
Menjadi saksi sakral di pernikahan kamu dan dia, tidak marah dan tidak kecewa hanya saja aku merasa sedih karena kini kamu sudah menjadi istri orang.
.
.
.
.
" Saya nikah kan engkau ananda Arzan Ravindra Malik bin Adi Malik dengan Eva sekar sari binti Suhendra dengan seperangkat alat sohat dan emas kawin lima puluh gram di bayar tu-nai." ucap penghulu dengan tangan yang berjabat pada mempelai pria.
" Saya terima nikahnya Eva sakar sari binti suhendra dengan seperangkat alat sholat dan emas kawin lima puluh gram di bayar tunai." ucap Arzan dengan sekali tarikan nafas dan lantang.
" Bagaimana saksi sah.?" tanya penghulu pada saksi kanan dan kiri.
" Sah, sah, sah!!." kata semua orang terutama Revan yang berteriak begitu semangatnya, membuat seisi rumah heboh dan menggelengkan kepala saat Revan mengatakan sah.
rasa semangatnya hanya untuk menutupi rasa sedih, karna kini ia tahu jika wanita yang masih ia cintai sudah sah menjadi istri orang dan tidak akan bisa kembali lagi dengan dia.
datang di acara pernikahan mantan sungguh luar biasa, melapangkan dada untuk mengiklaskan mantan yang terindah. walaupun pada akhirnya dia yang tersakiti sendiri.
" Bos, semangat sekali.!" kata Rizal yang berada di samping Revan, tersentak kecil saat asistennya mengajaknya berbicara.
" Biar seru.! " jawab Revan asal, membuat Rizal mengerti jika atasanya itu hanya menutupi kesedihan dengan mencoba menghibur diri.
" Selamat ya bos, anda menjadi sad boy sekarang.?" ucap Rizal dengan sedikit tertawa.
" Jomblo akut, potong gaji.!" gerutu Revan membuat Rizal berhenti tertawa dan menatap bosnya.
" Bercanda bos.!"
" Enggak peduli." jawab Bosnya dengan acuh, membuat Rizal menghembuskn nafas berat dan menggerutu diri sendiri.
" Sungguh terlalu." gumamnya yang terdengar oleh asisten Arzan, membuatnya menggelengkan kepala dan tersenyum dengan tingkah asisten dan bos dari saudara Tuannya itu.
Ketika semuanya sudah mengatakan sah kini mempelai wanita di perbolehkan keluar untuk bertemu dengan mempelai pria.
berjalan dengan anggun memakai kebaya putih dengan kepala yang tertutup oleh jilbab. di dampingi dengan Budhe dan sahabatnya Ana yang juga ikut turut kebahagian Eva.
Senyum merekah dengan mata yang sudah berkaca-kaca saat Arzan menatapnya dengan senyuman.
Kini mereka duduk berdampingan menanda tangangi buku nikah, berdiri untuk bertukar cincin, mencium tangan Arzan dan di balas Arzan mencium kening Eva.
__ADS_1
bagi kaum perempuan merasa terharu, meneteskan air mata dan tersenyum saat menyaksikan dua mempelai bertukar cincin dan Arzan yang mencium kening Eva begitu lama.
Revan yang menyaksikan itu semua sedikit merasa sesak di hatinya, tapi ia berusaha untuk tersenyum mengiklaskan semuanya. Membiarkan wanita yang dia cintai di ambil oleh saudaranya karena hanya dia yang lebih bisa menjaga Eva dan membahagiakan Eva.
Kamu begitu cantik va saat memakai kebaya, menyesal saat aku tidak memperjuangkan mu. tapi kini aku iklas kamu bersama dia." gumam Revan dalam hati dengan tersenyum melihat mempelai pengantin saat bertukar cincin.
acara sungkeman di laksanakan untuk meminta restu dari dua pihak keluarga.
Paman dan Budhe yang duduk di atas kursi, Eva dan Arzan yang menyungkem mereka, msminta restu dan doa untuk pernikahannya.
Budhe menitikan air mata saat Arzan menyungkemnya, meminta restu padanya, meminta putrinya untuk menjadi istrinya, meminta doa untuk pernikahannya.
" Tolong jaga baik baik putri budhe nak Arzan, jangan pernah kau sakiti dia, bersabarlah jika rumah tangga kalian sedang di uji." ucap Budhe dan di anggukkan oleh Arzan.
kini beralih ke Paman Eva untuk menyungkemnya.
" Semoga pernikahan kalian sakinah, jika putri ku mempunyai salah jangan kau memukulnya ajak lah berbicara dari hati ke hati. Tapi jika suatu saat kau sudah tidak sanggup lagi, kembalikan putri ku dengan baik seperti saat kau memintanya pada ku." ujar Paman Eva.
" Terima kasih Paman, sebisa mungkin saya akan menjaga dan bertanggung jawab pada putri anda." Kata Arzan dan di anggukkan oleh paman serta menepuk pundak menantunya dengan tersenyum.
