
Bertemu dengan mu seperti tom n jerry, yang tak pernah akur dan saling bertengkar. Tapi juga membuat rindu jika tidak bertemu.
.
.
.
.
Berjalan keluar rumah mencari sopir suami Eva untuk meminta tolong mengantarkannya ke kantor suami sahabatnya itu.
Bertanya pada penjaga yang dia pukul saat membantu Mario pergi membawa motornya.
menanyakan di mana sopir suami Nyonyanya karena dia akan ke kantor, memberitahu jika sopir Tuannya berada di garasi mobil sedang memanaskan mobil Tuannya.
Bergegas ke arah garasi dan bertemu dengan sopir suami Eva.
" Tuan menyuruh bapak untuk mengantarkan saya ke kantornya." ucapnya pada sopir.
" Baik mba, mari saya antar." jawab sopan sopir Arzan dan berjalan terlebih dulu untuk menuju mobil yang bukan punya Arzan, melainkan punya Nyonyanya.
Tersenyum senang saat sopir Eva mau mengantarkannya dan berjalan di belakang sopir untuk mengikutinya.
saat dia akan masuk ke dalam mobil, Ana berhenti sekejab dan menatap sumber suara.
" Kamu mau ke mana.?" tanya Dani yang sudah berada di samping pintu mobil yang terbuka oleh Ana.
" Mau ke kantor suami Eva." jawab Ana sedikit mengirit
" Mau apa?" tanyanya lagi.
" Mau ambil motor." jawabnya
" Biar aku antar kamu." ucap Dani.
" Tidak usah terima kasih mas, sopir Eva akan mengantar ku." tolak Ana halus. " aku pulang dulu mas." ujarnya lagi dengan sedikit tersenyum dan masuk ke dalam mobil tanpa haeus mendengar jawaban Dani.
menatap kepergian Ana dengan mobil yang sudah keluar dari halaman rumah dan tertutup dengan pagar yang berjulang tinggi.
Apa kau marah dengan ku An.?" gumam Dani dengan menghembuskan nafas beratnya dan berjalan untuk menuju kamar tamu yang sudah di siapkan oleh Eva untuknya.
Duduk di sisi pintu dengan menyandarkan kepalanya di kaca, tersenyum miris saat dia mengingat Dani yang begitu cueknya di hadapan keluarganya saat ada dirinya.
__ADS_1
Tidak sedikit pun dia berbicara padanya apa lagi menatapnya seperti biasa saat mereka pernah bertemu atau pernah Dani ke rumah sakit saat menjenguknya.
Kau tau bagaimana rasanya di acuhkan orang yang kita cinta di hadapan keluarga. Sakit.! itulah yang aku rasakan sekarang." gumam Ana dalam hati dan tersenyum paksa menatap arah jendela.
Tidak ada cairan bening yang keluar dari matanya saat dia sudah mulai jenuh untuk menunggu lama cinta yang tak pernah ada di dalam hati Dani untuknya walaupun sedikit saja.
Mendengar suara ponsel yang berdering dengan notif chat masuk di ponselnya.
" Apa kau marah dengan ku." chat masuk di ponselnya dari Dani.
Tidak ingin membalas pesan Dani ia pun hanya menaruhnya lagi di dalam tas serta menatap kembali ke arah luar jendela.
Meratapi nasib cintanya yang tak berpihak kepadanya, hanya dia yang mencintai dan tidak di cintai olehnya.
Melamun cukup lama dengan menerawang masa lalunya dengan Dani hingga ia tersentak kecil saat sopir memanggilnya beberapa kali.
" Ah, maaf pak saya melamun." ucapnya Ana dengan sedikut tidak enak hati.
" Tidak apa-apa mba." jawab sopir " kita sudah sampai mba." ujarnya lagi dan di anggukkan oleh Ana.
" Boleh saya meminta tolong bapak." kata Ana.
" Boleh mba." jawabnya dengan sedikit menatap Ana yang berada di belakang.
" Tolong Antarkan saya untuk bertemu dengan Asistennya Tuan Arzan pak." ucap Ana hanya mengangguk kecil dan mau mengantarkan Ana untuk bertemu dengan Mario.
