
Kita dulu memang teman. Tapi, sebelum kau menghianati dan menghancurkan kepercayaanku.
.
.
.
.
Dia pria yang berani mengambil resiko saat berhadapan dengan lawan tanpa adanya anak buah atau asisten.
Dia pria yang sudah kehabisan kesabaran saat penghianat itu selalu mengusiknya, kehidupannya, dan keluarga barunya. Kini pria ini tidak bisa diam lagi saat penghianat itu mencoba melukai istri dan calon anaknya.
Menemuinya di kantornya dan berhadapan langsung dengan penghianat, dengan dirinya yang datang sendiri dengan tenang. Siapa lagi jika bukan Beni teman akrab kini menjadi permusuhan.
Duduk di sofa hadapan dengan sang penghianat, saat di sambut baik olehnya dengan tatapan permusuhan dan kebencian.
" Sudah lama kita tidak bertemu." ucap Arzan dengan tersemyum " Bagaimana kabar mu." ujarnya lagi yang masih pedulinya dengan kabar sang penghianat.
" Aku baik, kau sendiri." jawab Beni. " Aku dengar kau sudah menikah." imbuhnya lagi dengan mengambil satu kaleng bir yang ada di atas meja.
" Iya, dan mempunyai istri itu sangat menyenangkan. apa lagi jika ada anak kecil yang akan lahir di dalam keluarga kecil ini." jawab Arzan dan juga mengambil kaleng bir di atae meja, membukanya dan meminumnya dengan tersenyum.
Beni yang melihatnya pun hanya tersenyum sinis dan menggenggam kuat kaleng birnya.
" Apa kau tidak ingin menikah." tanya Arzan dengan menatapnya.
" Belum ada yang cocok." jawab Beni.
" Apa kau masih mencintainya." tanyanya lagi, membuat Beni menatapnya tajam, yang di tatap hanya tersenyum dan kembali menyesap birnya.
" Kau terkejut, jika aku tau apa yang kau lakukan di belakangku bersama mantan kekasihku dulu." ucap Arzan dan Beni pun hanya menatapnya dengan menahan amarah saat mengingat kembali masa lalu bersama Arzan dan kekasih Arzan.
__ADS_1
" Kau pikir aku tidak tau jika selama ini kau mencoba menyerangku dengan menyuruh anak buah mu untuk menjadi karyawan di kantorku, dan kau yang menyuruh orang untuk menembak istri serta calon bayiku." ujarnya lagi dengan menatap tajam Beni.
" Aku pikir kau tidak tau." jawab santai Beni dengan tersenyum sinis dan kembali meminum birnya. " Kenapa kau diam saja, apa kau takut." ujarnya lagi.
" Takut.!" ucap Arzan dengan memicingkan matanya " Jika aku mau, sudah dari dulu aku menghancurkan mu." tambahnya.
" Kau membunuhnya saat dia hamil." ucap Beni.
" Aku tidak membunuhnya." sergah Arzan " aku menolongnya, hanya saja penanganan di sana lambat karena dokter yang bertugas hanya sedikit dan banyak sekali pasien kecelakaan." jawab Arzan dengan jujur.
" Dan kau kenapa pergi begitu saja." ucap Beni.
" Apa aku harus melihat mu di sana dengan kekasih ku saat aku sudah ada di sisinya." tanya Arzan dengan suara dingin. " Teman dan kekasihku menghianati aku dari belakang, dan menghancurkan kepercayaanku saat aku baru tau dia hamil anak mu, sungguh itu sangat membuatku kecewa." ujar Arzan dengan tatapan tajam.
" Seharusnya aku yang marah dan dendam denganmu, tapi aku tidak mau melakukannya. Karena aku dan kamu pernah berteman dan saling berbagi saat susah maupun senang, tapi sekarang apa yang kau lakukan padaku, kau menuduhku membunuh dia dan calon anakmu." ucap Arzan dengan tersenyum miris.
" Sadarlah dengan kesalahan mu, jangan mengusik istri dan anakku, sebelum aku bertindak hal yang lebih untuk membuat mu hancur." Ancam Arzan dan berdiri dari duduknya menatap sekilas teman lamanya sebelum ia pergi dari kantor Beni.
