
Kesalahan aku adalah tidak pernah mengasih kabar untuk mu, sebab itu kamu berfikir aku menghindari dari mu.
.
.
.
Tepat tujuh minggu Revan berada di singapure untuk memperbaiki masalah cabang pabriknya di sana.
Pabrik yang mengalami kekacaun yang begitu parah hingga menghabiskan waktunya tanpa memikirkan orang yang sedang menunggu kepastian tentang hubungannya.
mendesah, saat rasa lelahnya terbayar sudah dengan pabrik yang mulai kondusif dan stabil karena kerja kerasnya yang menyita waktu begitu lama di negara orang.
Malam hari Revan yang masih berada di kantor dengan berdiri dan menatap luar jendela yang sunyi serta gelap itu sedang tersenyum dan memikirkan kekasihnya.
Sudah lama ia tidak mengabari Eva dan sudah lama pula dia tidak melihat wajah kekasihnya itu. Rindu yang amat dalam membuatnya ingin segera pulang.
Membuka ponsel dengan mencari nomer kekasihnya untuk mencoba menelponnya.
Saat mencoba menekan panggilan bukannya nomer terhubung tapi terdapat jawaban nomer tidak aktif, hingga membuat Revan mengerutkan keningnya.
Mencoba menghubunginya lagi, akan tetapi tetap sama nomer Eva tidak aktif hingga membuatnya khawatir.
Revan pun segera menghubungi asistennya untuk mencoba mencari tau keadaan Eva. Butuh tiga puluh menit hingga dia mendapatkan kabar jika Eva sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya satu minggu yang lalu.
Bagai di sambar petir siang bolong, ia begitu terkejut saat mendengar kabar dari asistennya jika Eva sudah tidak bekerja lagi di pabriknya. sungguh ia tidak tau kenapa kekasihnya itu mengundurkan diri dari pekerjaannya serta menghilang begitu saja darinya.
Menyuruh asistennya untuk memesan tiket penerbangan untuk esok hari pulang ke negaranya.
Dari kesalahannya sendiri di waktu dinner bersama kekasih dan kedua orang tuanya ia tidak langsung menghubungi Eva, ia hanya menunggu kekasihnya itu di tempat kost saat mengetahui Eva belum pulang untuk memberitaukannya jika semua baik baik saja.
Cukup lama waktu itu menunggu hingga datangnya hujan tetap saja Eva belum pulang sampai ia menelpon Eva hingga beberapa kali tetap saja tidak di angkat.
Saat akan menelpon kekasihnya kembali, ponsel Revan berdering dengan nama asistennya. mengabarkan jika perusahaan yang berada di luar negri sedang mengalami kekacaun hingga membuatnya mau tidak mau ia harus meninggalkan tempat kost Eva untuk segera terbang ke singapure.
__ADS_1
****
Eva yang menikmati harinya selama satu minggu di rumah budhenya itu nampak merasa tenang serta hangat akan kenyamanan dalam rumah yang berlantai dua dengan pemandangan yang asri.
Eva yang sudah berpakaian rapi itu segera turun dari kamarnya yang berada di lantai atas. Melihat budhe dan paman yang berada di teras menikmati siang harinya bercengkrama bersama ai pun segera menghampirinya.
"budhe, paman." sapa Eva
"Eh, putri budhe yang cantik ini mau kemana kok rapi sekali.?" ucap budhe saat melihat penampilan eva yang rapi dan cantik.
" Eva mau main ke panti, sudah lama Eva tidak berkunjung ke sana budhe.?" jawab Eva.
" Paman, Eva pinjam motornya ya.?" pinta Eva.
" Jangan yah, antar saja putri kita ke panti. ibu khawatir nanti di jalan malah di ganggu orang.?" sahut cepat budhenya yang memang merasa khawatir karena banyak pria kampung yang mengincar Eva.
" Budhe ih! mana ada yang mau sama Eva." serunya.
" Ada banyak, buktinya tu pas anterin budhe ke pasar. banyak sekali yang minta kenalan ke putri budhe, sampi pulang di buntutin lagi." keluhnya dengan mengingat kejadian waktu di pasar.
