan menyuruhnya masuk.
Mendapati asistennya yang sudah berada di hadapannya kini menyuruhnya menggantikannya malam ini untuk bertemu dengan klaennya yang mengundangnya acara makan malam sebagai rasa terima kasih atas kerja samanya.
Aku akan menemani mu!" gumam Arzan dan menatap foto Eva.
__ADS_1
*****
Sunyi di dalam mobil seperti terasa hawa panas saat mereka saling diam dengan pikiran masing masing, tak satu kata pun keluar dari bibir mereka.
Eva yang duduk di kusi belakang, Arzan yang berada di depan Revan yang sedang mengemudikan mobilnya. seperti cinta segitiga dua bodigat memperebutkan satu wanita.
Kini mobil itu telah tiba di pagar rumah mewah yang berjulang tinggi, berhenti tepat saat sudah berada di halaman.
Turun dari mobil dan berjalan beriringan dengan posisi Eva yang berada di tengah.
Pertama kali Eva dan Arzan memasuki rumah Tuan Gio dan untuk ke dua kali Arzan bertemu dengan mereka, hanya wajah dingin yang Arzan perlihatkan sekarang.
" Kamu sudah datang Van, di mana Eva?" tanya Nyonya Vani saat Revan menghampirinya di ruang tamu dengan berdiri untuk menyambut kedatangan mantan pacar putranya.
Eva dan Arzan yang melangkah bersama saat memasuki ruang tamu dan begitu terkejut di saat Nyonya Vani dan Tuan Gio melihat Arzan berada di samping Eva.
" Ravin." ucap lirih Nyonya Vani dengan mata yang mulai berkaca kaca dan tersenyum melihat mantan putra tirinya yang ada di rumahnya sekarang.
Melangkah mendekat untuk memastikan itu adalah kenyataan, saat akan menyentuh pipi mantan putra tirinya itu secara refleks Arzan melangkah mundur kebelakang entah ia belum siap atau ia tidak ingin di sentuh oleh mantan ibu tirinya itu.
Mendapati penolakan dari putra tirinya itu membuat hati seorang ibu teriris bagai pisau yang tertancap begitu dalam, sakit.
Penolakan itu tidak masalah buat Nyonya Vani yang terpenting sekarang ia senang melihat putra tirinya datang ke rumahnya dan bertemu kembali untuk ke dua kali.
Tuan Gio juga merasa senang melihat mantan putra istrinya itu datang ke rumahnya, seperti rasa beban rasa bersalahnya berkurang sedikit.
Sedikit merasa kasihan melihat penolakan Arzan saat akan di sentuh oleh Nyonya Vani, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa apa karena ia tahu jika Arzan masih kecewa dan marah dengan mantan ibu tirinya itu.
Bukan tatapan cemburu saat melihat ibunya tersenyum hangat pada putra tirinya itu, tapi merasa sedikit senang kala ibunya tersenyum bahagia melihat putra tirinya ada di rumahnya sekarang, dan rasa bersalah juga sedikit berkurang sudah merebut kasih sayang darinya.
Nyonya Vani beralih menatap Eva dengan tatapan tersenyum tulus dan menyentuh lengan Eva dengan mengusap lembut.
" Terima kasih sudah mau datang ke rumah tante, dan terima kasih sudah membawa anak tante untuk datang ke rumah.?" ucap Nonya Vani dan di anggukkan oleh Eva dengan tersenyum.
.
.
.
.๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Gak jadi libur aku takut centong melayang๐ aku takut kakang aku nanti suruh main ke kost๐ ๐
__ADS_1
Dan satu lagi aku paling enggak suka jika bawa nama ibu aku dalam komen kalian, sunguh terlalu lho itu. ibu ku kan gak salah apa apa.๐