Eva My Life Line

Eva My Life Line
penculikan


__ADS_3

Melepas kan mu untuk bersama dia adalah jalan terbaik, karena aku tau jika hati mu sudah tidak untuk diri ku lagi.


.


.


.


.


Menghembuskan nafas berat saat ia sudah menemukan keputusan yang sangat sulit, dari semalam yang dia pikirkan adalah Eva yang sangat berubah dratis.


Seperti dia menghindar, dia tidak nyaman dengannya, dia yang tidak seperti dulu saat masih menjadi kekasihnya.


Bukan kesalahan Eva jika dia berubah, kesalahan itu berawal dari dirinya sendiri saat Eva di hina oleh mamanya ia hanya diam, saat Eva mencoba bertahan dia yang memutuskan hubungannya dan memilih keputusan mamanya.


Revan sangat mengerti bagaimana tertekannya dulu saat Eva bersamanya, saat bagaimana dia mencoba bersabar dan mengalah, saat bagaimana dia di tinggalkan begitu saja tanpa kabar olehnya.


jika dulu bisa di ulang kembali, ia ingin mengulang semuanya, mengulang bagaimana caranya untuk mengubah kesalahannya agar Eva mencintainya lagi.


Jika boleh egois ia ingin egois untuk mendapatkan Eva dengan cara yang licik, mungkin dengan cara membuat dia hamil agar Eva tetep bersamanya.


Tapi jika itu dia lakukan sama saja dia bejat dan seperti mantan suami Eva, dia tidak mau membuat wanita yang dia cintai menderita atau membencinya.


hingga itu ia memutuskan untuk merelakan Eva bersama pria lain dan cukup biarkan cintanya dia pendam sendiri membawanya pergi dengan kenangan terindah.


" Bapak melamun!" tegur Rizal hingga membuat Revan menatapnya saat ia berada di ruang kerja.


" Galau Zal."


" Galau?" dengan mengerutkan keningnya. " Ada apa lagi bos.!" ucapnya.


" Ahhh!" serunya dengan menghembuskan nafas berat.


" Kalau dia sudah tidak cinta, apa yang harus aku buat.?" ujarnya lagi


" Ya tinggalin saja.!" kata Asistennya dengan gamplang, hingga membuat Revan menatapnya dengan tajam dan mengambil bulpoin untuk melemparkannya ke arah Rizal.


beruntung Rizal segera menghindar saat mengetahui bulpoin itu melayang ke arahnya, jika tidak menghindar sudah sakit itu jidatnya.


" Aku minta saran yang baik, malah kamu menyuruh ku untuk ninggalin dia." gerutunya

__ADS_1


" Itu saran yang baik bos! serunya lagi " kalau dia sudah tidak cinta lagi jangan di paksakan, nanti akan sama sama tertekan dan akan saling menyakiti. lepaskan mungkin belum jodohnya." jawab Rizal dengan serius


yang di katakan Rizal memang benar, jika sudah tidak cinta lepaskan, biarkan dia pergi untuk menemukan cinta yang sesungguhnya, jika kau mengurungnya dia akan semakin menjauh dan akan saling menyakiti dan membenci.


itu bukan cinta sejati, tapi hanya cinta posesif yang hanya di miliki satu orang tapi tidak untuk pasangannya.


cinta itu memang rumit, kita yang menjaganya dia yang mendapatkannya. Ia yang menyuruhnya bertahan, ia pula yang memutuskan berpisah.


" Tumben jomblo akut sarannya seperti mario teguh." ucapnya.


"Jomblo akut!" dengan memicingkan mata " Bukan jomblo akut, hanya saja belum mendapatkan yang pas." ujarnya lagi dengan lesu.


" Bilang saja belum laku!!" ejek bosnya dan berdiri merapikan bajunya, Rizal hanya mengumpat kesal akan ejekan bosnya.


" Aku tinggal sebentar, hendel pekerjaan ku kalau bisa sampai nanti pulang." ujarnya lagi, dan meninggalkan Asistennya yang sudah merasa lemas akan pekerjaan yang menumpuk lagi.


nasib jadi asisten!" gumamnya dengan wajah yang lesu.


