
Aku tidak membenci mu, tapi biarkan sementara waktu aku menjauh dari kamu. Agar aku bisa melupakan kenangan indah bersama mu.
.
.
.
Sulit untuk memilih, pada akhirnya Revan melepaskan Eva dengan cara berbicara yang baik.
Menangis di hadapan Eva saat ia bilang untuk menyudahi hubungannya. Rasanya ia tak sanggup untuk mengucapkan perpisahan, rasanya ia ingin marah pada diri sendiri kenapa ia harus berada di pilihan yang sulit.
Bukan hanya Revan saja yang menangis, Eva pun juga sama menangisnya. Hubungan yang sudah hampir satu tahun mereka jalani kini harus menyudahinya karena terhalangnya restu orang tua Revan.
Semua ini hanya demi kebaikan Eva, ia tidak ingin membuat Eva menderita menangis lagi karenanya. Sudah cukup Eva di hina, di permalukan oleh mamanya di depan semua orang.
"Bisa kita menjadi teman.?" ucap Revan pada Eva saat mereka berbicara di dalam mobil setengah jam yang lalu.
" Iya, kita akan menjadi teman." jawab Eva dengan mata yang sembab dan tersenyum.
" Maafkan aku dan jangan membenci ku." kata Revan dengan menunduk dan memegang tangan Eva serta mencium tangan ramping itu.
" Aku tidak akan membenci kamu, terima kasih sudah mau bersama ku selama ini." jawab Eva dengan menahan air matanya.
"Semoga kamu bahagia dengan pilihan mama kamu." tambahnya hingga membuat Revan menatap wajah Eva dengan mata yang memerah dan langsung memeluk tubuh Eva.
Eva yang mendapatkan pelukan dari Revan membuat air matanya terjatuh lagi dan menangis di dekapan Revan.
Cukup lama mereka menangis dalam berpelukan hingga Eva melepaskan pelukan Revan.
" Sudah jangan menangis nanti ketampanan kamu hilang lho.!" ucap Eva untuk mencoba menghibur dan mencoba untuk berteman dengan mantan kekasihnya itu.
Revan pun tersenyum dan menghapus air mata Eva yang tersisa di pipinya.
"Kamu juga jangan menangis, lihat mata kamu sembab begini." ucapnya, membuat Eva pun juga ikut tersenyum.
" Ya sudah aku balik ke kost dulu ya, habis ini aku mau kerja. kamu jaga kesehatan jangan telat makan dan jangan terlalu lembur terus" kata Eva
" Kamu juga, jaga kesehatan, jangan telat makan kalau ada apa-apa hubungi aku." jawab Revan dan di anggukkan oleh Eva dengan tersenyum kecil.
Eva pun mulai keluar dari mobil Revan tanpa melihat lagi kebelakang karna itu masih menyakitkan.
__ADS_1
Lebih baik begini, menangis untuk kamu sementara waktu dan semoga kamu bahagia dengan pilihan mama mu." gumam Eva dengan melangkah serta menghapus air mata yang terjatuh lagi.
Revan yang ikut keluar dari mobil dan melihat Eva pergi tanpa melihat ke belakang membuat hatinya sakit, entah kenapa ia merasa bersalah pada Eva merasa kehilangan belahan jiwanya yang sudah memenuhi setengah hatinya.
Aku berharap Tuhan akan menyatukan kita kembali Va." gumam Revan saat melihat punggung Eva yang sudah menghilang dari pandangannya.
Revan mulai masuk ke dalam mobil memijat kepalanya yang terasa pening dan merasa sesak di dadanya kala harus melihat Eva untuk yang terakhir kalinya.
****
Eva yang mendapatkan siff sore hari itu bisa sedikit lega untuk mengompres matanya yang sembab dengan air hangat agar tidak terlalu mencolok saat bekerja nanti.
Mulai bekerja dan melayani semua tamu yang ingin memesan makanan untuk di kirim kan ke kamar hotel.
mempunyai teman baru mengingatkannya dengan Ana. Rasanya ia rindu dengan teman lamanya itu, ingin sekali ia ke rumah Ana bercurhat jika dia sudah putus dengan Revan.