" Ayo paman anterin, nanti pulangnya biar di jemput sama Mas kamu." kata paman Eva dan mengambil kunci motor di dalam rumah
Eva hanya bisa pasrah dan mengangguk karena dia tidak bisa ngebantah perkataan pamannya sedangkan budhenya merasa senang karena Eva menurut.
Sebelum ke panti Eva dan Pamannya pergi dahulu ke supermarket untuk membeli beberapa cemilan dan kebutuhan di panti.
Tidak terlalu jauh dari supermarket mereka pun sudah sampai di tempat panti. sedikit sepi mungkin karena siang dan waktunya mereka untuk tidur di siang hari.
Melihat pengasuh panti yang datang menghampiri Eva dan paman dengan tersenyum serta menyapanya dengan ramah.
Paman yang tidak bisa berlama lama di panti itu berpamitan pulang dan bilang pada Eva jika kakaknya itu akan menjemputnya di panti.
Mengajak Eva untuk berkeliling panti yang sudah lama tidak ia kunjungi dan melihat sebagian anak kecil yang tertidur pulas.
Saat berada di dapur ia membantu ibu panti memasak untuk makan malam. sedikit mengobrol saat Eva yang jarang sekali datang ke panti waktu masih di kota. Meskipun jarang ke panti tapi dia tidak lupa jika setiap bulannya selalu mendonaturkan sebagian uang gajinya untuk panti meskipun tidak seberapa banyak.
__ADS_1
saat sore tiba anak anak sudah mulai terbangun dan mereka mulai bermain di taman, eva malai menghampiri mereka. mungkin karna anak anak panti sudah hafal betul dengan wanita di hadapannya seketika itu mereka memeluk tubuh Eva bersamaan hingga membuat tubuh Eva tidak terlihat.
bersamaan dengan Eva yang di kerumuni oleh anak-anak panti, sepasang mata menatap ke arahnya dengan sidikit menatapnya tidak percaya akan di pertemukan kembali.
Arzan, pria dingin yang menjadi donatur tetap di panti itu sedang menatap Eva dengan mata yang sulit di artikan saat ia baru saja menginjakkan kakinya di halaman panti.
Seperti takdir di pertemukan tiga kali tanpa sengaja, tapi kali ini pertemuan ke tiganya dengan wanita itu yang sedikit berbeda.
Melihat wanita itu dari jauh dengan senyum dan tertawa bersama anak kecil membuat dia tersenyum tipis.
Entah kenapa kaki Arzan begitu saja melangkah ke arah wanita itu bersama dengan anak-anak yang sedang berada di taman.
" Kak Arzan!!" teriak salah satu anak kecil yang melihat Arzan berjalan ke arah taman.
Sontak saja semua anak yang ada di sana berhenti bermain dan menatap ke arah Arzan, gadis kecil yang berumur empat tahun itu berlari kencang ke arahnya dan segera memeluk tubuh pria yang sudah berjongkok itu.
Semua anak panti menyambut kedatangan Arzan dengan tersenyum dan berkerumun mendatangi sang donatur itu.
" Ambil lah semua yang ada di bagasi mobil.?" perintah Arzan pada anak laki-laki dengan mengacak rambutnya.
Anak laki laki itu antusias dan berlari ke arah mobil Arzan bersama teman temannya untuk mengambil bingkisan kantong plastik yang begitu banyak akan makanan ringan serta mainan untuk mereka.
Eva yang merasa tak asing dengan wajah pria itu, membuatnya sedikit terkejut karena ia bertemu dengan pria itu lagi. Pria yang menolongnya ke dua kali dan belum mengembalikan jas serta pakaian dari dia.
.
.
.
🍁🍁🍁🍁
Turut berduka cita atas jatuhnya pesawat Sriwija air Sj182.
semoga amal ibadah mereka di terima di sisi Allah dan semoga keluarga yang di tinggalkan mendapatkan ketabahan serta keiklhasan yang teramat dalam.
__ADS_1
Amin.