
Aku tidak tau jika jadinya seperti ini, sungguh ini bukan kesalahan ku, bukan aku penyebabnya dan tolong jangan pernah kau mengutuk ku.
.
.
.
.
" Dia kenapa dok." ucap Eva dengan tidak sabar saat Suster dan Dokter sudah memasuki ruang IGD, Eva dan sopirnya menunggunya di depan ruangan dengan rasa sangat khawatir berharap mantan sahabatnya tidak mempunyai penyakit yang serius.
" Teman anda hanya kelelahan, mungkin banyak pikiran hingga membuat dia terjatuh sakit." jawab Dokter.
" Tidak ada yang serius kan dok." tanya Eva.
" Saya sudah memeriksanya dan tidak ada penyakit dalam tubuhnya, hanya saja dia butuh istirahat yang lebih dan jangan membuat dia semakin sters." jawab dokter, dan di anggukkan Eva dengan rasa lega.
" Kalau begitu saya tinggal dulu."
" Terima kasih dok." ucap Eva, di Anggukkan dokter serta tersenyum.
Perlahan Eva memasuki ruang IGD, melihat tubuh temannya yang terbaring lemah tak berdaya dengan tangan yang terinfus.
Duduk di samping Tia menatap wajah tia yang semakin tirus tak terawat, mata yang cekung serta lingkaran hitam di bawah mata membuat Eva merasa iba dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ada apa dengan mu, kenapa kamu jadi begini! Apa dia membuat mu menderita, apa dia menyakiti mu." gumam Eva dalam hati dengan masih menatap mantan sahabatnya.
Tersentak kecil saat Melihat mata yang mulai sedikit membuka dan tangan yang mulai bergerak, ia pun segera menghapus air matanya serta berdiri dari duduknya.
" Kau sudah bangun, apa ada yang sakit." tanya Eva dengan pelan.
Terdengar suara familiar hingga ia beralih menatap sumber suara saat ia mengerjabkan mata dengan tangan yang memijat panggal hidung saat merasakan sakit di kepala.
" Eva.!" lirih Tia.
" Apa ada yang sakit, akan aku panggilkan dokter." ujar Eva dan akan beranjak pergi tapi terurungkan saat Tia bersuara.
" Tidak perlu." ucapnya hingga membuat Eva berbalik menatapnya.
Menatap wajah Tia yang memerah serta manik mata yang mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
" Kau tidak papa Tia." tanya Eva dengan suara lembut, menghampiri tubuh wanita itu yang berada di atas ranjang rumah sakit.
Tangan Tia bergerak mengisaratkan untuk tidak mendekat, membuat Eva berhenti dan tidak menghampirinya.
" Kau sudah puas dengan dendam mu." ucap Tia, mengerutkan kening saat mantan sahabat mengucapkan kata yang tidak ia mengerti.
" Kau sudah puas sekarang?" tanyanya lagi.
" Maksud kamu apa." tanya balik Eva.
" Jangan pura-pura kau tidak tau semuanya, kau sudah puas membuat hidup ku hancur ha.!" hardik Tia dengan suara meninggi.
" Aku tidak tau apa yang kau maksud." jawab Eva, membuat Tia tertawa pelan serta menghampus air mata.
" Kau sudah puas membuat hidup ku hancur, membuat anak ku meninggal membuat keluarga ku berantakan, membuat Toni pergi meninggal kan ku. kau sudah puas. Sudah puas kau Va!" ucap Tia dengan menangis.
Mencerna satu demi satu kata kata Tia, membuat hidupnya hancur, membuat anaknya meninggal, membuat Toni meninggalkannya. dan apa hubungannya semua ini dengannya hingga Tia menyahkannya.
" Put-Putri mu meninggal." ucap Eva dengan sedikit terbata.
" Ya putri ku meninggal, karena ini semua salah kamu." ucap Tia dengan mata yang menajam.
" Kau menyebabkan putri ku meninggal." ujarnya lagi.
" Aku pernah meminta mu untuk melepaskan suami ku tapi kenapa kau baru melepaskannya sekarang. Kenapa.!!" teriak Tia. " Anak ku tiada, suami ku baru keluar dari penjara, dan dia pergi meninggalkan ku begitu saja saat dia tau anaknya sudah meninggal." ujarnya dengan menangis.