Makan malam bagi para tamu membuatnya sedikit sibuk, membuat Eva tak lagi memikirkan rasa patah hatinya.
Eva yang mendapatkan perintah untuk mengantarkan makananan di lantai dua belas itu pun segera melaksanakannya.
Entah kenapa Eva selalu mendapat perintah dari atasannya untuk mengantarkan makanan ke lantai dua belas, di mana Arzan selalu ada di sana dan selalu mengajaknya makan bersama.
Sedikit menunduk kan kepala saat berada di hadapan Arzan untuk menghindari tatapannya agar dia tidak tau jika mata Eva yang masih sedikit sembab.
Menyiapkan makanan di meja makan dan segera beranjak dari harapan Arzan.
Arzan yang sedikit curiga melihat Eva yang selalu menunduk pun segera menghalangi langkahnya yang akan pergi dari hadapan dia.
Sedikit tersentak kecil saat arzan ada di hadapannya sehingga dia mendongakkan kepala untuk melihat Arzan
Memicingkan mata saat melihat mata Eva yang sedikit sembab, hingga entah kenapa rahang Arzan mulai mengeras.
" Siapa yang membuat kamu menangis." tanya Arzan pada Eva.
" Tidak ada." jawab Eva
" Jangan bohong." tandas Arzan karena tidak mendapat jawaban dari Eva ia hanya menunduk dan mulai menangis membuat Arzan dengan refleks memeluknya.
Pertama kali Arzan memeluk Eva, pertama kali Eva menangis di dalam pelukannya. selama satu bulan Eva bekerja ia tidak pernah melihat Eva menangis, tapi malam ini Eva menangis seperti pertama kali ia melihatnya di restoran yang di hina dan di perlakukan dengan tidak baik.
Arzan memeluk Erat tubuh Eva dengan mengusap lembut rambut Eva, cukup lama mereka berdiri dan Eva sedikit mulai tenang.
__ADS_1
" Ada apa.?" tanya Arzan saat melepaskan pelukannya dan menatap wajah Eva.
" Dia memutuskan ku, dan memilih pilihan mamanya." jawab Eva tanpa sadar.
Entah Arzan merasa senang atau merasa kasihan dengan Eva sekarang. Senang karena Eva sudah putus dengannya dan mempunyai kesempatan untuknya bisa memiliki Eva, kasihan karena Eva menangis hingga membuat matanya bengkak.
" Kamu pasti lapar, ayo makan" ajak Arzan dan memegang tangan Eva untuk menuju meja makan serta tidak memilih membicarakan mantan kekasih Eva.
Seperti biasa Eva mengambilkan makanan untuk Arzan dan mengambil makanan untuknya.
" Kenapa tidak di makan." tanya Arzan saat melihat Eva tidak menyentuh makanannya.
" Aku tidak lapar." jawab Eva.
" Kamu ingin makan sesuatu." katanya dan membuat Eva menatapnya dan mengangguk serta tersenyum
" Apa? " tanya Arzan
" Mau ramen boleh nggak." kata Eva dengan memohon.
" Itu makanan pedas, yang lain saja." ucap Arzan, membuat Eva mengerucutkan bibirnya. tidak mau membuat Eva kecewa hingga akhirnya Arzan pun menurutinya dan menelpon asistennya untuk mengirim Ramen ke kamarnya.
" Terima kasih.?" kata Eva dengan tersenyum pada Arzan.
" Jangan menangis lagi." ucapnya, dan di anggukkan oleh Eva
Arzan yang mendengar suara ketukan pintu itu pun segera membukanya, melihat asistennya yang membawa trolly makanan pun segera mengambilnya dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
Mendesah dan menggelengkan kepala, saat melihat Eva tertidur di sofa karena terlalu menunggu dan telalu lelah akibat menangis di putusin oleh kekasihnya itu.
Perlahan mengangkat tubuh Eva dan membawanya untuk menuju kamar pribadinya. Menaruhnya di ranjang dan menyelimuti tubuhnya, memandangi wajah Eva dengan tersenyum dan beranjak pergi untuk ke sofa untuk merebahkan badannya di sana.
.
.
.
.ππππ
votenya mana nich, biar author semangatππ
__ADS_1