Sungkeman di pihak wanita sudah selesai kini beralih untuk sungkeman di pihak pria.
" Semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan, tolong jangan tinggalin Arzan meskipun suatu saat nanti kalian bertengkar hebat, tolong buat Anak aku bahagia." ucap Nyonya Vani dengan meneteskan air mata " Dan maafkan tante jika tante selama ini jahat dengan kamu nak Eva." ujarnya lagi.
" Terima kasih nak Eva sudah mau menerima Arzan sebagai suami kamu, bahagiakan dia tolong jangan sakiti dia sudah sukup penderitaan dia selama ini." ujar Tuan Gio saat Eva mulai berganti sungkeman dan hanya di anggukkan oleh Eva dengan tersenyum.
Saatnya sesi foto keluarga untuk menjadi album kenangan terindah, membuat kenangan saat ijab kobul, tersenyum untuk menatap camera saat fotografer memberi aba-aba.
Dani dan Ana yang berdiri bersampingan menatap Eva yang sedang tersenyum bahagia saat keluarga dua pihak mempelai sedang berfoto bersama.
Ana yang tau bagaimana Eva, sahabatnya saat menderita, saat pernikahannya hancur karena perselingkuhan, bagaimana saat dia mulai menata hidup baru menjadi janda dan bagaimana dia mulai jatuh cinta lagi dan tidak mendapatkan restu dari orang tua pacarnya di hina dan di permalukan.
Dan kini dia mendapatkan pria yang begitu sempurna, mencintainya, menerima kekurangan Eva dan melindungi serta bertanggung jawab. Ana merasa sangat bersyukur dan merasakan kebahagiaan juga pada sahabatnya, menitikan air mata saat mengingat masa lalu Eva.
" Kamu menangis?" tanya dani saat melihat Ana menghapus air matanya.
" Menangis karena kebahagiaan, melihat sahabat ku menikah dan menemukan pria yang tepat." jawab Ana dengan tersenyum serta menatap Dani.
merangkul lengan Ana untuk merapat ke tubuhnya membuat Ana sedikit tersentak kecil saat tangan Dani mendekapnya dan beralih mendongakkan kepala untuk menatap wajah Dani yang menatap ke depan.
" Apa kamu tidak mau menyusul Eva.?" tanya Dani tanpa melihat Ana, membuat Ana tersenyum samar.
" Aku masih menunggunya untuk datang ke rumah ku dengan membawa orang tuanya." jawab Ana
__ADS_1
" Siapa.?" tanya Dani dan menatapnya.
" Entah lah.!" ujarnya dengan mengangkat bahu, yang sejujurnya dia menginginkan pria yang sedang memeluknya sekarang menunggu pria itu sedari dulu tapi pria itu tidak peka sama sekali dengannya.
Ya, Ana menyukai Dani saat pertama bertemu dengannya di saat Dani sering berkunjung ke kost Eva waktu Eva masih belum menikah hingga sekarang ia masih menunggunya.
Tidak berani mengungkapkan karena ia takut jika di tolak dan takut jika Dani menghindar saat ia sudah mengungkapkan perasaannya, biarkanlah begini saja mencintai dalam diam agar ia tetap bersama pria itu meskipun dia menganggapnya sebagai adik.
dari belakang Rizal memicingkan mata menatap Ana yang sedang di rangkul oleh seorang pria dan mereka tersenyum saat saling menatap.
Siapa pria itu.!" gumam Rizal hingga ia tersadar dari tatapannya saat seorang pria menepuk pundaknya.
" Ayo.?" ajak Revan.
" Kemana bos?" tanya Rizal.
" Ngasih ucapan selamat pada calon kakak ipar." ucapnya dan berjalan lebih dulu meninggalkan Rizal yang menatap kepergiannya.
Sok tegar!" gumamnya dan berjalan mengikuti bosnya.
berjalan menghampiri Eva dan Arzan, mencoba tersenyum meskipun hatinya luka.
" Mas, selamat ya. cepat buatkan aku ponakan yang banyak" ucap Revan dan berjabat tangan pada Arzan.
" Terima kasih, kau cepat menyusul." jawab Arzan dengan tersenyum dan membalas uluran tangan adik tirinya.
" Pasti itu.!" serunya dengan tertawa membuat Arzan ikut tertawa.
" Selamat ya, semoga langgeng sampai kakek nenek." kata Revan saat beralih menatap Eva.
" Terima kasih, semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik." jawab Eva dan di anggukkan oleh Revan dengan tersenyum.
Berjalan meninggalkan sepasang mempelai yang sedang menatapnya tanpa melihat ke belakang karena sudah waktunya ia mengubur kenangan indah masa lalu bersama mantan pacar yang sekarang menjadi kakak iparnya.
.
.
.
. 🍀🍀🍀
Tunggu kisah babang kadal ya.😆😆
__ADS_1
tapi bukan di sini.😉