Eva My Life Line

Eva My Life Line
permintaan maaf


__ADS_3

Seperti ini yang aku ingin kan, bersama keluarga saat berada di meja makan. Tapi sayang, ini bukanlah keluarga ku yang sesungguhnya.


.


.


.


.


" Ayo kita makan malam, tante sudah menyiapkan semuanya.?" ajak Nyonya Vani pada mereka semua dan di anggukkan oleh Eva tersenyum ramah,


Nyonya Vani begitu senang hingga ia menggandeng tangan Eva dan berjalan ke arah meja makan.


" Ayo nak Arzan." sapa ramah Tuan Gio pada Arzan yang masih mematung di tempatnya, hingga ia pun mengangguk sekilas dan tersenyum tipis.


Arzan dan Revan berjalan di belakang Tuan Gio, seperti mengekori induknya yang menunjukkan arah untuk kembali ke dalam sangkar.


Nyonya Vani yang duduk di sebelah Eva, Arzan dan Revan yang duduk bersamaan dan Tuan Gio yang duduk sebagai kepala keluarga. Seperti keluarga yang sesungguhnya di mata Arzan, keluarga di mana yang ia ingin kan, yang ia rindukan, sungguh ini adalah momen yang sangat berharga dan akan ia ingat untuk selamanya. walaupun entah nanti ia akan singgah lagi atau tidak, karena ini bukan keluarganya.


Andai, andai saja Arzan seperti keluarga ini mungkin dia tidak akan kesepian, mungkin dia tidak akan sedingin ini, mungkin dia tidak akan benci dengan semua yang ia alami.


Mempunyai kekayaan tapi tak mempunyai keluarga bukan itu keinginannya, jika ia bisa memilih ia lebih senang hidup sederhana dan mempunyai keluarga yang utuh, apa lagi kasih sayang dari seorang ibu.


Jika cinta pertama seorang putri untuk ayah maka cinta seorang putra adalah ibu, bukan kah begitu.


Nyonya Vani begitu semangat mengambilkan makanan untuk suami dan ke dua putranya, serta pada Eva, mengambilkan makanan untuk Arzan dengan ragu-ragu tidak ada penolakan saat nasi sudah berada di piring putranya dia menerimanya dan tak menolak sedikit pun saat Nyonya Vani mengambilkan makanan untukya.


sedikit mulai luntur kemarahan dan kebencian yang ada di hatinya kala ibunya melakukan hal kecil untuknya.


" Terima kasih." ucap Arzan tulus pada Nyonya Vani dengan wajah yang masih dingin saat selesai mengambilkan makanan untuknya.


Hanya ucapan terima kasih Nyonya Vani begitu senangnya, pancaran mata kebahagiaan saat sang anak mulai mau berbicara padanya walaupun hanya satu kata saja.


Makan dalam ketenangan ingin berbicara lebih tapi itu tidak mungkin, karna expresi Arzan yang masih dingin dan belum bersahabat. tapi makan malam ini begitu nikmat karena lengkap sudah kebahagiaannya, rindu yang selama bertahun tahun ia pendam sendiri kini sudah terbalaskan oleh kehadiran mantan putra tirinya itu.

__ADS_1


selesai dengan makan malam kini mereka beralih ke ruang tamu untuk duduk di sana dan sedikit mulai mengobrol, Tuan Gio mulai mengajak Arzan untuk mengobrol dan bertanya soal pekerjaannya, menjawab dengan seadanya dan sopan tidak terlalu banyak yang di ucapkan Arzan.


melihat Arzan yang sudah sedikit berubah dan tidak sedingin dulu saat pertama kali bertemu membuat hati Nyonya Vani merasa senang.


beralih menatap Eva dan mulai untuk menanyakan sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Eva?" sapa Nyonya Vani


" Iya." jawabnya dengan menatap sekilas


" Apa kamu masih mencintai Revan." tanya Nyonya Vani, hingga membuat Eva menatapnya begitu pun Arzan dan Revan yang menatap Nyonya Vani dan beralih menatap Eva untuk mendengar jawabannya.


" Kenapa Anda tanya begitu Nyonya." ucap Eva.


" Tante hanya tanya saja, maafkan tante karena tante kamu dan Revan berpisah." ucapnya lirih dan menyesal atas perbuatannya.


