Eva My Life Line

Eva My Life Line
mencari kebar kekasih


__ADS_3

Aku ingin mengajak mu berkenalan, tapi ego ku terlalu tinggi untuk tidak mengajak mu berbicara lebih.


.


.


.


Tak terasa waktu semakin malam, hingga panti sudah mulai sunyi, satu per satu mereka mulai berpamitan untuk masuk ke dalam kamar karna mata yang sudah tidak bisa di kondisikan.


Eva yang sudah mendengar suara dengkuran dari gadis kecil yang tidur di pangkuannya itu segera membawanya ke dalam kamar dia, menaruh tubuhnya di ranjang bawah yang bertingkat dengan hati-hati. Mencium lembut kening gadis kecil sebelum pergi untuk pulang.


Melihat ibu panti yang masih berada di ruang tamu bersama pria dingin yang sedang berbicara, ia pun mulai menghampiri mereka.


" Bu, saya pamit pulang ya."


" Lho nak Eva enggak nunggu Masnya dulu.?" ucap ibu panti


" Tadi mas Dani ngirim pesan, katanya enggak bisa jemput soalnya lembur. Mas Dani nitip salam untuk ibu.?" jawabnya.


" Kamu pulang naik apa?" tanya ibu panti yang sedikit khawatir karena sudah malam.


" Pesan ojek buk.?" jawabnya, Eva pun mengambil tas yang berada di sebelah Arzan dan bersalaman dengan ibu panti.


Arzan berdiri dan juga ikut berpamitan untuk pulang karena sudah malam. Ibu panti mengantarkan Eva dan Arzan ke depan halaman serta mengucapkan terima kasih sudah mengunjungi panti.


"Masuk lah ke mobil, aku akan mengantar mu pulang." ucap Arzan yang berada di samping Eva tanpa melihatnya.


Eva menatap Arzan dengan kening berkerut, Pria yang berada di sampingnya itu mengajaknya pulang bersama, saat ibu panti sudah masuk ke dalam rumah.


" Tidak usah Tuan, terima-.!" belum sempat menjawab Arzan sudah memotongnya.


" Sudah malam, ojek tidak akan mau menerima orderan." ucapnya.


Benar yang di katakan Pria dingin itu malam hari tidak akan ada ojek yang mau menerima orderan penumpang karena mereka takut jika itu adalah begal yang menyamar sebagai penumpang.


Eva pun hanya bisa pasrah dan mengangguk sebagai tanda ia mau di antarkan pulang, to pria yang ada di sampingnya itu sudah dua kali menolongnya, tidak mungkin dia akan berbuat macam-macam kan. Pikirnya.?"


mereka pun berjalan beriringan dan masuk ke dalam mobil.


" Di mana alamat rumah kamu.?"


" Di jalan, xxxx Tuan.!"

__ADS_1


" Jangan panggil aku Tuan, aku bukan Tuan mu.!" ucapnya, membuat eva menatapnya dengan mata yang membulat.


" Kalau begitu aku harus memanggil mu apa.!" jawab eva.


" Apa aku harus mengatakan nama ku, jika kamu sudah mendengar nama ku dari gadis kecil itu." ucapnya,


Entah kenapa ucapannya itu sedikit ketus di dalam pendengaran Eva, hingga dia hanya mengangguk kecil dan menatap ke luar jendela tanpa berbicara lagi dengan Pria dingin itu.


Sunyi tidak ada yang berbicara di dalam mobil. Baru kali ini Eva melihat seorang pria yang dingin tanpa expersi sedikit pun.


" Apa kamu tau alamat rumah ku.?" tanya Eva, karena setau dia, Arzan tinggal di kota bukan di desa.


" Tidak."


" Jika tidak tau kenapa kamu mengantar ku pulang.?" Ucap Eva dengan ketus.


" Apa gunanya Gps jika tidak tau arah." saut Arzan tak kalah ketus.


Menyebalkan.! gumam Eva menatap Arzan serta mengerucutkan bibirnya dan berpaling untuk melihat luar jendela lagi.


Sementara Arzan yang melirik Eva saat sedang mengerucutkan bibirnya itu membuat dia sedikit menarik bibirnya untuk tersenyum.


