Eva My Life Line

Eva My Life Line
mengharukan


__ADS_3

Kamu yang bisa menyempurnakan hidupku, melengkapi kekuranganku dengan kehadiran kamu di sisiku.


.


.


.


.


Sudah satu minggu Mario tinggal di rumah Anna dan malam ini Mario mengajak Anna untuk menemui Tuan Varman yang berada di ruang keluarga untuk membahas sesuatu yang harus ia tentukan sekarang.


Duduk berhadapan dengan Tuan Varman yang sedang menatapnya, dan berbicara dengan sopan sekaligus untuk meminta ijin pada kakek istrinya.


" Apa kau benar ingin meninggalkan ku sendiri di sini." ucap Tuan Varman sekali lagi, memelas pada menantu dan cucunya untuk tidak di tinggalkan sendiri di rumah sebesar ini.


Ya, Mario meminta ijin untuk membawa pulang cucu Tuan Varman yang sudah sah menjadi istrinya untuk di bawa pulang ke rumahnya. Bukan karena Mario tidak suka tinggal di rumah Anna, tapi di rumahnya juga masih ada yang membutuhkannya. Maria, adiknya yang sudah satu minggu ia tinggal sendiri di rumah, hanya Art dan sopir yang menemaninya selama Mario tidak ada di rumah, bertanya kabar hanya lewat telpon dan chat sekali kali mereka vidio call.


Anna yang sudah mengenal Maria pun juga sering berkomunikasi dan sering chat ataupun vidio call, karena Anna juga sudah menganggap Maria sebagai adiknya sendiri walaupun mereka hanya bertemu sekali saat ijab kobulnya dan Maria pun juga gampang akrab dengan siapapun, jadi tidak begitu sulit bagi Anna untuk beradaptasi dengan Maria.


" Kami akan sering berkunjung ke rumah kakek." ucap Anna, yang mengetahui kakeknya begitu enggan untuk di tinggalkan.


" Apa Maria tidak bisa tinggal di sini saja." ucap Tuan Varman, membuat Mario dan Anna menatapnya.


" Ada banyak kenangan di rumah sana dan tidak mungkin Maria mau meninggalkannya." jawab Mario. " Kakek bisa menginap di sana jika kakek mau." ujarnya lagi dengan tersenyum.


Menghembuskan nafas berat dan tersenyum pada sepasang suami istri ini " Baiklah jika itu keputusan kalian tapi berjanjilah untuk sering menemui pria tua ini, dan cepat buatkan pria tua ini cucu." ujarnya dengan tersenyum, membuat Mario dan Anna ikut tersenyum.


" Dan satu lagi kek yang ingin aku sampaikan ke Anda." kata Mario.


" Apa." ucap Tuan Varman.


" Saya bersedia untuk menggantikan Anna." ucap Mario, dan Taun Varman pun tersenyum karena Mario mau mengelola perusahaannya dan pria tua ini tau jika Mario bisa membuat perusahaannya akan berkembang pesat jika berada di tangan Mario.

__ADS_1


" Kapan kamu akan memulai menggantikan Anna." tanya Tuan Varman.


" Satu minggu lagi, saya akan menggantikan Anna di kantornya" jawab Mario, dan di anggukkan oleh pria tua itu.


Menikmati cemilan malam dengan di temani teh hangat dan saling bercerita membuat mereka tidak sadar jika jam sudah hampir menunjukkan pergantian hari.


" Hah! sudah malam, sebaiknya kalian tidur." perintah Tuan Varman dan di anggukkan oleh sepasang suami istri ini.


" Selamat malam kek.!" ucap Anna dengan memeluk kakeknya dan di balas Tuan Varman dengan memeluk Anna dan mencium puncak kepala cucunya dengan kasih sayangnya.


" Selamat malam sayang." jawabnya, Mario pun juga sama dengan Anna mengucapkan selamat malam pada Tuan Varman dan balas olehnya juga.


Duduk termenung sendiri, saat semuanya sudah pergi dari ruang keluarga. Menatap bingkai foto yang terpampang jelas di dinding dan laci panjang dari berukuran besar dan sedang, foto dirinya bersama istri, bersama anaknya dan bersama cucunya, foto kenangan yang penuh cerita di dalam hidupnya.