" Tidak apa apa Nyonya, mungkin kita belum berjodoh." jawab Eva dengan tersenyum, perkataan yang keluar dari bibir Eva membuat hati Revan sedikit kecewa.


" Apa kamu tidak ingin menikah dengan Revan." ucapnya yang membuat suasa menjadi tambah dingin.


Rasanya sulit untuk Eva menjawab, di kala dulu ia masih bersama Revan Nyonya Vani selalu menghinanya di permalukan di depan umum, menatapnya dengan kebencian dan tidak suka dengan terang terangan. sungguh jika mengingat itu rasanya ia marah dan ingin menangis.


" Apa kamu tau semuanya Eva.?" tanya Nyonya Vani dengan ragu ragu, yang membuat Eva tersenyum dan kini mengerti kenapa Nyonya Vani begitu berubah dengannya, menyuruh Revan untuk mengajaknya makan malam di rumahnya.


" Iya." jawabnya dengan singkat dan tersenyum.


" Kenapa kamu tidak memberitahukan pada kami." tanya Nyonya Vani.


" Saya bukan orang yang suka membicarakan keburukan orang lain, dan bukan selera saya untuk mencari muka pada siapa pun. Percaya kepada orang sebelum kita melihatnya sendiri itu sangat tidak baik Nyonya, apa lagi mereka menuduh yang tidak tidak." tegasnya, yang entah mempunyai keberanian dari mana itu.


Seperti sebuah sindiran halus pada Nyonya Vani yang begitu percayanya pada orang hanya karena dia adalah teman arisannya hingga gampang terhasut dan membenci mantan pacar anaknya itu.


"Maaf kan tante Eva.?" jawabnya, Eva pun meraih tangan Nyonya Vani dan menggenggamnya dengan lembut.


" Aku sudah memafkan Nyonya." ucapnya dengan tersenyum tulus, dan Nyonya Vani pun ikut tersenyum serta memeluk Eva.

__ADS_1


" Terima kasih." katanya saat pelukan itu terlepas dan di anggukkan oleh Eva.


" Karena sudah malam saya pamit pulang, terima kasih atas makan malamnya." ucap Eva untuk mengakhiri obrolannya atau mungkin ia ingin menghindar secara halus.


" Iya sama sama Eva, sering-sering datang ke rumah ya tante pasti kesepian." ujar Nyonya Vani, sedikit mengangguk untuk mengiyakan dan tersenyum agar mama Revan merasa senang.


Eva pun berdiri di susul oleh Arzan dan Revan dan orang tua Revan yang juga ikut berdiri, berjalan ke arah pintu keluar untuk mengantarnya pergi dari rumahnya.


" Arzan, terima kasih sudah mau datang ke rumah mama." ucap Nyonya Vani dengan menatap mantan putra tirinya dengan tersenyum hangat, hanya anggukkan kecil dan tersenyum sekilas untuk membalasnya.


" Kalau begitu kami pamit pulang dulu, selamat malam Nyonya, Tuan." ujar Eva.


" Hati hati di jalan." ucap Nyonya Vani dan Tuan gio.


" Biar aku antar kalian pulang." ujar Revan.


" Tidak usah terima kasih, sopir saya sudah menunggu sedari tadi di depan, biar Eva pulang dengan saya." tolak Arzan halus pada Revan, membuat Revan menatap Eva.


" Biar aku pulang sama Arzan, Terima kasih makan malamnya." kata Eva dengan tersenyum, dan entah kenapa Revan hanya mengangguk kecil dan tidak bisa berbuat apa apa saat Eva memilih untuk pulang bersama Arzan.


" Hati-hati." ucap Revan dan di anggukkan oleh Eva.


melihat Eva berjalan bersampingan dengan Arzan membuat hatinya sakit.


Kini aku tau jika kau perlahan menjauh dari ku.! gumam Revan dengan menatap punggung Eva hingga tidak terlihat saat pintu pagar sudah tertutup rapat.


.


.


.


.🌸🌸🌸🌸


Hayoo!! pasti marah kan sama Eva.😁😁

__ADS_1


tapi bukan salah dia juga lho ya.


Vote, like komen yuk.πŸ˜‡


__ADS_2