Entah kenapa dia mulai suka dengan sikap Eva yang menganggapnya sebagai orang biasa.


bukannya romantis tangan Eva di tepuk pelan untuk menyingkir dari seatbelt itu agar Arzan bisa membukanya. Wajah mereka negitu dekat hingga Eva bisa merasakan hembusan nafas Arzan.


" Terima kasih." ucap Eva saat Azan sudah kembali dalam posisinya.


" Hmm." jawabnya dengan sedikit mengangguk. Saat Eva akan keluar dari mobil Arzan kembali berbicara.


"Kapan kau akan kembali ke kota." tanyanya, hingga membuat Eva berhenti saat akan membuka mobil, dan berbalik menatap Arzan.


" Besok." jawab Eva. " Kenapa." tambahnya untuk bertanya kembali.


" Kenapa apanya." jawab Arzan.


" Kenapa kamu bertanya kapan aku akan kembali ke kota!" seru Eva.


" Hanya tanya saja, memangnya kenapa enggak boleh. Cepat turun!" seru Arzan, hingga membuat eva melototkan mata tak percaya akan pria yang ada di hadapannya itu berbicara ketus padanya.


Eva pikir dia pria dingin dan tak banyak bicara, tapi sekali berbicara dia sangat ketus hingga membuat siapa saja menjadi sebal termasuk dirinya.


Eva pun mulai turun dari mobil dan sedikit menutup pintu mobil dengan sedikit keras dan berjalan terlebih dahulu untuk masuk ke dalam rumah, meninggal kan Arzan yang masih setia menatap punggungnya hingga tak terlihat.

__ADS_1


Senang saat melihat Eva marah seperti itu hingga dia tersenyum sempurna merasakan seperti mempunyai teman untuk bisa di godanya.


****


Pagi hari orang yang berada di kota tertalu khawatir dengan Eva hingga dia yang baru saja menginjak bandara langsung bergegas ke kost Eva.


Sesampai di kost, dia begitu kecewa karena kekasihnya itu pergi ke kampung halaman. menanyakan pemilik kost di mana alamat kampung halaman eva, tapi pemilik kost tidak tau di mana kampung halaman Eva.


begitu kecewa dia memutus kan untuk pergi ke pabrik, meminta pada sahabat eva untuk mengasih alamat kampung halaman kekasihnya itu.


Datang datang minta alamat kampung Eva tanpa merasa bersalah, saat dirinya tau jika Eva merasa tersakiti akibat dinner bersama bosnya itu.


Bukannya di kasih, Ana malah berbohong jika tidak tau alamat rumah Eva yang ada di kampung, Ana hanya ingin mengasih pelajaran untuk bosnya itu agar dia tau bagaimana rasanya jika di tinggal tanpa kasih kabar.


Revan yang merasa begitu lelah dan tak bertenaga saat ini untuk berdebat, ia memmerintahkan Rizal untuk mencari tau keberadaan Eva sedangkan dia ingin beristirahat sebentar untuk menghilangkan rasa lelah dan kantuk.


" Jika kamu tidak mau mengasih alamat rumah Mba Eva, aku akan memecat mu.!" ancam Rizal yang di perintah kan oleh Revan karena sudah gagal meminta alamat Eva.


" Aku enggak takut, jika kamu memecat ku sekarang. Aku malahan akan berterima kasih." jawab Ana dengan ketus.


" Kau.!"


" Apa.!" jawab Ana dengan berkacak pinggang serta melototkan mata pada Rizal.


Wanita yang ia hadapi ini benar-benar bar-bar tidak ada rasa takutnya pada siapa pun, Ana pun memutuskan pergi dari ruangan Rizal dengan menghentak kan kakinya serta menutup pintu ruangan Rizal dengan keras hingga membuat sang pemilik ruangan merasa terperanjat.


Dia benar wanita tomboy dan arogan.!" gumam Rizal saat menatap pintu ruangan yang sudah tertutup.


Ana yang berasa sebal itu menggerutu sendiri dan menyumpahi aristen Rizal dengan sumpah serapah, dua kali di panggil ke kantor hanya menanyakan tentang alamat kampung Eva hingga dirinya harus bekerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya.


.


.


.


.


🐨🐨🐨🐨


Membuat Cerita novel itu lebih susah daripada membuat cerita gosib tetangga, jadi mohon maaf jika upnya terlambat atau hanya sedikit.


Yuk kasih Vote agar aku bisa lebih semangat.😊😊

__ADS_1


__ADS_2