Eva My Life Line

Eva My Life Line
menjenguk tanpa dosa


__ADS_3

Hanya sebuah ciuman, kau sudah membuatku terprovokasi. Apa senikmat ini duniawi ketika sudah halal.


.


.


.


.


Masih merasa marah dengan apa yang di lakukan oleh Asisten suami sahabatnya itu.


Tidak bisa menikmati suasana yang sesenang ini saat masih memikirkan motor yang di bawa oleh pria gila yang Ana juluki saat ini.


Makan pun tidak begitu berselera apa lagi saat tiga perempuan berkumpul dengan melihat film korea di laptop Eva tidak sedikit pun Ana melirik film itu. Yang seharusnya dia lihat karena film yang memerankannya adalah idolanya.


" Kamu ini kenapa shi An.!" seru Eva dengan cemberut dan menepuk lengan Ana yang tidur tiduran di ruang keluarga bersama Budhe dan Eva.


Duduk dengan bersila dan menghembuskan nafas berat saat akan menjawab.


" Aku masih memikirkan motor ku Va.!" ucapnya dengan wajah memelas.


" Memikirkan motor apa pria itu.!" goda Budhe Eva dengan tersenyum membuat Eva ikut tersenyum sedangkan Ana langsung menggeleng cepat.


" Ya memikirkan motor lha tante. Ngapain juga mikirin pria gila itu.!" ucap Ana yan sedikit ngegas tapi bis terkontrolkan.


" Hahahaha, tu kan Va ngegas? berarti dia mikirin pria gila itu lho." goda Budhe lagi.


" Tante.!!!" rengek Ana karena di goda terus sama Budhe Eva. Eva dan Budhe tertawa puas saat Ana seperti terpojokkan.


" Va minta alamat kantor suami mu." kata Ana.


" Buat apa.?" tanya Eva.


" Mau ambil motor, aku enggak tenang.!" ujarnya dengan mata yang sedikit mengaca hingga membuat Eva merasa kasihan dan ia pun mengangguk.


" Ayo!" ajak Eva dan berdiri dari duduknya.


" Kemana.?" tanya Ana.


" Mau minta alamat kantor pada Arzan, soalnya dia pindah di cabang yang baru." ujar Eva dan di anggukkan oleh Ana.


Berdiri dari duduknya, berpamitan pulang pada Budhe Eva dan berjalan bersampingan dengan dia untuk ke ruang kerja suami Eva.


mengetuk pintu sebelum dia masuk karena Eva takut jika akan mengganggu suaminya. Mendengar suara dari balik pintu ketika menyuruhnya untuk masuk.

__ADS_1


Masuk dalam ruangan dengan tersenyum lebar saat mendapati suaminya sedang bekerja.


" Ay.?" sapa Eva, membuat Arzan beralih menatap sumber suara, tersenyum saat istrinya memanggilnya.


" Sini." pinta Arzan untuk mendekat dengannya, membuat Eva menggeleng malu serta mengode ke belakang karena ada sahabatnya.


Mengerti akan apa yang di kode istrinya membuat Arzan tersenyum karena sikap istrinya yang pemalu saat akan beromantisan di hadapan orang.


" Ay, Ana mau minta alamat kantor baru kamu.?" ucap Eva yang berada di samping suaminya


" Buat apa." tanya Arzan.


" Mau ambil motor ku." saut cepat Ana, membuat Arzan menatapnya dengan mengerutkan keningnya.


" Ay.?" sapa Eva dan menatap kembali istrinya." Kasihan dia dari tadi mau nangis saja karena motornya di bawa sama Mario." ujar Eva lagi membuat Ana membulatkan mata akan ucapan sahabatnya yang menjatuhkan harga diri Ana di hadapan suaminya.


" Biar sopir yang mengantarkan teman mu ke kantor." jawab Arzan dengan lembut serta tersenyum.


" Terima kasih Ay.?" ucap Eva dengan tersenyum dan mencuri satu ciuman di pipi Arzan, yang dapat menodai mata Ana hingga ia melototkan mata.


" Masih ada orang di sini.!" seru Ana. " Kau yang benar saja Va." gerutu Ana dan berbalik ke belakang.


