
Aku tidak tau harus marah atau tidak, karena setengah hati ini ada seseorang yang sudah mendapatkannya.
.
.
.
.
"Ah.? itu aku tadi bertemu sama dia di toko kue, dan dia meminta tolong pada ku." jawab Ana.
" Meminta tolong Apa.?" tanya Eva penasaran.
" Eh, Budhe kamu di sini Va.?" tanya Ana sedikit terkejut saat melihat keluarga Dani yang sedang menatapnya dengan tersenyum
"Oh iya. ayo.?" Ajak Eva. " dan kau masih punya hutang tentang penjelasan mu ini." bisik Eva hingga membuat Ana mengerutkan kening.
" Tuan?" sapa Asisten Arzan, menghampirinya yang sedang duduk di ruang tamu bersama keluarga Eva.
" Kau sudah membelinya." ucap Arzan dan di anggukkan oleh Asistennya.
" Terima kasih, dan tunggulah aku di ruang kerja." perintah Arzan, hanya anggukan lagi dan pergi dari hadapan keluarga Eva yang sedang menatapnya.
Ana menatap sekilas dan tersenyum senang saat melihat Asisten Arzan yang menatapnya dengan tatapan dingin dan tatapan permusuhan.
Ingin rasanya Asisten Arzan mengumpat kesal akan apa yang di lakukan teman Nyonyanya ini.
Sungguh jika ia tidak tau bila Ana adalah teman Eva dan akan pergi ke rumah Tuannya tidak akan mungkin ia mau memberi uang begitu banyak.
Sudah membayarnya dengan mahal dan dia harus menyetir motor pula, sedangkan Ana menikmatinya dengan duduk di belakang dengan tersenyum puas akan keuntungan yang dia dapat. kancil yang cerdik bukan.?
Keberuntungan Ana di pagi hari, sudah mendapatkan uang, tidak menyetir motor dan tidak susah-susah untuk mencari alamat rumah Eva. Karena orang yang meminta tolong padanya ternyata satu arah dan satu tujuan dengannya.
" Saya tinggal ke ruang kerja dulu Paman, Budhe." Pamit Arzan dengan sopan
" Iya nak Arzan." jawab Budhe dan paman.
Beralih menatap istrinya dengan tersenyum.
" Aku ke ruang kerja sebentar." ucap Arzan. " Nanti bik Santi akan membawakan cake yang kamu minta." ujarnya lagi hingga membuat istri tersenyum senang dan mengangguk cepat.
" Terima kasih Ay.?" jawabnya hanya anggukan serta mengusap pipi istrinya sebelum dia pergi untuk menemui asistennya.
Melihat Arzan yang memperlakukan Eva dengan sangat lembut serta perhatian membuat siapa saja meleleh dengan sikap Arzan termasuk Budhe Eva, Menatapnya dengan rasa syukur karena Eva mendapatkan pria yang benar-benar mencintainya serta memperlakukannya dengan baik.
" Tante, Om.?" sapa Ana dengan ramah dan menyalimi Ibu dan Ayah Dani.
" Nak Ana sehat.?" tanya Budhe
" Sehat tante. Tante sehat.?" tanya balik Ana.
" Tante sehat An. Tante mau punya cucu nich An." ucapnya dengan bahagia
__ADS_1
" Ana juga senang tante, selamat ya tante." jawabnya dengan tersenyum.
" Terima kasih sayang.!!" serunya dengan senang." Oh iya An, apa itu tadi pacar kamu." ucap Budhe hingga membuat semua orang menatapnya termasuk Dani yang menatap Ana.
" Budhe.! dia Asisten Arzan." sahut Eva.
" Oh.!! Budhe pikir itu pacar Ana." jawab Budhe dengan mengangguk anggukan kepala. " Eh tapi dia cakep lho An dan cocok jadi pacar kamu." ujarnya lagi hingga membuat Ana membulatkan mata.
" Iya gak Va." ucap Budhe pada Eva, hanya tersenyum paksa dan tidak mau mengangguk karena dia tau jika Ana menyukai kakaknya.
sedangkan Dani tidak menunjukkan expresi apapun sama sekali, dan dia mencoba mengalihkan perhatiannya dengan bermain ponsel. Ana yang melihat Dani seperti itu hanya tersenyum kecut karena dia tau jika Dani tidak mungkin menyukainya dan dia tau yang sesungguhnya.
****
Membuka pintu ruang kerja, memperlihatkan Asistenya yang sedang duduk di sofa dengan memeriksa berkas yang akan di tanda tangani olehnya.
Mendengar suara pintu yang terbuka, dia pun berdiri dari duduknya dan sedikit membungkuk untuk memberi hormat pada Tuannya.
