
Jika penghulu berkata SAH dan sudah terdengar semua orang itu berarti kamu sudah menjadi milik ku selamanya. Kini kamu istri ku, tanggung jawab ku, dan bidadari dalam hidup ku.
.
.
.
.
Dekorasi dalam rumah yang sederhana, tenda biru yang berada di halaman menjadi saksi acara pernikahan memberikan teduhan untuk kerabat saat ingin melihat, mendengar ijab khobul dari seorang pria yang sungguh ingin menjalani rumah tangga.
Arzan yang sedikit gugup saat berada di dalam mobil di temani dengan asisten yang setia dengannya dan seorang supir untuk menjadi saksi, tepat saat mobilnya sudah berhenti di depan rumah Eva dengan beberapa mobil yang berada di belakang sebagai pengiring manten untuk memberi kesan yang sempurna.
Menatap keluar jendela, menghembuskan nafas panjang untuk menetralkan detak jantungnya sebelum dia keluar dan melangkahkan kakinya menuju tenda biru.
Pantovel hitam yang mengkilat saat jenjang kaki Arzan turun dari mobil. memakai jas koko putih serta paduan celana putih slimfit membuat kesan sempurna saat acara sakral.
" Mas.?" teriak seorang pria saat akan menghampirinya, membuat Arzan menatap sumber suara. Tersentak kecil saat melihatnya dan kemudian tersenyum saat dia menghampirinya.
" Aku pikir kamu tidak akan datang." kata Arzan saat pria itu mendekat.
" Hais!." dengan menghembuskan nafas malas " Kalau kau bukan kakak ku, malas sekali aku datang ke acara nikahan mantan pacar.!" serunya lagi, membuat Arzan tertawa saat mendengarnya.
" Sad boy.!" serunya dengan tertawa ejek, membuat pria itu merasa sebal tapi juga ikut tertawa.
Revan, Ya dia lah yang menyapa dan menghampirinya bersama dengan asistennya dan ikut serta untuk menjadi saksi ijab khobul saudara tirinya.
Dua hari sebelum menikah Arzan berkunjung ke rumah Tuan Gio untuk ke dua kalinya menginjakkan kakinya di sana.
Sudah tidak ada rasa marah dan benci lagi di dalam hatinya saat ia sudah memulai membuka hati untuk menerima keadaan, menenggelamkan masa lalunya dan membuka lembaran baru yang akan di mulainya dengan seorang wanita yang dia cintai.
Sedikit terkejut saat Tuan rumah melihat keberadaan Arzan, melihat Anak mantan istrinya datang sendiri.
Tersenyum dengan sedikit menundukkan kepala untuk memberi hormat pada Tuan Gio dan di balas dengan tepukan lengan oleh Tuan Gio serta tersenyum hangat untuk menyambutnya, mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah untuk menemui ibu tirinya.
" Siapa pa.?" tanya Nyonya Vani saat menghampiri suaminya yang berada di ruang tamu.
__ADS_1
Terkejut dan mata membulat sempurna melihat anak tirinya yang berada di samping suaminya, anak tirinya datang ke rumah dengan wajah yang tersenyum saat menatap ibunya, tidak ada lagi kebencian dalam diri anak tirinya, membuat sang ibu tiri tersenyum serta mata yang berkaca kaca.
" Ma.? " sapa Arzan dengan sedikit begetar saat mengucapkannya.
Berdegub kencang saat sang anak tiri memanggilnya, memanggil sebutan mama untuknya. Tangan yang menutup bibir dan air mata yang mulai mengalir saat sang ibu tidak bisa berkata apa pun, menghampiri anak tirinya, menyentuh pipinya dan tidak ada penolakan sedikit pun dari Arzan membuat sang Ibu menghambur ke dalam pelukannya.
Menangis dalam pelukan sang anak tiri, menuangkan rasa rindu yang teramat dalam, berharap ini bukanlah mimpi tidur.
Setetes air mata jatuh di pipi Arzan saat ia mulai membalas pelukan ibu tirinya, saat ia membalas rasa rindu pada ibunya. sungguh inilah yang di ingin kan Arzan saat ini, memeluk ibu yang telah lama pergi dan kembali lagi dalam hidupnya.
Tuan Gio yang melihat antara anak dan ibu itu merasa terharu dan juga menitikan air mata kebahagiaan, merasa kini ia sudah menebus kesalahan di masa lalu, mengambil ibu anak tirinya untuk dia bawa pulang ke rumahnya dan membiarkan anak tirinya sendiri dalam kesunyian.
