
Apa begini rasanya melamar kekasih di hadapan orang tuanya? Gugup dan takut, seperti harap-harap cemas saat mengajukan kontrak kerja untuk di terima.
.
.
.
.
" Zan.? kenapa? " tanya Eva saat melihat Arzan yang duduk di sebelahnya dengan menatap luar jendela mobil serta menggenggam tangan Eva dan kaki yang sedikit di hentak hentakkan saat gugup.
Ya, setelah ia bertemu dengan Revan di cafe Arzan memutuskan untuk menjemput Eva siang itu bersama sang sopir untuk menemaninya tanpa Asisten yang harus menggantikannya saat rapat dengan klainnya.
menatap ke arah Eva dengan dia yang tersenyum membuat Arzan sedikit tenang akan kegugupannya dan membalas senyuman kekasihnya.
" Ah tidak apa-apa, aku hanya sedikit gugup saja.?" ucapnya, membuat Eva mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban dari Arzan.
" Gugup, kenapa.?" tanya Eva lagi.
" Apa rasanya seperti ini saat meminta kekasihnya pada orang tuanya secara langsung.!" ucapnya tanpa sadar membuat Eva tersenyum, serta tertawa kecil.
" Rasanya seperti apa?" pancing Eva.
" Rasanya seperti? jedanya, dan menatap ke arah sopir.
" Pak agus.?" sapa Arzan.
" Ya, Tuan.?" jawab sopirnya dengan melihatnya di spion tengah.
" Perasaan bapak bagaimana saat meminta istri bapak di hadapan orang tuanya?" tanya Arzan, membuat Sopirnya tersentak kecil saat Tuannya bertanya seperti itu.
" Rasanya, gugup dan takut Tuan.?" jawab Pak agus.
" Takut? " kata Arzan dengan memicingkan mata " takut kenapa pak.?" tanya ulang Arzan.
" Takut lamaran saya di tolak sama calon mertua Tuan.?" ucap sopirnya, membuat Arzan sedikit tersentak kecil saat mendengar jawaban sopirnya.
__ADS_1
" Apa lamaran ku akan di tolak." gumam Arzan dengan suara yang begitu kecil, dan masih bisa di dengar oleh wanita yang ada di sebelahnya.
" kalau di tolak, kita tidak jadi menikah." saut Eva.
" kalau begitu aku hamilin saja kamu dulu, biar nanti kita di nikahin." jawab Arzan dengan gamplang membuat Eva melototkan mata tidak percaya akan apa ucapan Arzan dan Sopirnya pun juga sama menatap Tuannya sekilas ke arah kaca spion.
Eva pun memukul lengan Arzan bagaimana bisa seorang pebisnis sukses itu dengan seenaknya berbicara mau menghamili anak orang apa lagi belum menikah, apa dia tidak takut akan nama baiknya itu tercemar.
Pukulan Eva membuat Arzan tersenyum dan tertawa kecil serta menarik lengan Eva untuk memeluknya dan mencium puncak kepala Eva dengan gemas.
" Aku tidak akan merusak seorang wanita yang aku cintai meskipun aku di tolak oleh keluarga mu." kata Arzan dengan memeluknya. " Bagaimana pun caranya aku akan berusaha untuk mendapatkan restu dari keluarga mu." katanya lagi, hingga membuat Eva tersenyum dan mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah kekasihnya.
" Kalau Budhe ku tidak akan pernah menolak kamu, tapi entah dengan paman dan kakak ku" kata Eva membuat Arzan menatap kekasihnya.
" kenapa begitu.?"
" Karena. ?" jedanya dengan tersenyum " karena budhe ku suka dengan yang bening bening.?" katanya lagi dengan berbisik, membuat Arzan tertawa dan mengacak rambut Eva dengan gemas.
" Tidurlah, perlajanan masih panjang. Nanti jika sudah sampai aku akan membangunkan kamu." ujar Arzan dengan lembut, dan di anggukkan oleh Eva. Bersandar di bahu kekasihnya dengan tangan yang masih saling mengisi kekosongan itu.
