Eva My Life Line

Eva My Life Line
Panggilan yang sempurna


__ADS_3

Aku suka dengan panggilan kamu sekarang, terasa merdu di telinga dan terasa nyaman di dalam hati. Tetaplah seperti ini dan jangan malu untuk memanggil ku di depan semua orang.


.


.


.


.


" Zan.! aku sudah siap ayo." ucap Eva dengan semangat saat menghampiri suaminya di ruang keluarga.


seperti tidak mendapatkan respon dari suaminya yang masih fokus dengan laptopnya hingga berkacak pinggang tepat di samping duduk Arzan dengan berdiri.


" Arzan.!!" serunya lagi, membuat Arzan beralih menatap sang istri.


" Hmm, iya ada apa." tanya Arzan


" Kok ada apa sih Zan?" dengan mengerutkan keningnya. "katanya mau ajak malam mingguan.!" ujarnya lagi dan masih melihat Arzan yang fokus dengan laptopnya lagi.


Seperti tidak mau di cuekin sama sang suami dan tidak mau gagal dalam berkencan hingga dia terpaksa harus mengeluarkan jurus rayuan maut.


" Ay?." sapa Eva dengan menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa tawa dan geli karena ini pertama kali dia memanggil seseorang dengan panggilan sayang.


Tersenyum samar saat sang istri memanggilnya sayang, karena inilah yang dia inginkan. Memang sengaja sedari tadi dia mencoba untuk tidak merespon sapaan Eva yang memanggilnya nama.


Mendongakkan kepala untuk menatap istri tercinta yang bersemu merah di pipinya. Menarik tangan sang istri dan mendudukkannya di atas pangkuannya serta merekatkan ke dua tangan di pinggang sang istri.


Sedikit terkejut saat Eva sudah berada di pangkuan Arzan dengan tubuh yang sudah terkunci, menatap sang suami yang tersenyum melihatnya.


" Kamu tadi manggil aku apa." tanya ulang Arzan.


" Manggil apa. orang aku enggak manggil kamu." elak Eva.


" Telinga ku masih jelas lho Sayang kamu manggil aku apa." ucap Arzan dengan masih menatap Eva.


Yang di tatap merasa malu memalingkan wajahnya dengan tersenyum dan menggigit bibir bawahnya. Melihat Eva seperti itu membuat Arzan semakin ingin menggodanya, menggelitik tubuh Eva hingga membuat Eva menggeliat dan tertawa.


" Ay, geli.!!" ucapnya dengan tertawa, dan arzan masih saja menggelitik tubuh istrinya


" sudah sukup ampun Ay." ujarnya lagi hingga membuat Arzan senang dan mendekap tubuh istrinya dengan gemas.


" Geli tau.!! nakal ih.!" katanya dengan sebal dan memukul lengan suaminya.


" Tetap manggil aku seperti tadi ya, aku suka?" pinta Arzan dan mencium pipi istrinya.

__ADS_1


" Enggak gratis ya, uang bulanan harus nambah." jawab Eva, hingga membuat Arzan tertawa.


" Kan kartu Atm sudah aku kasih kamu semua Ay." jawab Arzan.


" Hahahah, termasuk cinta kamu." tanya Eva, membuat Arzan semakin tertawa.


" Sudah aku bilang cinta ku hanya untuk kamu, perlu aku buktikan sekarang." kata Arzan.


" Apa buktinya."


" ayo ke kamar."


" ngapain.?" dengan mengerutkan kening.


" buat Dedek." bisik Arzan di telinga Eva, memukul lengan Arzan dengan gemas serta mengerucutkan bibirnya.


" Itu mau kamu." cibiknya " Ayo kencan Ay." pinta Eva dan mengalungkan tangannya ke leher Arzan dengan merayunya agar bisa jalan bersama.


" Kalau begini gak jadi keluar deh Ay, ke kamar saja cukup untuk kencan." jawab Arzan dan mencium bibir manis sang istri.


" Kamu kan sudah janji.!" ucap Eva setelah melepaskan ciuamannya, mengusap bibir Istrinya dan memberikan kecupan singkat serta tersenyum.


