Eva My Life Line

Eva My Life Line
bersyukur.


__ADS_3

Kamu telah menggantikan mimpi buruk ku dengan mimpi indah. Kekhawatiran dengan kebahagiaan, ketakutan dengan cinta.


.


.


.


.


Flastback.


" Bagaimana?" tanya pria yang duduk di belakang kursi mobil dengan menatap keluar jendela.


" Keamanan di acara pernikahan itu tidak terlalu ketat, hingga anak buah kita bisa masuk ke dalam sana." jawab Asisten pria itu, yang menatap dari kejauhan rumah yang sudah di penuhi oleh para tamu undangan untuk menjadi saksi ijab kabul dari keluarga terpandang.


" Hmm, pastikan anak buah mu tidak melakukan kesalahan." ucap bosnya dan di anggukkan oleh asistennya.


Pria seumuran dengan Arzan, yang mempunyai dendam dengan dia karena telah membuatnya kehilangan kekasih dan calon anaknya.


Beni, teman Arzan waktu masih kuliah bersama, menjalin pertemanan yang sangat dekat hingga mereka saling menyukai wanita yang sama.


Dan wanita itu memilih Arzan karena Arzan sangat dewasa serta sangat perhatian dan apa pun wanita itu mau Arzan selalu memberikannya.


Satu setengah tahun berpacaran Arzan mulai di sibukkan oleh pekerjaan barunya yang harus mengelola perusahaan kala kakeknya sudah mengundurkan diri dari jabatan CEO.


Arzan selalu sibuk hingga mereka jarang sekali berkomunikasi dan bertemu, hingga wanita itu mulai jenuh dan kesepian.


Beni yang masih mencintai kekasih Arzan mempunyai kesempatan untuk mendekati kembali saat wanita itu mulai kesepian.


Memberikan perhatian, saling berkomunikasi dan saling jalan bersama hingga kekasih Arzan mulai menyukai Beni dan mereka menjalin hubungan secara diam-diam.


Dua tahun setengah menjalin hubungan dengan Arzan dan satu tahun berselingkuh dari Arzan, hingga mereka melakun hal yang lebih seperti layaknya suami istri.


Mengetahui wanita itu hamil Beni merasa senang dan bahagia karena kekasih Arzan hamil anaknya, tapi wanita itu sangat tidak suka jika hamil karena dia mencintai Arzan dan tidak ingin menikah dengan Beni.


Memaksa Arzan untuk segera menikahinya dan Arzan pun menurut untuk segera menikahi kekasihya karena Arzan juga sangat mencintai kekasihnya.


Merasa senang dia akan menikah dengan Arzan membuat Beni merasa marah dan akan membongkar semuanya di hadapan Arzan, tapi Beni terdiam saat mendengar Ancaman kekasih Arzan jika ia akan menggugurkan bayi yang ada di kandungannya dan itu sungguh membuat Beni merasa tak berdaya, hingga akhirnya dia memilih diam agar calon anaknya yang ada di dalam kandungan kekasih Arzan tidak di gugurkan.

__ADS_1


Wanita itu mengalami kecelakaan saat dia merasa senang mendapatkan cincin pertunangan dari Arzan, tidak sengaja cincin itu terjatuh kala dirinya mengendarai mobil tanpa berhenti saat akan mengambilnya tapi naas setir itu oleng dan menghantam mobil lain dan membuat mobil dari belakang menabraknya dan terjadi tabrakan beruntun.


Mengetahui kekasih Arzan kecelakaan Beni segera datang ke rumah sakit untuk menemui wanita itu. Berada di area parkir rumah sakit dan akan keluar dari mobil ia urungkan saat melihat Arzan berjalan dengan wajah yang marah masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah sakit.


Beni yang masuk ke dalam ruang IGD melihat kekasih Arzan yang berumuran darah, melemah dan pucat.


" Kamu tidak apa-apa." tanya Beni dengan menggenggam tangan kekasih Arzan. " Dokter, suster.!" teriaknya untuk memanggil dokter agar wanita ini bisa segera di tangani. karena rumah sakit terlalu banyak pasien kecelakaan dan harus bersabar untuk mendapatkan penanganan


" Dia pergi saat tau aku hamil." ucap kekasih Arzan dengan lirih. " A-ku tidak kuat, ma-afkan a-ku." ujarnya lagi.


