Eva My Life Line

Eva My Life Line
bertemu sahabat


__ADS_3

Pandangan setiap pagi ku saat ini adalah kamu, yang tertidur lelap dengan wajah yang damai membuat hari ku semakin cinta.


.


.


.


pagi hari yang terasa hangat, sepasang suami istri yang masih setia berada di dalam selimut saat mereka baru saja tertidur akibat pergulatan yang panas.


Mengerjabkan mata saat ia merasa terganggu karena alarm ponsel yang berbunyi.


Mencari benda pipih yang ada di laci tanpa bangun dan mematikan alarm itu agar tidak mengganggu suaminya.


Melihat pemandangan di pagi hari dengan wajah yang damai saat tertidur lelap menghadapnya dengan tangan yang berada di pinggangya. Menyentuh pipi suami dan mengusapnya dengan lembut, tersenyum saat ia mengingat percintaannya dengan Arzan, mengingat bagaimana dia memperlakukan Eva dengan lembut dan sayang.


Jika nanti kita mempunyai anak, aku berharap dia seperti kamu. mempunyai sifat tangguh, sabar dan penyayang." gumam Eva dengan tersenyum dan mencium pipi Arzan.


Menyelimuti tubuh suaminya yang bertelanjang beranjak turun dari ranjang, mengambil baju yang berserakan di lantai dan berjalan menuju kamar mandi.


melihat ke arah kaca yang berada wastafel memandangi tubuh atasnya yang penuh dengan tanda merah di setikar dadanya karena perlakuan Arzan.


" Tanda cinta.?" ucapnya dengan lirih serta tersenyum saat ia menyentuhnya.


Berendam cukup lama untuk mengurangi rasa remuk di tubuhnya karena ulah Arzan yang semalam meminta lebih dari biasanya. Sungguh ia pun ingin marah tapi tidak bisa, karena dia juga menikmatinya, menikmati sentuhan suaminya, menikmati semua perlakuan lembut suaminya.


Berjalan menuju ruang ganti, memilih pakaian yang sedikit tertutup di bagian leher untuk menutupi tanda merah yang ada di tubuhnya agar tidak terlihat oleh orang lain karena ia sangat malu.


" Ay.?" panggil Arzan, mendengar suara suami yang memanggilnya ia pun keluar dari ruang ganti dan menghampiri suaminya yang masih berbaring.


" Kamu sudah bangun.?" tanya Eva dan duduk di samping suaminya.


" Hmm." jawabnya dengan mengubah posisi kepala untuk berada di pangkuan istrinya.


" Eh.!" sedikit terkejut saat Arzan tidur di pangkuannya. " Aku mau masak lho Ay.!" serunya dengan mengusap kepala Arzan.


" Enggak usah masak kan ada bibik." jawabnya dengan malas.


" Kan aku masakin buat kamu Ay?" jawab Eva " Nanti aku ijin mau ke rumah Ana ya, dia katanya sudah pulang." ucap Eva.

__ADS_1


" Jam berapa." tanya Arzan.


" Nanti agak siangan boleh ya Ay?" mohon Eva.


" Iya boleh, biar nanti di antar sama sopir." kata Arzan, membuat Eva senang dan mencium kepala Arzan.


" Terima kasih?" ucap Eva " Kamu enggak kerja." tanyanya.


" Nanti agak siang, hanya bertemu dengan klaien." jawab Arzan.


" Ya sudah ayo minggir Ay.! aku mau masak, mau nyiapin baju kamu juga." kata Eva dengan memukul pelan lengan suaminya.


Dengan menghembuskan nafas berat, serta dengan malas ia pun mulai duduk persis di depan sang istri dengan wajah khas bangun tidur.


" Aku siapin baju kamu ya, cepat mandi.?" perintah Eva, hanya mengangguk serta tersenyum pada sang istri.


Berdiri untuk beranjak pergi hingga tanpa di duga tangan Eva di tarik oleh Arzan hingga membuatnya terjatuh di atas tubuh suaminya.


mengunci tubuh istrinya yang berada di atas dan tersenyum saat istrinya merasa sebal.


