
Jika masih cinta tetaplah bersamanya, aku tidak memaksa untuk kamu mencintai ku tapi jika kamu memilih ku jangan harap untuk aku melepaskan mu.
.
.
.
.
Revan begitu frustasi saat kehilangan jejak mobil yang membawa Eva entah kemana, di saat rambu lalu lintas sudah berganti merah ia pun tidak bisa menerobosnya.
Mumukul setir dengan kencang dan menjambak rambutnya saat ia benar benar bingung harus mencarinya kemana lagi.
Menghubungi asisternya untuk menyuruh anak buahnya mencari Eva di sekitar jalan yang ia tertinggal tidak menemukan jejak.
Tetap mencari Eva, mengelilingi jalan yang sunyi, banyak gudang yang terbengkalai dengan jalanan yang berlubang.
Melihat satu rumah tua yang berada di ujung dengan terdapat beberapa mobil yang ada di dalamnya dan ada pula yang menjaga di area sekitar.
Memberhentikan mobilnya tepat di belakang mobil yang terpakir sedikit jauh, mencoba turun dengan jalan perlahan sebelum akhirnya dia mendapatkan tepukan di bahunya.
" Mas Arzan!" pekiknya dengan terkejut saat berbalik ke belakang dan melihat pria yang menepuknya itu, Arzan yang mendengar Revan memanggilnya dengan panggilan kakak sempat termenung hingga dia tersadar dan menarik lengan Revan untuk bersembunyi agar tidak menarik perhatian penjaga.
Dia memanggil ku kakak! " gumam Arzan dengan memandangi wajah Revan, yang di pandang sedikit bingung dan mengerutkan keningnya.
" Kamu ada di sini." ucap Revan dengan membelah situasi.
" Ya baru tiba, anak buah ku mengikuti mereka saat Eva di culik, dan dia di sekap di sana." dengan menunjukkan matanya yang menatap rumah tua.
" Banyak sekali penjaganya." ujar Revan, saat menatap rumah tua yang banyak penjaga.
" Kau takut." ucap Arzan dengan menatap arah depan.
" Tidak, mana ada cowok takut."
" Bagus." dengan mengulurkan Senjata api pada Revan, menatap senjata yang masih di tangan Arzan dan beralih menatap saudara mantan tirinya itu.
" Kamu mau membunuh mereka.!" kata Revan.
Mendengar perkataan Revan membuat Arzan memicingkan mata dan sedikit tersenyum saat dia baru mengerti jika putra mantan ibu tirinya itu tidak pernah bermain senjata api saat situasi yang sangat mencekram, apa lagi saat berhadapan orang licik dan jahat.
Bersyukur jika hidup mantan ibu tirinya itu tidak seperti dia yang selalu di kelilingi orang jahat dan rakus akan kekuasaan yang Arzan miliki.
" Mereka bukan orang sembarangan aku tidak akan membunuh mereka, hanya melukainya sedikit saja." tegasnya, karena memang sesungguhnya Arzan bukan seorang pembunuh hanya saja menjadi orang terkenal dan mempunyai banyak musuh membuatnya harus berekstra hati-hati.
__ADS_1
Melihat kembali ke arah rumah tua, dan memang ada benarnya jika di dalam rumah tua itu pastinya bukan orang sembarangan hingga akhirnya dia mengambil pistol dari tangan Arzan.
" Dan pakailah itu.?" mengarahkan mata pada asistennya yang membawakan baju anti peluru yang seharusnya dia pakai tapi dia berikan pada Revan.
" Tuan?" ucap Asistennya, hanya anggukan kecil dan tersenyum untuk memerintahkannya karena dia tau jika asistennya itu khawatir dengannya.
Tidak ada pilihan lain Asistennya harus memberikan baju anti peluru untuk Revan agar dia terlindungi, karena dia mengerti jika Tuannya sudah memerintahnya itu berarti tidak bisa di tolak.
" Apa Tuan mau pakai punya saya.?" kata Asistennya dengan lirih di samping Arzan.
" Apa kau meragukan ku." jawab Arzan dan di gelengkan kepala oleh Asistennya.
" Kalau begitu pakai lah." ujarnya lagi.
pengawal dengan lima orang termasuk Asistennya yang berada di depan untuk terlebih dulu menyerang sedangkan Arzan, Revan berada di belakang untuk menikmati perkelahian mereka, sebelum akhirnya Revan juga memilih menyerang penculik itu.