" Ups, maaf An. lagi hilaf." jawab Eva dengan sedikit tertawa, Arzan yang mendengar perkataan istrinya hanya tertawa kecil dan segera memegang tangan Eva agar tidak kabur darinya.


" Kau keluar lah dan minta sopir untuk mengantarkan mu ke kantor." jawab Arzan.


Melangkah pergi dari hadapan sepasang suami istri dan tidak berani berbalik ke belakang untuk menatap mereka karena takut untuk ternodai ke dua kali mata yang suci ini.


" Mangkanya cepetan nikah An.! biar tau rasanya.?" goda Eva dengan sedikit berteriak saat Ana mulai menutup pintu.


Dasar sahabat gak punya akhlak" gerutu Ana dengan menghina sahabatnya dalam hati dan berjalan pergi untuk mencari sopir suami Eva.


Eva yang menatap kepergian temannya dengan wajah yang sebal membuatnya tertawa puas akan apa yang di alami sahabatnya itu.


" Sudah puas Ay.?" tanya Arzan, hingga membuat Eva melihat suaminya dengan mengangguk dan tersenyum.


Menarik tangan istrinya dan mendudukkannya dalam pangkuannya hingga membuat Eva merasa was-was.


" Coba cium lagi." pinta Arzan dengan memajukan pipinya lebih dekat dengan istrinya.


" Jangan mulai dech Ay.?" ucap Eva dengan menggigit bawah.


" Mulai apa Ay.! tadi ada yang bilang biar tau rasanya. Emang rasanya gimana Ay." goda Arzan membuat pipi Eva memerah serta menundukkan kepala menahan malu saat suaminya menatapnya.


Melihat istrinya yang malu karena godaannya hingga dia menyentuh ke dua pipi intrinya.

__ADS_1


" Sejak kapan istri ku ini mulai jail, hhmm." tanya Arzan.


" Sejak aku hamil." jawab Eva.


" Oh.? sejak hamil." ulang Arzan dan di anggukkan oleh Eva.


" Hey, yang ada di dalam." dengan mengusap perut istrinya. " istri ku sekarang pandai menggoda, apa itu ulah mu atau ulah istri ku sendiri." tanyanya pada perut Eva membuat sang pemilik perut tertawa kecil.


" Oh, ternyata ini ulah mu." dan di jawab sendiri oleh Arzan. " Baik lah aku akan menjenguk mu." ucapnya lagi dan membuat Eva melototkan mata saat mendengar suaminya.


Menggendong tubuh istrinya membuat istrinya terkejut dan mengalungkan ke dua tangan nya di leher Arzan, serta membawanya ke dalam kamar yang berada di ruang kerjanya.


Memulai menjenguk buah hatinya di dalam rahim istrinya, karena ulah istrinya lah yang membuat Arzan mulai terprovokasi akan hal yang berbau ranjang.


Sungguh Eva tidak bermaksud untuk membangunkan si ular. Hanya refleks mencium suaminya dan menggoda sahabatnya tapi kini dia lah yang akan menanggung semuanya di atas ranjang.


Sungguh hebat sihir Eva hanya sekali cium sudah membuat Arzan terpancing dan memberhentikan aktivitas kerjanya.


Seperti mereka lupa akan keberadaan keluarga yang berada di luar sedang menunggu atau sedang sibuk dengan sendirinya.


Budhe yang sudah selesai dengan menonton film korea dan mulai bosan saat tidak ada orang di sekitarnya.


Kemana Eva, kenapa belum kembali." gumam Budhe karena sudah menunggunya begitu lama.


Berjalan mencari orang untuk menanyakan keberadaan putrinya karena ini pertama kali ke rumah menantunya dan sedikit bingung akan rumah yang besar lusa dan banyak pintu.


saat mencari putrinya, Budhe melihat suaminya yang keluar dari kamar dan segera menghampirinya.


" Pak lihat Eva enggak.!" tanya Budhe.


" Bapak baru keluar kamar buk, mungkin sama suaminya." jawab Paman.


" Hais, mantuku ini sama seperti bapak dulu dan sekarang pun masih sama." gerutu Budhe dengan tersenyum dan berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan badannya yang sedikit lelah.


sedangkan paman hanya menggelengkan kepala serta ikut masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.


.


.


.


.


🐨🐨🐨

__ADS_1


Modus ya. 😅😅


__ADS_2