
Ibaratnya kau seperti jalangkung, datang tak di jemput pulang tak di antar.
Datang sesuka hati mu, dan pergi tanpa kabar.
.
.
.
.
Kini Eva yang sedang mengemasi pakaiannya untuk di masukkan ke dalam koper, karna hari ini liburannya sudah berakhir dan memulai mencari pekerjaan baru di kota.
Selesai dengan berkemas ia segera membersihkan diri dan bersiap siap untuk berangkat ke terminal, karena Dani yang mendadak harus berangkat ke luar kota dan paman yang tidak bisa meninggalkan ladang karena musim panen.
Budhe yang merasa keberatan karena putrinya itu harus menaiki bus sempat merengek untuk tidak kembali terlebih dahulu ke kota dan menyuruh Eva untuk menunggu kakaknya pulang dari luar kota.
Bukan Eva namanya jika tidak merayu budhenya dan mengasih perhatian lebih hingga akhirnya budhenya luluh dan mau mengijinkan dia berangkat naik bus.
Eva yang sudah selesai mandi dan mulai turun membawa kopernya di ruang tamu itu kini menemui budhe dan pamannya yang berada di ruang makan untuk sarapan bersama sebelum paman mengantarnya ke terminal.
Lagi dan lagi saat akan berangkat budhenya itu sedikit berdrama ala korea merengek menangis, menciumi muka putrinya dengan banyak tanda membuat sang pemilik wajah merasa geli tapi dia suka dengan sikap budhenya itu.
Paman yang sudah menaruh koper Eva di jok depan sepeda metic itu segera menghampiri dua perempuan yang masih berpelukan.
" Ayo Va." ajak paman Eva, Eva pun melepaskan pelukan budhenya dan mengangguk kecil pada pamannya.
" Eva berangkat budhe." kata Eva dan mencium tangan budhenya.
" Hati-hati ya nanti kalau sudah sampai kost kabarin budhe dan paman." ucapnya dan di anggukkan oleh Eva.
"Hati hati yah."
" Iya buk.!"
Kini motor yang mereka naiki melaju ke arah terminal dengan kecepatan sedang, setengah perjalanan tiba-tiba ban motor paman bocor hingga mereka harus mendorong motornya untuk mencari tempat tambal ban.
Mencari tambal ban tak semudah mencari warung makan, mendorong begitu jauh masih belum mendapatkan tambal ban hingga sebuah mobil land rover memberhentikannya.
Paman dan Eva pun memicingkan mata saat mobil itu menghadang jalannya. Seorang pria turun dengan pakaian casual menghampiri Eva dan Paman.
Sedikit terkejut saat Eva melihat itu Pria yang semalam mengantarkannya pulang.
__ADS_1
" Arzan.?" ucap Eva lirih dan menutup helmnya agar Arzan melihatnya.
" Motor bapaknya kenapa.?" tanya Arzan yang sudah berada di hadapan paman Eva.
" Bannya bocor mas.?" jawab Paman Eva.
" Saya tadi liat di sana ada tambal ban, mungkin saya bisa bantu." Ucapnya.
" Ah, tidak usah nak terima kasih?" jawab paman yang merasa sungkan. Arzan pun hanya mengangguk dan tersenyum kecil serta beralih menatap Eva.
" Jangan pura-pura tidak kenal, hingga menutup hlemnya seperti itu.!" seru Arzan membuat paman beralih menatap Eva yang menutup kaca hlemnya, Eva sedikit terkejut karena Arzan mengetahuinya hinga akhirnya dia membuka kaca hlem dan tersenyum unjuk gigi.
" Kamu kenal Va sama mas ini.?" tanya paman dan di anggukkan Eva.
" Dia teman Eva di kota dan donatur di panti paman.?" ucap Eva sedikit bohong karna dia bukan teman Eva tapi orang yang pernah menolong Eva.
" Apa putri paman mau balik ke kota.?" tanya Arzan.
" Iya putri paman mau balik ke kota, paman hanya bisa mengantarnya sampai terminal saja.?" jawab paman.
" Kalau begitu putri paman bisa balik ke kota dengan saya, saya juga akan kembali ke kota." ajaknya dengan baik.
" Apa tidak merepotkan.?" ujar paman.
" Tidak papa, lagian kita juga satu arah." sahut Arzan, membuat Eva menatapnya tidak percaya.