Beni menatap kepergian Arzan dengan mata yang sendu karena apa yang di ucapkan teman lamanya adalah benar. Dirinya yang salah, dirinya yang penghianat, dirinya lah yang menghancurkan kepercayaan dan pertemanannya dengan Arzan, dirinya tertalu naif untuk meminta maaf tapi dirinya juga marah saat calon bayi yang dia inginkan pergi dari kehidupannya.
Menghembuskan nafas beratnya dan berjalan ke arah laci mengambil foto usg yang sudah lama ia simpan.
"Mungkin aku harus mengiklaskan mu mulai sekarang, agar kau tenang di alam sana bersama ibu kamu." gumam Beni dalam hati dengan satu air mata yang turun membasahi pipinya.
****
" Kamu sedang apa Ay.?" tanya Arzan yang melihat istrinya sibuk dengan benang dan jarum saat berada di kamarnya.
Menatap ke arah suaminya dengan tersenyum dan menyuruhnya untuk duduk. " Aku sedang membuat syal untuk bayi kita." jawab Eva dengan kembali merajut.
" Kenapa warna putih." tanyanya lagi.
" Warna putih kan netral buat siapa saja Ay? Aku enggak tau bayi kita perempuan atau laki-laki." jawabnya " Dan kamu enggak mau dokter memberitahukan bayi kita berjenis apa.?" ujarnya lagi dengan cemberut, membuat Arzan tersenyum merangkul lengan istrinya dan mencium kepalanya.
__ADS_1
" Bukan aku tidak mau Ay, tapi aku ingin membuat kejutan untuk kita saat bayi ini lahir dia perempuan atau laki-laki." jawabnya. " Kamu sudah mencari nama untuk bayi kita." tambahnya lagi dengan tersenyum menatap istrinya.
" Belum." jawabnya. " Bagaimana kalau kita cari nama anak kita bersama." ucapnya dengan semangat menatap suaminya.
" Hmm baik lah." jawab Arzan, Eva pun membersihkan peralatan jahitnya dan berjalan menuju laci mengambil buku serta bulpoin dan menyuruh suaminya untuk duduk di ranjang.
" Ayo Ay, kita mulai dari yang perempuan atau yang laki-laki dulu." ucap Eva dengan semangat, membuat Arzan tersenyum dengan duduk yang bersila.
" Kita mulai dari yang perempuan dulu." jawab Arzan dan di anggukkan oleh Eva.
Mencari nama untuk anak perempuan dari huruf A sampai Z hingga sekali kali sepasang suami istri ini berdebat akan hal yang tidak di sukai namanya.
" Pasti ini nama mantan kamu kan Ay? mangkanya kamu suka sekali dengan nama ini." ucap Eva, membuat Arzan membulatkan mata akan perkataan istrinya yang merajuk karena tidak suka nama anak perempuan yang di sukainya.
" Eh, nama mantan ku bukan itu sayang?." ucap Arzan " nama mantan ku itu Sinta." ujarnya dan membuat Eva melototkan mata saat mendengar nama mantan suaminya di sebutkan. Arzan yang mendapatkan tatapan horor dari istrinya membuatnya menelan saliva karena keceplosan menyebut nama mantan kekasihnya.
Menutup buku, menaruhnya di naskah kecil dan berdiri dengan dua tangan yang berada di pinggangnya dan menatap suaminya dengan cemberut.
" Tu kan.! nama mantannya sinta sedangkan nama yang mau di kasih ke anak aku namanya santi. Apa bedanya.!" gerutu Eva, membuat Arzan terdiam dan tidak bisa menjawab.
Mengambil bantal dan selimut, dan memberikannya pada suaminya, membuat Arzan terkejut dan menatap istrinya.
" Tidur di sofa." perintah ibu hamil dengan tatapan yang sudah tidak bersahabat.
.
.
.
.🐨🐨🐨
Yey, tinggal sedikit lagi mau End.😊😊
__ADS_1
Tunggu kisah Mawar ya.!!😀