" Cucu kamu sekarang sudah menikah dia akan meninggalkan ku sendiri lagi, saat suaminya mementa ijin untuk membawanya keluar dari rumah ini. Rumah ini besar, tapi aku merasa kesepian mulai esok." curhatnya pada foto istrinya dengan mata yang berkaca.


" Aku rindu denganmu sayang, tapi aku masih ingin menemani cucumu hingga dia memberikanku cicit dan menggendongnya hingga besar. Ayu, papa juga rindu dengan mu doakan papa untuk selalu ada di sisi anak dan cucu kamu." ujarnya lagi dengan menatap foto keluarga kecilnya dan meneteskan air mata saat ia merindukan istri dan anaknya.


Tidak ada orang tua yang mau hidup sendiri meskipun mereka mempunyai segalanya. Mereka akan kesepian, saat anak perempuannya akan di bawa pergi oleh suaminya. Bukan dia kecewa pada keputusan anaknya, tapi dia tau jika kodrat istri sudah berpindah pada suaminya dan keputusan yang di ambil itu benar maka istri pun harus menurut dan mengikuti perintah kepala keluarga.


Melepaskan seorang anak perempuan lebih berat daripada melepaskan anak laki-laki, karena anak perempuan belum tentu di terima baik oleh orang tua suami.


Menghembuskan nafas beratnya dan mengusap air mata yang membasahi pipi serta bingkai kaca foto, menciumi foto istri dan anaknya yang sudah meninggal dan memeluknya dengan erat, meresapi rasa rindu yang ada di hatinya.


****


pagi hari di sambut cerahnya matahari yang bersinar begitu terang dan awan biru yang indah.


Hari libur yang di habiskan waktu pagi ibu hamil adalah menyirami bunga di taman, dengan dia yang lebih suka akan udara segar dan menyejukkan di pagi hari.


Bukan hanya bunga yang ia tanam, tapi juga tumbuhan yang ia tanam di pot besar dengan cara mencangkok. Seperti sekarang, ia sedang memetik hasil panennya buah jeruk dan kelengkeng yang sudah berbuah lebat dan matang.


Bagi ibu hamil, ia sangat menikmati semua ini. Menanamnya, menyiraminya dan memetiknya di bantu dengan penjaga kebun dan salah satu Art yang juga merawat tumbuhannya.

__ADS_1


Selesai dari memetik, Eva segera membawanya ke dapur, membersihkannya sendiri dan membagikan sebagian untuk seluruh pekerja rumah dan sebagian untuk dirinya.


Berjalan ke arah ruang keluarga dan membawanya di sana untuk di makan dengan sang suami yang sedang sibuk dengan laptopnya.


Duduk di samping suami dengan dirinya yang mengupas buah jeruk untuk ia makan dan menyuapi suaminya.


" Sudah puas berkebunnya Ay.?" tanya Arzan pada istrinya, saat istrinya sedang menyuapinya.


" Hmm, sudah." jawabnya dengan tersenyum " Kamu belum selesai.?" tanyanya.


" Sudah." ucap Arzan, mematikan laptopnya dan duduk berdua menikmati buah segar yang baru di petik.


" Capek.?" tanya Arzan.


" Enggak, kan di bantu sama, pak kebun dan mbak rumah." jawab Eva, membuat Arzan tersenyum dan mengusap pipi istrinya.


" Ay, dua minggu lagi budhe dan pakdhe ke rumah katanya mau mengadakan syukuran jutuh bulanan bayi kita." kata Eva. " Boleh kan Ay." tanyanya.


" Dia sudah mau tujuh bulan ya." kata Arzan dengan mengusap perut istrinya dan mendapatkan tendangan dari bayinya membuat Arzan terkejut dan juga Eva pun sama terkejutnya.


" Dia bergerak?" tanya Arzan dan Eva pun tersenyum serta mengangguk.


Mendekatkan kepalanya di perut istrinya yang sudah kelihatan membuncit, mendengarkan sura detak jantung anaknya dan mendapatkan sekali lagi tendangan dari anaknya membuat Arzab tersenyum dan mencium perut istrinya dengan lama.


" Sehat terus ya di perut mama, jangan buat mamanya kesakitan karena tendangan kamu." kata Arzan membuat Eva tertawa kecil dan menikmati masa berharganya saat anaknya mulai aktif menendang perutnya dengan di dampingi suami yang selalu perhatian pada dirinya.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Wahh.!! momen yang sangat mengharukan.😍😍


__ADS_2