****
Merasa kepala sedikit berat saat mata akan membuka. tangan yang akan bergerak pun tidak bisa hingga Eva beralih melihat tangannya yang terikat dengan mata yang berbuka sempurna, terkejut berada di ruangan yang tidak dia kenal saat ia melihat ke sekelilingnya.
Mencoba memberontakkan tangan yang terikat serta kaki yang juga terikat dan tidak bisa di gerakkan sama sekali.
" Kamu sudah bangun cantik.!" suara pria dari arah belakang, membuat Eva menegang.
Mengerutkan keningnya saat ia tidak mengenali siapa pria gang ada di hadapannya sekarang.
" Kamu siapa." tanyanya.
" Aku orang yang di suruh untuk menculik kamu, untuk membunuh kamu" jawabnya dengan senyum licik, membulatkan mata dengan debaran jantung yang begitu kencang rasa terkejutnya saat mendengar jawaban pria yang ada di hadapannya.
" Si- siapa yang menyuruh kamu." ucapnya dengan suara bergetar.
" Seorang Wanita, dia sangat membenci kamu." ujarnya dan mendekat " kamu cantik sayang jika di bunuh." dengan membelai pipi Eva membuat eva memalingkan wajahnya.
" Tolong lepaskan aku." lirih Eva, dengan mata yang berkaca-kaca
" Aku akan melepaskan mu, jika kamu mau menjadi simpanan ku." ujarnya, dengan mendekatkan wajahnya dan akan mencium Eva.
Brraakk
Terkejut saat pintu terbuka dengan keras hingga membuat pria itu berbalik arah untuk melihat siapa orang yang sudah berani mengganggu kesenangannya.
Memicingkan mata saat melihat orang yang ada di hadapannya, seperti mengenalnya hingga dia membulatkan mata dan merasa sedikit gugup saat berhadapan dengannya dan menutupinya dengan tersenyum.
" Arzan." lirih eva dengan menatapnya
__ADS_1
" Tuan Arzan.!" serunya dengan senyum licik.
" Waw, kau mengenal ku." jawabnya dengan santai.
" Siapa yang tidak mengenal anda tuan, pebisnis yang di takuti oleh semua orang." ucap pria itu.
" Termasuk kau." Ejeknya, hingga membuat pria itu menatap tajam, dan yang di tatap pun tersenyum dengan wajah yang datar serta aura yang dingin.
" Kau ke sini mau apa." tanya pria itu dengan dingin
" Memberi mu kesempatan." ucapnya, hingga membuat pria itu memicingkan mata. " lepaskan wanita itu atau perusahaan mu akan bangkrut." ujarnya lagi.
" hahahah, jadi dia wanita mu, kau pikir aku takut. Kau sekarang ada di markas ku dan jangan harap kau bisa keluar hidup-hidup dari sini." jawabnya dengan tertawa, mendekat pada Eva dan menyentuh rambutnya.
Rahang Arzan mengeras, menatap tajam pria yang sudah berani menyentuh Eva, ia pun tidak boleh gegabah saat bertindak karena dia berada tepat di sebelah Eva.
Doorr
"Arzaaann. " jerit Eva saat mendengar suara tembakan.
Bidikan yang sempurna dengan mengenai lengan pria itu, di saat pria itu lengah karena terlalu asyik memainkan ujung Rambut Eva.
Jatuh tersungkur dengan meringis kesakitan saat mendapatkan tembakan di lengannya, Arzan menghampiri Eva melepaskan semua ikatannya.
" Arzan." ucap Eva, berdiri dan memeluk Arzan, menenangkan wanita itu dengan masih menatap tajam pria yang meringis kesakitan.
" Urusan kita belum selesai." kata Arzan dan membawa Eva untuk keluar dari ruangan.
melihat kesempatan saat Arzan dan wanita itu berbalik membelakanginya ia pun segera mengambil pistolnya dan membidiknya tepat ke arah Arzan
Doorr
Meleset sempurna saat Arzan mengetahui jika ia akan di tembak, memeluk Eva mendekap wajahnya untuk berada di bidang dada dengan tangan yang menutup telinga Eva sebelum dia membalas tembakannya pada pria itu.
Bidikan yang tidak pernah melesat, mengenai lengan satunya lagi dan ke dua kakinya yang juga menjadi tembakan untuk Arzan yang sudah terlalu geram.
.
.
.
.πΈπΈπΈ
Lunas ya untuk dua kali upnya. ππ
__ADS_1