" Ay, lepasin.!" ucap Eva dengan sebal.


" Berurusan dengan kamu di ranjang gak kelar kelar Ay.!" cibik Eva membuat Arzan tertawa. " Ayo ah lepasin." ujarnya dengan sedikit memberontak.


" Cium dulu baru aku lepasin."


" Cuma cium aja kan, enggak lebih." ucap Eva dan di anggukkan oleh Arzan.


Hanya menempelkan bibirnya pada bibir Arzan saat akan melepaskannya, Arzan sudah lebih dulu menahan tengkuk leher Eva menahan sang istri untuk menciumnya lebih lama dan berakhir saat Eva mulai kehabisan nafas.


Memukul kecil dada suaminya, merasa sebal karena ia di bohongi, sedangkan Arzan tertawa puas melihat wajah istrinya yang cemberut.


" Selamat pagi sayang.?" ucap Arzan dan mencium kening Eva.


" Pagi juga." jawab Eva " Udah lepasin Ay, nanti kamu telat kerjanya.?" ujar Eva dan Arzan pun melepaskan pelukannya.


" Cepetan mandi.!" ucap Eva, beranjak dari atas tubuh Arzan dan pergi dari hadapan suaminya dengan berjalan cepat membuat Arzan tersenyum senang di pagi ini.


Eva yang telah menyiapkan baju Arzan, kini ia beranjak pergi dari kamar untuk turun membantu bibik yang sedang memasak.

__ADS_1


Menyiapkan teh di pagi hari untuk Arzan dan menyiapkan makanan untuk suaminya, kini mereka makan bersama dengan tenang.


Mengantarkan suami ke depan pintu saat ia akan berangkat bekerja, mencium tangan Arzan dan mendapatkan balasan mencium keningnya.


****


" Pak, kita berhenti dulu ya di toko kue.?" ucap Eva pada sopir, saat mereka sudah keluar dari rumah untuk menuju ke rumah Ana


" Baik, mba." ucap sopir.


Mencari toko kue terdekat tidak jauh dari jalanan arah rumah Ana, berhenti tepat di depan toko kue.


Keluar dari mobil, berjalan untuk masuk ke dalam toko kue. Mencari beberapa kue kesukaan Ana.


Saat ia akan mengambil kue yang ada di hadapannya, supit yang Eva pegang bersenggolan dengan orang yang sama ingin mengambil kue itu.


" Ah maaf." ucapnya dan menatap wanita yang ada di sampingnya.


" Tia.?" sapa Eva dengan sedikit terkejut.


" Eva." lirih Tia dengan sama sama terkejut. " Maaf." ujarnya dan pergi Meninggalkan Eva yang sedang menatapnya.


Menatap kepergian mantan sahabatnya yang terlihat sedikit kurus dengan wajah yang pucat. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan Tia, terakhir dia bertemu saat ia meminta padanya untuk melepaskan suaminya dari dalam penjara.


Kenapa dengan dia.!" gumam Eva.


Mengambil kue yang ada di hadapannya dan membawanya ke kasir. Saat ia keluar ia melihat Tia yang berjalan dengan tubuh yang lemas, memperhatikannya hingga tubuh itu terjatuh.


" Tia.!" teriaknya dan berlari untuk menghampiri mantan sahabatnya yang sedang tergeletak di jalan.


" Tia.!" ucapnya dengan menepuk pipi Tia " Tolong! tolong!." teriaknya untuk meminta bantuan pada orang di sekitar hingga security serta beberapa orang menghampirinya.


" Mba Eva.?" sapa sopirnya.


" Pak, tolong bantu saya bawa dia ke rumah sakit." ucapnya dengan nada khawatir.


Sopir serta dua orang membantu mengangkat tubuh Tia untuk membawanya ke mobil Eva.


berada di belakang memangku kepala Tia, menyuruh sang sopir untuk segera membawanya ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Melihat wajah Tia yang pucat dan tubuh yang kurus seperti tak terawat membuatnya merasa iba. Sungguh ini bukan seperti Tia yang dulu.


__ADS_2