Eva My Life Line

Eva My Life Line
Seperti cupang


__ADS_3

Atmosfir ini begitu terasa kala dua orang pria saling berhadapan dengan mata yang tak bersahabat.


.


.


.


.


Dua pria satu wanita duduk dengan diam di dalam ruang tamu yang mengundang hawa panas dan menyeramkan kala tidak ada yang mau berbicara lebih dulu.


Dani yang duduk di sofa tunggal sedangkan Ana dan Mario duduk bersebelahan di sofa panjang. Dengan Mario yang baru saja selesai mandi dan wangi sampo Ana menyeruak indra penciuman bagi siapa saja yang ada di ruangan.


Bagaimana tidak tercium kala Mario dengan sengaja memakai sampo Ana begitu banyak agar Dani bisa menghirupnya.


Ya, Mario kala itu memeng sengaja berteriak memanggil Ana dan menanyakan handuk. Saat dia bangun dari tidurnya dan akan keluar kamar untuk mencari Ana tidak sengaja ia mendengar suara pria yang tidak asing baginya.


Mengintip sebentar dari celah gorden yang menyinggat antara ruang tamu dengan ruang keluarga. Hingga mengerutkan kening kala mendapati Dani ada di rumah Ana.


Menguping percakapan antara Dani dan Ana, dan mendengar lebih jelas kala Dani ingin mengajak Ana jalan-jalan. Mencari ide untuk menggagalkan semuanya hingga Mario dengan cepat beranjak pergi menuju kamar mandi, dan berteriak memanggil nama Ana.


Ana yang mendengarkan teriakan Mario begitu terkejut dan menatap Dani yang juga menatapnya. Dan terdengar suara lagi Mario yang masih memanggilnya.


Berjalan cepat meninggalkan Dani yang masih duduk di sofa dengan menatapnya yang ingin meminta penjelasan, tapi dengan cepat pula Dani pun juga beranjak dari duduknya dan mengikuti Ana yang akan menghampiri suara pria yang memanggilnya.


Terkejut kala mendapatkan Asisten suami Eva yang menyembulkan kepalanya di kamar mandi Ana. Ana yang melihat kehadiran Dani begitu terkejut dan beralih menatap Mario yang menatap Dani dengan wajah datarnya


" Aku tunggu kalian di ruang tamu.!" ucap Dani dengan meninggalkan Ana serta Mario yang sedang menatapnya, beralih menatap Mario yang melihatnya dengan tersenyum serta menaik-naikkan alisnya.


Menghembuskan nafas berat, menahan amarah dan berjalan menuju ke ruang tamu yang Dani sedang menunggunya di sana, tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun untuk Mario.


Melihat Ana yang pergi dari hadapannya dan akan menemui Dani membuat wajahnya kembali datar dan kembali melanjutkan mandi sebelum menemui Dani.


Dan di sini lah mereka bertiga duduk di ruang tamu dengan dua pria saling menatap dengan tatapan tak bersahabat.


" Sejak kapan kamu di rumah Ana.!" tanya Dani.

__ADS_1


" dua hari berturut-turut." jawab santai Mario, membuat Dani beralih menatap Ana yang sedang mengalihkan tatapannya.


" sudah ngapain saja." tanya Dani membuat Ana menatap tajam ke arah Dani.


Tersenyum kecil kala Dani menanyakan kata yang tidak pas di telinga Ana, seperti mengisaratkan kata nakal di diri Ana.


" Makan, mandi dan tidur di kamar Ana.!" jawabnya dengan tengil untuk mencoba merecoh amarah Dani.


Menatap tajam kala Mario mendengar jawaban terakhirnya yang tidur di kamar Ana membuat Dani beralih menatap Ana yang sedang menatap Mario dengan mata yang menajam.


" Apa itu benar An jika dia tidur di kamar mu.?" tanya Dani dengan menahan Amarah.


" Iya.?" jawab Ana tanpa ragu, membuat Mario dan Dani menatapnya dengan tatapan tidak percaya akan perkataan jujur Ana.


" Apa kau sudah me-." kata Dani dengan terpotong cepat oleh Ana.