Revan yang sudah berada di dalam mobil ia segera mengirim pesan pada seseorang yang sudah membuatnya galau.


Apa kamu lagi kerja." pesan Revan pada Eva.


Iya, kenapa." jawab Eva yang sedikit lama.


Kapan? "


Jam istirahat, aku tunggu di depan tempat kerja kamu." balas Revan


Iya, kalau sudah sampai kabarin." jawab Eva, Revan hanya melihatnya dan tidak membalas hingga dia menyalakan mobil dan bergegas untuk bertemu dengan Eva.


******


Eva yang sedang bekerja sedikit mengerutkan keningnya saat Revan meminta untuk bertemu dengannya dan ingin mengatakan sesuatu padanya.


penasaran dan bertanya pada dirinya sendiri saat tidak seperti biasanya Revan mengirim pesan seperti itu.


jam yang sudah menunjukkan hampir siang hari dan waktunya untuk beristirahat ia pun mulai bergegas untuk menyelesaikan pekerjaannya agar ia bisa bertemu dengan Revan.


Eva yang telah selesai bekerja dan berada di ruang locker menerima sebuah pesan dari Revan yang mengatakan jika dia sudah berada di depan hotel.


tidak ingin Revan menunggunya Eva pun segera keluar hotel untuk menghampirinya.

__ADS_1


keluar dari hotel menengok ke sana ke mari saat ia melihat Revan melambaikan tangan yang berada di depan mobil dengan tersenyum dan sedikit jauh dari hotel itu.


Eva yang akan menghampiri Revan, di kejutkan saat mobil hitam berhenti tepat di sampingnya.


melihat dua pria yang keluar dari mobil dan dari salah satu orang itu membekap wajah Eva hingga membuatnya terkejut dan swdikit memberontak sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.


Revan yang melihatnya pun segera berlari untuk menghampiri ke dua pria itu saat Eva yang di masukkan ke dalam mobil.


mobil penculik itu dengan cepat melesat pergi saat Revan sudah berada di belakangnya dengan berlari mengejarnya.


" Sial!" gerutu Revan hingga dia berbalik arah untuk kembali ke dalam mobilnya dan mengejar penculik itu dengan mengendarainya begitu kencang, karena dia begitu khawatir dengan Eva.


Arzan yang sedang meting dengan klainnya segera pergi dari ruangan itu dengan tatapan amarah saat mendapatkan telepon dari anak buahnya yang mengabarkan jika Eva di culik, tidak peduli dengan tatapan klainnya yang sedang menunduk takut saat melihat wajah Arzan yang sedang marah dan menyuruh asistennya untuk menunda rapat tersebut.


" Kejar mobil itu jangan sampai kehilangan jejak.!" Kata Arzan saat menelpon anak buahnya.


" Baik Tuan.?" jawabnya dari sebrang sana, sebelum Arzan mematikan sambungannya.


mengaktifkan Gps untuk menemukan anak buahnya yang sedang mengikuti mobil yang menculik Eva.


Menyuruh Asistennya untuk mengikuti arah petunjuk Gps itu, menancap gas begitu kencang untuk menemukan anak buahnya yang sudah mengikuti mobil penculik.


mobil hitam yang sudah melaju cepat dan berhenti tepat di depan rumah tua yang tidak berpenghuni.


Membawa tubuh Eva masuk ke dalam rumah itu, dan mengikat tangan serta kakinya di kursi dan meninggalkannya dengan lampu yang remang.


"Kami sudah membawanya bos?" ucap penculik itu pada bosnya, hanya mengangguk kecil dan mengibaskan tanganya pada anak buahnya untuk pergi dari hadapannya.


seringai licik saat dia memasuki ruangan penyekapan pada Eva, melihat Eva yang masih tidak sadarkan diri dengan tangan yang terikat, memandangi tubuh Eva dari atas ke bawah, melihat jenjang kaki Eva yang mulus membuatnya menelan salivanya dengan kasar hingga ia beralih menatap wajah Eva.


Cantik.!" gumamnya denga tersenyum.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃


Maaf atas keterlambatannya.😇

__ADS_1


Yuk Vote, like, dan komen.


__ADS_2