" Dokter, suster!!" teriak Beni sekali lagi saat melihat wanita itu menutup mata dan tangan yang sudah lemas.


Berteriak beberapa kali untuk memanggil suster dan dokter, datang dan memeriksa pasien yang sudah menutup mata hingga akhirnya dokter menyatakan meninggal.


Begitu terpukul saat mengetahui wanita yang di cintainya meninggal serta anak yang belum lahir pun juga meninggal.


Membenci teman lama bertekat untuk membalas dendamkan kematian kekasih dan anaknya


****


Terdengar suara tembakan sekali lagi, dan tidak terlalu nyaring dari yang sebelumnya. dua pria yang saling berhadapan dan saling memperebutkan pistol hingga pada akhirnya pistol itu mengarah tepat di perut salah satu pria, dan tembakan itu mengenai perutnya.


Saling memeluk dengan mata yang saling menajam, sebelum salah satu dari mereka terjatuh dengan banyaknya darah yang berada di perutnya.


" Mario." lirih Eva membuat Anna menatap kebelakang saat mendengar ucapan Eva.


Terkejut dan membulatkan mata saat melihat Mario yang berdiri dengan baju yang banyaknya noda darah.


" Mario.!!" teriak Anna dan berlari menuju ke arah Mario.


Menghambur ke tubuh Mario yang berdiri tegak dan memeluknya dengan erat. Menangis di dalam pelukan suaminya.


" Aku tidak apa-apa sayank." ucap Mario dengan memeluk istrinya untuk menenangkannya.


Melepas pelukannya untuk menatap wajah Mario dan menatap baju suaminya yang berumuran darah, serta melihat ke arah pria yang terjatuh dan juga berumuran darah di tubuhnya.


" Aku tidak terluka." kata Mario saat mengetahui kecemasan di wajah istrinya.


Berhambur kembali ke tubuh suaminya dengan memeluk erat dan menangis.

__ADS_1


" Aku takut kamu terluka Rio.!" ucap Anna yang begitu gemetar di tubuhnya.


" Aku tidak apa-apa sayank!" jawab Mario dengan tersenyum dan mencium puncak kepala istrinya.


" Jangan tinggalin aku Mario." pinta Anna


" Aku tidak akan meninggalkan mu Yank, kita akan selalu bersama sampai tua nanti." jawabnya dengan gemas. " Dan aku tidak akan membiarkan mu terluka." ujarnya lagi


" Kau tidak papa.?" tanya Arzan pada Mario yang menghampirinya dengan wajah cemas.


" Aku tidak papa kak." jawab Mario, saat Anna sudah melepaskan pelukannya.


" Anna.?" sapa Eva.


" Va." jawabnya dengan saling berpelukan.


" Sepertinya ada yang sedang mengincar istri mu kak." ucap Mario, membuat Arzan menatapnya dan menatap pria yang sudah meninggal.


" Kau membunuhnya." tanya Arzan.


" Iya, tapi kakak tenang saja. Tidak akan ada sidik jari di pistol itu." jawab Mario dengan ringan, membuat Arzan mengangguk dan tersenyum.


" Eva, Anna.!" teriak Dewi yang berlari ke arah dua wanita yang saling menenangkan. Menghambur ke dalam pelukan dua wanita dengan rasa lega dan bersyukur sahabatnya tidak mengalami luka.


" Terima kasih Tuhan kau telah melindungi sahabat-sahabat ku." ucap Dewi membuat Anna dan Eva tersenyum


" Kau tidak apa-apa." tanya Dani pada Mario yang menghampiri mereka dengan rasa khawatir.


" Aku tidak apa-apa." jawab Mario dengan tersenyum membuat Dani merasa lega akan kekhawatirannya.


Menunggu polisi tiba untuk membawa jasad pelaku untuk di otopsi dan meminta keterangan untuk beberapa saksi atas kejadian penembakan.


sedangkan pria yang berada di dalam mobil menatap rumah megah itu dengan rasa kecewa dan marah karena anak buahnya tidak becus untuk membunuh seorang wanita hamil.


.


.


.

__ADS_1


.🐨🐨🐨


Tenang.? Mario aman kok.😆😆


__ADS_2