" Hmm, ayo mau kemana." kata Arzan membuat Eva tersenyum.


turun dari pangkuan sang suami dan menarik tangan Arzan untuk berdiri serta mengikutinya.


menuruti kemauan sang istri mengambil kunci yang tergantung di dinding, membuka cover motor sport memberlihatkan warna silver blue carbon berlambang Yamaha R1 M, Warna yang tekenal elegan macho bagi pengendaranya.


Tersenyum senang saat sang suami menuruti kemauannya dan memasangkan helm padanya.


saat akan menaiki motor suara ponsel Eva berbunyi hingga dia terpaksa harus mengambilnya dari tas. Mengerutkan kening saat nama Ana yang terpampang di ponselnya.


" Hallo An." jawab Eva setelah melepaskan kembali helmnya dan memberikannya pada Arzan.


" Hallo mba Eva."


" Kok suara cowok." gumam Eva dengan menatap suaminya yang memperhatikannya yang duduk di atas motor.


" Hallo mba, ini saya Rizal asistennya pak Revan." ucap Rizal dari sebrang telpon


" Ponsel Ana kenapa ada di pak Rizal, Ana kemana pak." tanyanya to the poin.


" Ana? ada di rumah sakit sekarang mba."


" Apa!!" pekiknya dengan terkejut " kok bisa pak, tolong berikan alamat lengkapnya ya pak saya akan ke sana." ucap Eva dengan panik.

__ADS_1


" Saya share lock mba." jawabnya dan mematikan panggilannya serta mengirim lokasi pada Eva.


" Ada apa Ay.?" tanya Arzan yang melihat Eva cemas dan mata yang mulai berkaca-kaca


" Ana masuk rumah sakit, ayo kita ke sana." pinta Eva pada suaminya yang mulai menangis, mengusap lembut pipi sang istri dan menenangkannya.


" Kita akan ke sana, kamu sudah mendapatkan alamatnya." tanya Arzan dengan tenang, mendengar ponselnya yang berdering dengan notif lokasi rumah sakit keberadaan Ana.


" Ini." tunjuknya kepada Arzan, mengerti alamat serta rumah sakit yang di lihat dari ponsel Eva. Menyuruh sang istri untuk tenang dan akan mengantarnya memasangkan kembali helm serta menyuruh Eva untuk naik ke motor.


dalam perjalanan ia memeluk tubuh suaminya dari belakang menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya membuat Arzan tersenyum dan mengusap lembut tangan sang istri untuk tetap tenang.


****


Mengerjab kan mata dengan cahaya lampu yang sedikit silau, dan kepala yang terasa pusing.


menelisik ke dalam ruangan yang asing baginya serta melihat tangan yang di infus membuatnya mengingat kembali.


menatap pintu yang gerbuka, memperlihatkan pria yang tidak asing baginya saat masuk ke dalam ruangannya.


" Kamu sudah siuaman." Tanya Rizal dengan membawa minuman serta makanan untuk dia dan Ana.


" Apa ada yang sakit, aku panggilkan dokter sebentar." ujarnya dan menekan tombol perawat.


" Kamu kenapa sampai bisa kecelakaan begitu." tanya Rizal.


" Ada yang menabrak ku dari belakang dan aku terseret jauh." jawab Ana lirih.


Mencoba untuk duduk tapi ia tidak bisa hingga akhirnya di bantu oleh Rizal mengangkat tubuh wanita itu membuat jarak mereka lebih dekat mencium aroma maskulin tubuh Rizal hingga membuat Ana menahan nafas untuk saat. membenarkan bantal dan menyandarkannya pada ranjang rumah sakit yang sudah ia stell untuk duduk.


" Terima kasih." ujar Ana, hanya anggukan dan tersenyum.


" Mau minum." tanya Rizal dan di anggukkan oleh Ana.


Membuka tutup botol dan memberikannya tepat di bibir Ana, tersenyum kaku saat Ana melihatnya. Meminum dengan sedotan dan tersenyum ketika sudah selesai.


Mendengar suara ketukan pintu dan memperlihatkan dokter serta perawat yang masih terjaga. Memeriksa keadan Ana serta bertanya sedikit pada pasiennya mengenai adanya keluhan atau tidak.


hanya mengeluh tentang nyeri di kepala yang sudah di jahit lukanya, serta tangan dan kaki tidak seberapa sakit karena sudah di perban.


.


.


.

__ADS_1


.🐨🐨🐨🐨


sabar ya sabar kalau mau nunggu babang kadal. 😊


__ADS_2