
"Kenapa mama dan papa tidak bilang jika mengadakan pesta, dan mengapa mengundang karyawan pabrik." Ucap Revan pada orang tuanya yang sedang menikmati teh di sore hari di rumah utama orang tuanya.
Ya, Revan yang saat itu selesai dari meetingnya sore hari pun kembali ke ruangannya, dan saat dia akan pulang ia sedikit tersentak kecil karna rizal mengatakan padanya jika orang tuanya mengadakan perayaan pesta hari jadi perusahaan dengan mengundang karyawan pabrik serta beberapa rekan kerjanya.
Revan yang terkejut akan tindakan orang tuanya untuk mengundang karyawan pabrik itu pun memutuskan untuk pulang ke rumah utama, dan meminta penjelasan kepada orang tuanya.
"Apa kamu lupa jika dua minggu yang lalu mama sudah bilang akan merayakan pesta hari jadi perusahaan." jawab mama Revan yang bernama Vani usia yang sudah berkepala empat itu tetap cantik dan awet muda.
"Aku tidak lupa ma, aku masih ingat. tapi kenapa mama harus mengundang karyawan pabrik.!"
"karna papa ingin merayakannya dengan mereka, mereka sudah bekerja keras membuat perusahaan papa maju pesat." jawab papa Gio, yang masih terlihat tampan dan gagah di usia yang menginjak kepala lima.
"Tapi pa-. "
"Itu sudah keputusan papa dan mama, dan kamu tidak bisa menolak ataupun membatalkannya." jawab tegas papa Gio. membuat Revan terdiam seribu bahasa dan menunduk kan kepalanya
Sedangkan orang tua Revan merasa heran dengan sikap anak semata wayangnya itu. tidak seperti biasanya Revan memprotes tindakan orang tuanya soal pesta. biasanya Revan tidak pernah menghiraukan acara seperti ini dan ia pun menerima apa saja yang sudah di persiapkan oleh orang tuanya itu serta akan mengikuti pestanya.
karna hari sudah malam mama Vani menyuruh Revan untuk menginap di rumah serta makan malam bersama, karna sudah lama Revan tidak pulang ke rumah. Revan pun mengangguk dan melangkah pergi untuk kemarnya.
Revan yang sudah berada di kamar begitu frustari karna dia belum sempat jujur pada Eva, dia takut jika Eva akan marah. dan dia pun juga belum bilang pada keluarganya jika Revan mempunyai kekasih.
acaranya besok malam, Apa aku harus jujur sekarang saja.! tapi ini sudah malam tidak mungkin aku mengganggunya. lebih baik besok pagi aku akan menemuinya dan jujur padanya." gumamnya dengan menganyunkan rambutnya ke belakang, Revan pun memutuskan untuk mandi agar pikirannya sedikit tenang.
.
ke esokan pagi.
Revan yang sudah berada di meja makan bersama orang tuanya itu, kini menikmati sarapannya bersama. mama vani merasa senang karena anaknya mau menginap di rumah utama.
"Revan, habis ini tolong anterin mama ya ke butik.?" Pinta mama Vani.
"Maaf ma hari ini pekerjaan aku banyak, aku tidak bis-."
"Pekerjaan kamu sudah di handel sama rizal, jadi antarkan saja mama kamu." ucap papa Gio, membuat Revan menatap papanya.
"kenapa papa menyuruh rizal."
__ADS_1
"Memangnya kenapa." Tanya balik papa Gio, membuat Revan hanya diam dan tak ingin membuat suasana pagi ini menjadi panas.
"Kamu tidak mau mengantar kan mama.?" ucap mama Vani dengan sedikit kecewa.
"Bukan begitu ma.? baik lah Revan akan mengantarkan mama ke butik." jawabnya dengan tersenyum karna tidak ingin membuat mamanya itu kecewa, mama Vani pun tersenyum dan merasa senang.