" Maafkan Arzan ma.?" ucap Arzan.
" Tidak nak, kamu tidak salah. Mama yang salah maafkan mama maafkan mama." jawabnya dengan masih menangis dalam pelukan Arzan.
Perlahan Nyonya Vani melepaskan pelukannya menghadap wajah anaknya, menyentuh kedua pipi anaknya dengan tersenyum, menundukkan kepala saat mama akan mencium keningnya, Mencium kening anaknya dengan lama dengan kasih sayang yang teramat dalam.
" Maafkan mama.?" ucapnya lagi saat sudah mencium anaknya.
" Terima kasih nak." ucap Nyonya Vani dan memeluknya kembali.
" Aku juga mau di peluk.!" seru pria yang ada di belakangnya yang sedari tadi melihat antara ibu dan saudara tirinya itu saling berpelukan dan saling meminta maaf, menundukkan kepala dan menitikan air mata saat merasa terharu melihatnya.
Nyonya Vani, Tuan Gio dan Arzan memutar tubuhnya untuk beralih menatap ke belakang saat mendengar suara pria. Tersenyum saat menyadari suara pria tengil dan mengulurkan tangan untuk menyambutnya.
Tanpa berpikir panjang Revan pun berjalan cepat dan memeluk ibu serta kakak tirinya, bersama Tuan Gio yang juga ikut memeluk mereka. Kini rasa kebahagiaan menyelimuti keluarganya.
" Sudah, sudah berpelukannya. mama enggak bisa bernafas ini.!" ucap Nyonya Vani, membuat suami dan dua anaknya tertawa dan melepaskan pelukannya.
" Ayo kita makan bersama nak." ajak Nyonya Vani dan di anggukkan oleh Arzan.
" Aku enggak di ajak ma.!" seru Revan dengan wajah cemberut.
" Mama sudah bosan mengajak kamu tiap hari.!" balas Nyonya Vani dengan tertawa.
" Idihh.! Mama ku kejam sekali." ujarnya hingga membuat mereka tertawa dan berjalan bersama menuju meja makan.
__ADS_1
meja makan saat awal pertama dia datang dengan wajah dingin dan rasa sedikit marah kini berubah menjadi wajah yang hangat dan tersenyum saat makan bersama kembali.
Meja yang tidak sepi dan saling mengobrol hingga makanan dalam piring habis, tidak ada rasa canggung lagi sekarang.
Mengajak Arzan untuk berada di ruang keluarga, menikmati teh hangat untuk mengobrol lagi.
" Om, ma. ada yang ingin saya sampaikan pada kalian." kata Arzan, membuat sepasang suami menatapnya.
" Apa nak." kata Tuan Gio.
" Dua hari lagi saya akan menikah." ucapnya, hingga membuat Nyonya Vani dan Tuan Gio saling menatap dan tersenyum saat kembali menatap Arzan.
" Kamu akan menikah? dengan siapa nak?" ucap Nyonya Vani.
" Dengan Eva, mantan kekasih Revan." jawab Revan, terkejut saat mereka mendengar jawaban dari Arzan. Entah merasa senang atau sedih saat ini tapi sedetik kemudian Revan menghampiri mereka.
" Waw, kau akan menikah mas, aku pikir kau tidak serius dengannya." kata Revan dan duduk di sebelah Arzan " selamat ya mas, semoga pernikahan kalian lancar, jaga dia baik-baik dan jangan sakiti dia." ujarnya lagi dengan menepuk lengan Arzan, Nyonya Vani menatap anaknya dengan rasa bersalah dan tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
" Boleh mama dan papa datang ke acara pernikahan kamu Zan." tanya Nyonya Vani dengan lirih.
" saya meminta restu mama dan om, dan tolong temani saya untuk pergi ke rumah keluarga menantu mama untuk menjadi saksi kebahagiaan saya." ujarnya dengan tersenyum membuat Nyonya Vani dan Tuan Gio ikut tersenyum dan mengangguk.
" Kau tidak akan datang" kata Arzan pada Revan
" Akan aku usahakan." jawab Revan dan di anggukkan oleh Arzan, meskipun dia tahu jika Revam masih menyimpan rasa pada Eva, entah dia datang atau tidak yang terpenting ia sudah memintanya untuk datang.
.
.
.
.🍀🍀🍀🍀
Enggak semuanya pemeran utama harus menjadi yang utama ya gaes.
karna dalam kehidupan nyata, tidak ada yang mau wanita di sakiti, di hina dan di permalukan oleh mertuanya.
__ADS_1