Mendengar ucapan Tia, Eva mundur dua langkah sedikit terkejut saat mendengarnya meneteskan air mata melihat kesedihan mantan sahabatnya dan bukan kesalahannya yang membuat anak Tia meninggal, bukan kesalahannya toni meninggalkan dia.
Bukannya itu sudah lama aku mencabut tuntutannya, kenapa dia baru sekarang keluar dari penjara.! gumam Eva dengan menggelengkan kepala.
" Bukan salah ku bukan, aku tidak membunuh anak kamu." ucap lirih Eva masih terdengar oleh Tia.
" Itu semua salah mu, salah kamu.!! sekarang kamu puas kan. Puas telah manghancurkan hidupku puas kamu balas dendam dengan ku. " teriak Tia, melepaskan selang infus di tangannya, beranjak dari ranjang dan berjalan menghampiri Eva.
Melangkah mundur menjaga jarak saat melihat Tia menghampirinya dengan membawa tiang ifus.
" Tolong, tolong!." teriak Eva dengan menahan tiang infus saat dia mencoba untuk memukulnya.
" Aku tidak akan membiarkan mu hidup bahagia, aku akan menghancurkan mu. Aku akan menghancurkan mu.!" teriak Tia dengan masih mencoba memukul Eva dan mencoba mencakar tangan Eva.
" Tolong, tolong.!" teriaknya sekali lagi hingga terdengar oleh sopir Eva yang berada di luar.
__ADS_1
" Mba Eva.?" ucap sang sopir melihat istri Tuannya yang di serang oleh orang yang di tolong.
" Suster tolong." teriak sang sopir untuk meminta bantuan dan mencoba melindungi istri Tuannya yang di serang.
beberapa suster menghampiri mereka menahan tubuh Tia yang semakin memberontak hingga dengan terpaksa dokter menyuntiknya dengan obat penenang.
" Mari kita keluar Mba." ucap sopir pada Eva, hanya anggukan kecil serta berjalan keluar dari ruangan.
duduk di kursi panjang mencoba menetralkan detak jantung serta menghapus air mata.
" Mari kita pulang Mba." ajak sopir saat melihat Nyonyanya syok akibat serangan dari orang yang di tolongnya.
" Mba Eva terluka." ucap sopir dengan sedikit terkejut melihat tangan Eva yang tergores akibat cakaran dari tangan Tia. " Saya akan panggilkan dokter." ujarnya lagi.
" Tidak perlu pak.?" cegah Eva " Tolong antarkan saya pulang." pinta Eva.
" Tapi mba.!"
" Saya mohon.?" ucapnya dengan menangis, dengan terpaksa sopir pun menuruti kemauan Nyonyanya.
Berjalan melewati koridor dengan kepala yang menunduk serta berjalan di belakang sang sopir yang mencoba menutupi tubuh Nyonyanya, karena beberapa orang menatapnya dengan rasa penasaran.
Masuk ke dalam mobil, bersandar di sisi pintu jendela menangis di dalam sana dengan menggelengkan kepala menghapus pikiran yang ada di dalam kepalanya saat masih terngiang ucapan Tia.
Aku bukan pembunuh, aku bukan pembunuh, aku bukan perusak hubungan orang. bukan aku, bukan aku.!!" teriaknya dalam hati dengan menangis menutup wajah untuk menahan isaknya.
Sopir yang melihat Nyonyanya menangis dan menahan isak suara yang memilukan itu segera memberitahukan pada Asisten Arzan jika istri Tuannya sedang di serang oleh seorang wanita dan mengalami luka.
Menjalankan mobil untuk segera menuju rumah, agar Nyonyanya segera mendapatkan pengobatan. Ini adalah keteledorannya hingga membuat Nyonyanya terluka, ia siap jika nantinya akan mendapatkan hukumn dari Tuannya.
.
.
.
ππππ
Iya bakalan ada konflik nichππ
Oh iya yuk ramaikan novel babang kadal yang berjudul SAD BOY WIHT GADIS TOMBOY.
__ADS_1
terima kasih.