****
Setengah hari yang melelah kan. Revan yang mengira hanya mengantarkannya ke butik saja ternyata dia salah. awalnya hanya ke butik tapi lama kelamaan mamanya mengajak ke moll untuk mengambil perhiasan yang sudah beberapa hari di pesannya. Revan juga tidak mengerti mengapa mamanya itu menyuruhnya untuk memilih cincin perempuan, hingga dia menuruti permintaan mamanya dan memilih cincin yang sangat cantik itu.jika di suruh memilih ia lebih suka ke kantor karena rasa lelahnya yang bermanfaat.
sampai di rumah siang hari, karna merasa lelah ia memutuskan untuk beristirahat sebentar sebelum ke pabrik untuk menemui Eva.
mungkin karena dari semalam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak di tambah dengan rasa lelahnya itu saat mengikuti mamanya yang sedang berbelanja di berbagai tempat. membuatnya tidur terlelap dan melupakan niatnya ke pabrik.
tok tok tok.
Revan yang mendengar suara ketukan pintu beberapa kali itu membuatnya terbangun, dengan wajah bangun tidurnya ia membuka pintu.
"Ada apa bik.?" tanya Revan.
"Maaf den, bibik di suruh Nyonya untuk membangunkan den Revan karna sebentar lagi Nyonya dan Tuan akan berangkat ke gedung." kata pembantu Revan, Revan yang belum tersadar penuh itu langsung terkejut dan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan sore hari.
Revan menuruni anak tangga dengan tergesa gesa tanpa menghiraukan pembantu yang melihatnya. berada di ruang tamu Revan berhenti karena melihat asistennya duduk di sofa bersama papanya.
Rizal berdiri dan memberi hormat pada bosnya itu.
"Kamu di sini Zal.?" ucap Revan.
"Iya pak.?"
"dan pabriknya."
"Semua karyawan pabrik sudah pulang karna di pekerjakan setengah hari." jawabnya
"Setengah hari.!" pekik Revan.
"Papa yang memintanya untuk memulangkan mereka setengah hari, agar malam hari mereka bisa datang ke pesta." Jawab papa Gio.
__ADS_1
"dan kamu cepatlah bersiap siap kita akan berangkat bersama." Perintah papa Gio.
sial, setengah hari kenapa Rizal dan Papa tidak memberitahuku dahulu.!!" gumamnya dalam hati.
Revan menurut, ia pun segera kembali ke dalam kamarnya. di dalam kamar Revan duduk di samping ranjang dengan pikiran yang sangat kacau, ia pun mulai teringat dengan ponselnya. melihat ponselnya yang berada di laci ia segera mengambil dan menyalakannya tapi sial ponselnya mati dan lupa untuk tidak mengisi batrainya.
suara ketukan pintu terdengar, dengan ucapan Rizal yang menanyakannya.
"Pak Revan, apa bapak sudah siap.?" tanya Rizal dari balik pintu.
"tunggu sepuluh menit lagi, aku akan turun.!" jawabnya.
mau tidak mau Revan harus bergegas untuk membersihkan diri dan berpakaian rapi serta ikut ke acara pesta yang sudah di siapkan oleh orang tuanya itu.
dua puluh menit Rizal menunggu bosnya itu di bawah dengan rasa bingung. tidak seperti biasanya bosnya itu tidak tepat waktu seperti ini.
Revan yang sudah turun dan melihat Rizal sendiri segera menghampirinya.
"Pak." sapa Rizal dan berdiri sedikit membungkuk hormat.
"Kau kenapa tidak bilang kemarin jika pabrik hanya setengah hari bekerja.!" seru Revan.
"Tuan Gio menelpon saya tadi pagi pak untuk mempekerjakan karyawan setengah hari."
"Apa kau tau kabar Eva bagaimana.?" tanya Revan, membuat Rizal menggelengkan kepala karena sedari tadi pagi dia sangat sibuk.
Revan hanya bisa menarik nafas beratnya dan mau tidak mau dia harus pergi. Revan pun berjalan terlebih dahulu dan di ikuti asistennya dari belakang.
.
.
.
🌱🌱🌱🌱
eh eh eh kok gitu sih.!! babang kadal takut gaes.!!
__ADS_1
Vote yuk buat babang kadal biar semangat.