" Lebih baik kamu balik ke kota sama teman kamu saja Va, Paman dan budhe juga merasa khawatir jika kamu naik bus.?" ucapnya hingga membuat hanya pasrah dan mengangguk.
Paman mulai menurun kan koper Eva dari motornya dan mulai menaruhnya ke dalam mobil Arzan. Sebenarnya Eva tidak tega melihat pamannya yang akan mendorong motornya sendiri tapi karna sikap kerasnya paman untuk segera berangkat agar tidak ke malaman di kota, hingga akhirnya dia meninggalkan paman dan pergi ke kota dengan Arzan.
Bertemu dengan Pria dingin membuatnya hanya bisa diam dan tak ingin berbicara lebih, karena omongan dia sangat ketus dan itu membuat Eva tidak suka. Tapi Eva sedikit heran jika dia bertemu dengan orang yang lebih tua Arzan sangat sopan dan menghormatinya serta berbicara lebih lembut.
Satu jam perjalanan Arzan berhenti di sebuah pom bensin, hingga membuat Eva mengerutkan keningnya.
" Kenapa berhenti.?" tanyanya.
" Toilet, mau ikut.!" serunya
" Ogah.!" jawab Eva dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela,
Arzan pun turun dari mobil, bukannya ke toilet tapi dia mengarah ke mushola hingga membuat Eva mengerutkan keningnya.
Bukannya dia tadi bilang ke toilet, terus kenapa ke mushola.!" gumam Eva dan mencoba mencari ponselnya di tas dan dia sedikit tersentak karena jam sudh menunjukkan jam dua siang.
__ADS_1
Hingga dia pun mulai turun dari mobil Arzan dan menunggunya di depan mushola. Arzan yang melihat Eva duduk di depan mushola itu segera menghampirinya.
" Kamu sudah selesai.?" tanya Eva, dan hanya deheman yang terucap di bibir Arzan. Eva pun mengangguk dan meninggal kan Arzan tanpa berkata lagi untuk masuk ke dalam toilet mushola.
Arzan hanya menyunggingkan bibirnya sedikit saat menatap Eva berjalan ke arah toilet mushola, hingga dia menunggunya di depan mushola dengan memainkan ponselnya.
" Ayo.?" ajak Eva yang sudah selesai dengan ibadahnya, Arzan berdiri dan berjalan terlebih dahulu.
Irit bicara.! gumam Eva dan mengikutinya dari belakang.
" Apa kamu tidak lapar?" tanya Eva saat berada di dalam mobil, karna dia sedikit khawatir karna ini sudah waktunya makan siang.
" Apa kau lapar!" tanya balik Arzan
" Tidak, hanya saja aku merasa tidak enak dengan mu karna ini sudah waktunya makan siang." ucapnya.
Arzan hanya menatap sekilas Eva dengan tersenyum dan ini pertama kali Arzan tersenyum dengannya.
Menyalakan mobilnya untuk mencari resto terdekat untuk mengisi perutnya yang sudah sedikit memberontak karna pagi Arzan tidak sempat untuk sarapan, meninggalkan asistennya di hotel untuk pulang sendiri ke kota.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, melihat Eva yang sedang mendorong mobil di jalan membuatnya menghampirinya dan ingin mengajaknya pulang bersama tapi karna gengsi hingga akhirnya dia meminta izin pada pamannya. Beruntung pamannya itu mengizinkan Eva untuk pulang bersamanya hingga membuat hatinya sedikit berbunga. sepertinya dia mulai tertarik dengan Eva hingga semalam dia hanya memikirkan Eva.
Sampai di resto mereka turun, masuk bersama dan duduk berhadapan. Memesan dua nasi soto daging dengan kuah yang di pisah.
Eva mulai mencari ponselnya, untuk membuka pesan dari Ana.
Revan sedang mencari mu." pesan singkat dari Ana membuat Eva mengerutkan keningnya
Revan, dua bulan menghilang dan sekarang mencariku.! gumam eva dengan mata yang mulai berkaca kaca.
.
.
.
.🍀🍀🍀
Lagi gak ada kerjaan, mumpung yang di asuh lagi di gondol sama mertua jadi bisa doble up.😅😅
Vote yuk.
salam jauh dari kakang dingin dan babang kadal.😘
__ADS_1