Mungkin karena lelah hingga tidak membutuhkan waktu lama, mata Eva sudah terpejam dan terlelap di sandaran ternyaman. kekasihnya yang akan menghalalkannya, yang akan melindunginya dan menjaganya.
Kamu milik ku selamanya akan menjadi milik ku, terima kasih sudah hadir dalam hidup ku yang kelam ini.!" gumam Arzan dan mencium tangan Eva yang di genggamnya.
cinta bisa mengubah segalanya, mengubah karakter orang yang dingin dan kejam pada orang lain, tapi tidak untuk wanita yang dia cintai dia begitu hangat dan mudah tersenyum saat dengannya.
diam diam sang sopir tersenyum melihat Tuannya yang sudah sedikit berubah karena wanita yang ada di sebelahnya.
selama tujuh tahun bekerja, selama lima tahun itu pula Tuannya berubah menjadi orang dingin dan kejam tidak banyak bicara dan selalu marah dalam hal kecil, dia berubah saat dia di hianati dan di tinggalkan oleh orang yang dia cintai, dia berubah menjadi orang pendiam saat keluarga satu satunya pergi untuk selamanya.
Selama lima tahun dia sendiri, meratapi nasib yang selalu di tinggalkan, di telantarkan. Sikap dingin dan kejamnya itu lha yang membuat hidup dia menjadi orang sukses, orang yang di takuti oleh semua rekan kerjanya.
Mengusik kehidupan dia sama saja dengan mengganggu singa yang sedang tertidur, sekali menerkam semua di dapat olehnya.
Meskipun dia kejam dan dingin, dia orang yang royal pada siapa pun, membantu orang yang kesusahan tanpa ada yang tau, memberikan donasi pada anak panti tanpa harus memberikan namanya untuk mendapatkan sanjungan semua orang.
Sopirnya itu juga pernah merasakan di mana saat dia sedang kesusahan dan membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit anaknya yang akan di operasi, tanpa harus di beri tahu Tuannya lah yang membiayai semua kebutuhan anaknya hingga anaknya sembuh, tidak sepersen pun gaji sopir itu di potong untuk membayar hutangnya pada Tuannya. sungguh beruntung dia bekerja dengan Arzan, Tuan yang dingin tapi masih mempunyai perasaan untuk saling membantu.
__ADS_1
berdoa pada Tuhan semoga Tuan Arzan bahagia dalam menjalani kehidupan yang barunya nanti saat berumah tangga.
hanya butuh waktu tiga jam untuk sampai di desa Eva, di sore hari dengan pemandangan yang indah.
menelusuri jalan desa yang sudah beraspal, melihat ke arah luar jendela dengan tersenyum saat melihat lapangan bola yang penuh dengan pemuda saat akan bertanding ataupun menjadi penonton.
mobil yang sudah berhenti tepat di depan rumah keluarga Eva, melihat seorang ibu ibu yang sedang bercengkrama saat berada di teras rumahnya.
Membangunkan kekasihnya dengan suara pelan dan lembut saat menyentuh pipinya.
" Va, ayo bangun kita sudah sampai.?" ucapnya, mengerjabkan mata perlahan saat pipinya di usap lembut oleh Arzan.
" Sudah sampai?" tanya Eva dan di anggukkan kepala oleh Arzan dengan tersenyum.
Melihat keluar jendela, memicingkan mata saat melihat banyak ibu ibu yang berkerumun di rumah Budhenya, seperti sedang bergosip atau pun sedang ketempatan arisan
" Kenapa.?" tanya Arzan
" Kenapa ramai sekali ya.?" ucapnya dengan pelan.
" Mungkin sedang menunggu kamu." jawab Arzan.
" Menunggu ku.!" serunya dengan menatap kekasihnya itu. " Astaga!" pekiknya dengan terkejut dan menatap kembali ke arah rumah budhenya.
.
.
.
.
.
🍀🍀🍀🍀
maaf atas keterlambatannya.
__ADS_1
Babang tengil mau pindah tempat ke Novel lain boleh kan.?😊