" Jika dalam pikiran mas Dani seperti itu, anggap saja itu benar." sela Ana dengan santai dan menatap Dani.


Terdiam beribu bahasa kala Ana menjawabnya dengan tegas dan tidak ada keraguan dalam dirinya saat apa yang Ana ucapkan itu menyakiti dirinya sendiri.


Berdiri dari duduknya, dan meninggalkan Ana tanpa berpamitan. mungkin karena Dani merasa marah atau kecewa pada Ana yang percaya dengannya tapi telah mendusta.


Tidak mendusta karena Ana dan Dani tidak ada hubungan apapun kan. Dan masih sah-sah saja jika Ana berdekatan dengan siapa pun termasuk dengan Mario.


Menatap kepergian Dani dengan senyum yang kecewa saat Dani pegitu saja berpikir negatif pada dirinya.


Menjalin kedekatan selama tiga tahun apa dia masih meragukan Ana yang tidak pernah berdekatan dengan pria dan selalu menutup dirinya hanya demi dia (Dani) . Dan saat Mario hadir serta singgah dalam rumahnya, Dani begitu gampangnya percaya akan pikiran negatifnya pada Ana.


Menghembuskan nafas berat dan tidak ingin menangis lagi, sudah cukup baginya cintanya bertepuk sebelah tangan yang hanya mendapatkan harapan palsu saja dari Dani.


Berdiri dari duduknya dan akan berjalan menuju kamar sebelum dia terkejut dengan seorang pria yang ada di sampingnya menarik tangannya hingga membuat Ana terjatuh tepat di atas pangkuannya.


Membulatkan mata kala Ana berada di pangkuan Mario dan hanya dua jengkal dari wajah Mario.


mengunci tubuh Ana hingga Ana tidak bisa menggerakkan tangannya.


" Lepasin pria cabul.!!" seru Ana dengan memberontak di pangkuan Mario " Nanti di lihat orang.!" ujarnya lagi dengan menatap satu pintu yang terbuka.

__ADS_1


" Kalau gitu kita pindah ke kamar saja." jawab Mario dengan gaya tengilnya, membuat Ana melototkan mata.


" Kau gila apa.!" pekik Ana.


" Kau kan takut di lihat orang.! mangkanya ayo kita pindah." ucap Mario dengan tersenyum.


" Enggak mau." tolak Ana "cepetan lepasin.!!" ucapnya lagi karena takut akan terlihat orang di luar sana, dan pasti akan menimbulkan fitnah nantinya.


" Cium dulu.!" pinta Mario dengan manja, lagi-lagi membuat Ana melototkan mata akan permintaan yang begitu fulgar baginya.


" Dari pada begini mending nikahin saja diri ku ini." ucapnya dengan lirih, dan sukses membuat Mario membulatkan mata.


" Kau mau.?" tanya Mario dengan begitu antusias dan melonggarkan kedapannya. Mendapati Mario lengah membuat Ana segera mencubit dada Mario hingga membuat sang pemilik dada meringis kesakitan.


turun dari pangkuan Mario serta menjaga jarak agar tidak lagi di tangkap oleh Pria cabul.


" Pria cabul.!! Rasain tu.!" seru Ana dan pergi begitu cepat untuk ke meja makan.


meringis kesakitan dan mengusap dadanya yang di cubit oleh Ana hingga memerah di bangian sana.


" Seperti ****** saja.!!" gumam Mario dengan menatap dadanya yang merah, dan menggelengkan kepala karena pikirannya sudah terlalu kotor akibat selalu berdua dengan Ana dan imajinasinya pun sudah berkelana ke mana-mana.


" An.!! ayo kita nikah.!!" teriak Mario dan mulai berdiri dari duduknya serta berjalan untuk menghampiri Ana yang menunggunya di meja makan.


.


.


.


.🐨🐨🐨


Tengilnya sama gak sih kayak babang Revan.!!😅😅


Kangen babang Revan ya.😄😄


Yuk mampir di sad boy wiht gadis tomboy di sana ada babang Revan lho.

__ADS_1


__ADS_2