Setelah resepsionis menelpon sekertaris Mario menutupnya kembali, Ana beserta sopir di perbolehkan untuk ke ruang Mario yang berada di lantai atas.
" Ruangan Asisten Tuan Arzan mana pak." tanya Ana.
" itu mba.?" tunjuknya sebelah kiri dengan pintu yang saling berhadapan.
" Sudah sampai sini saja pak, terima kasih sudah mengantarkan saja." ucap Ana.
" Sama sama mba." jawab sopir karena mesara tidak ada curiga sama sekali, sopir pun undur diri dan pergi turun meninggalkan Ana yang akan masuk ke dalam ruangan Mario.
mengingat lagi akan kejadian tadi pagi hingga Ana masuk ke dalam ruangan Mario tanpa mengetuk pintu.
" Pria gila.!! balikin motor ku." ucapnya dengan setengah berteriak saat masuk ke ruangan tanpa melihat situasi terlebih dahulu.
Sedikit terkejut saat empat orang yang ada di ruangan itu mendengar suara Ana, dan berbalik menatapnya termasuk Mario yang sedang duduk di kursinya.
Menggigit bibir bawah saat empat orang yang ada di ruangan menatapnya.
__ADS_1
" Kalian kelaur lah." ucap mario pada dua pria dan satu perempuan yang berdiri di samping mario.
Menganggukkan kepala serta berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang Mario.
" Kau juga keluar." usir Mario pada perempuan yang masih berada di ruangannya, dengan wajah sedikit marah hingga akhirnya wanita yang berstatus sekertaris Mario itu pun keluar dan menatap Ana seperti permusuhan.
" Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan orang.!" ucap Mario dan berdiri dari duduknya serta berjalan ke arah Ana.
Menjaga jarak sedikit jauh saat berhadapan dengan wanita yang ada di hadapannya.
" Tidak bisa." jawabnya " Mana kunci motor ku." ucapnya to the poin.
" Sudah aku buang ke tempat sampah." kata Mario, membuat ana melototkan mata.
" Kau gila apa.!" pekik Ana. " Terus motor ku bagaimana." ucapnya.
" Mana aku tau." jawab acuh Mario dengan mengangkat bahunya
" Kau.!!" geram Ana dan berjalan untuk memukul Mario, tapi sialnya saat Ana berjalan cepat membuat kakinya tidak menapak dengan sempurna hingga membuatnya akan terjatuh jika saja Mario tidak segera menangkapnya.
merengkuh tubuh Ana dari depan dengan Ana yang memegang ke dua tangan Mario, membuat mata mereka saling bertemu beberapa saat.
" Lepasin.!!" ucap Ana dengan melepaskan tangannya saat mencengkram tangan Mario.
melepaskan tangannya dari tubuh Ana hingga membuat Ana akan terjatuh lagi jika tidak di pegang lagi oleh Mario.
" Kamu bisa enggak kalau jalan hati-hati. Lihatlah kaki mu terkillir." ucap Mario dan menuntun Ana untuk duduk di sofa, mendengar ucapan Mario seperti itu membuatnya terdiam dan menahan rasa sakit kakinya yang terkilir.
Duduk di sofa meluruskan kakinya yang terkilir, merasa sakit untuk gerakkan apa lagi di buat jalan.
" Kau mau apa.?" tanya Ananl yang melihat mario berjongkok di hadapannya.
Tidak menjawab, mengambil kaki Ana yang terkilir menaruhnya di atas pahanya untuk dia pijat.
" Eh.!" pekik Ana dengan terkejut.
" Diam." ucap Mario, membuat Ana terdiam dan memperhatikannya.
Menggulung celana panjang Ana ke atas, memberikan salep pada kaki yang terkilir dan memijatnya sebentar agar salepnya meresap.
Memperhatikan Mario yang memijat kakinya, entah kenapa Ana sedikit tersenyum, karena pria yang selalu membuatnya marah ternyata juga bisa seperhatian ini padanya.
.
__ADS_1
.
.🐨🐨🐨