" Bagaimana dengan klaien kita dari singapure." tanya Arzan dan duduk di sofa tunggal dengan Asistenya yanga ada di sebelahnya.
" Mereka menerimanya dengan syarat yang sudah kita tentukan dan mau bekerja sama dengan kita." jawab Asistennya.
" Dan tandernya."
" sudah kita dapatkan." jawab cepat Asistennya membuat Arzan tersenyum dan senang karena Asistennya selalu bisa di andalkan.
" Ini dokumen yang harus anda tandangani." ucapnya lagi dan menyerahkan dokumen pada Arzan.
Membereskan semua berkas yang ada di meja dan menyimpannya dalam tas sebelun dia beranjak untuk pergi ke kantor
"Mario?" sapa Arzan, membuat sang pemilik nama menatapnya.
" Ya." jawab Asisten Arzan yang bernama mario.
" Bagaimana kabar ibu dan adik kamu." ucapnya, tersenyum saat Tuannya menanyakan kabar ibu serta adiknya.
" Dia sudah membaik dan sudah bisa menggerakkan tangannya." ucap Mario. " Terima kasih Tu-."
"Kakak." sahut cepat Arzan. " Sudah berapa kali aku melarang mu untuk memanggil ku Tuan." kata Arzan membuat Mario menundukkan kepala.
" Kau sudah aku anggap sebagai adikku sendiri di saat kau mendonorkan beberapa kantung darah mu untuk ku." ucap Arzan. " Jika saja kau tidak ada aku pasti sudah ma-."
" Jangan bilang begitu kak." sahut cepat Mario dengan mengangkat kepalanya untuk menatap Arzan. " Aku menolong mu dengan iklhas dan kakak memberikan ku imbalan yang begitu banyak hingga kehidupan ku yang sekarang berubah drastis." ucap Mario dengan rasa bersyukur.
" Terima kasih kak." ujarnya lagi dengan tersenyum tulus.
" Dan aku juga berterima kasih pada mu." jawab Arzan dengan membalas senyum yang tulus pula.
" Kalau begitu aku pergi ke kantor dulu kak." pamit Mario dan berdiri dari duduknya.
" Iya." jawab singkat Arzan.
Menatap kepergian Mario dengan tersenyum dan bersyukur saat di mana lima tahun yang lalu dia menolongnya serta mendonorkan darah di saat Arzan sedang kritis akibat berkendara dengan kecepatan tinggi dengan posisi dia yang sedang mabuk berat saat itu.
__ADS_1
Lima tahun yang lalu saat mantan pacarnya berkata jujur dengan keadaan dia yang berada di rumah sakit akibat kecelakaan.
Mengatakan jika dirinya berselingkuh dan hamil dengan mengandung anak selingkuhannya.
dan itu membuat Arzan marah, kecewa serta sakit hati akan kejujuran pacarnya serta penghianatan yang dia lakukan padanya hingga Arzan begitu saja meninggalkan pacarnya di rumah sakit dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.
tiga tahun berpacaran dengan dia, menjaganya, memberikan apa yang dia inginkan dan tidak sedikit pun Arzan menyentuh atau pun meminta hal yang lebih pada wanita yang dia cintai. Karena Arzan begitu menghormatinya.
Balasan cinta dia dengan penghianatan begitu membuatnya kecewa hingga Arzan membutuhkan pelampiasan saat itu dengan pergi ke sebuah clab malam, memesan minumam begitu banyak di bar tander hingga membuatnya mabuk begitu berat.
berkendara dengan dia yang mabuk berat serta emosi yang membuatnya tanpa sadar menancap pedal gas hingga kecepatan tingga dan oleng saat melihat sorot lampu truk mengenai mata yang membuatnya begitu silau.
jalanan yang sepi tidak ada satu pun pengendara yang melintas saat itu, dan Tuhan masih baik padanya hinga seorang pemuda yang menaiki motor melihat kejadian itu dan membantunya keluar dari dalam mobil, sedangkan truk dari arah berlawanan melarikan diri.
Mario sempat bingung harus bagaimana membawan pria yang sedang terluka parah, dengan keberanian serta tekat dia membopong tubuh Arzan untuk di naikkan di atas motornya, melingkarkan tangan Arzan ke tubuhnya dan mengikatnya dengan sabuk pinggangnya.
Mengendarai kecepatan sedang dengan tangan satu dan tangan satunya untuk memegangi tangan Arzan takut jika tubuh Arzan jatuh.
Menolong orang yang tidak di kenal serta mendonorkan darahnya bukan kah itu seorang pahlawan? malaikat tanpa sayap.
**Ini foto Mario ya.😊
Ini visualnya Dani.
dan yang ini Ayang Arzan.
.
.
.
Hayooo!!! pilih yang mana.?😀😀😀
Kalau aku sih Ayang Arzan.😍😍
__ADS_1