
Dunia memang tak selamanya memberikan kebahagiaan, dan jangan jadikan alasan untuk berhenti berjuang.
.
.
.
.
Sudah tiga hari Mario tinggal di rumah Anna dan masih sama, ia tidak sama sekali mendapatkan kesempatan untuk mencicipi sebentar saja nikmat surga dunia malam bersama istrinya karena ulah Tuan Varman yang begitu menyebalkan.
Tiga hari libur bekerja niat ingin ***-*** sama istri malah dia habiskan untuk menemani Tuan Varman, yang dari bermain golf, bermain kuda dan mengunjungi ke kantor Anna. Dan di malam hari masih belum puas mengerjai menantunya, mengajaknya nobar bola, bermain catur dan memberikan tugas kantor Anna pada Mario.
Sungguh Mario ingin sekali marah dan mencaci maki pada pak tua ini, yang tidak memberikan kesempatan sama sekali untuk berduan dengan cucunya.
Malam ini Mario lagi-lagi harus menemani pak tua menonton bola, tidak terlalu semangat karena Mario masih saja belum bisa mencetak gol dari istrinya.
Menghembuskan nafas berat, dan menyandarkan tubuhnya di sofa dengan dia yang memejamkan mata tidak menghiraukan pria tua yang sedang asyik menonton bola sendirian.
Tuan Varman yang melihat Mario hanya tersenyum dan menggelengkan kepala karena itu mengingatkannya padanya dulu saat masih muda dan masih pengantin baru, hanya saja nasib Mario masih beruntung dari pada Tuan Varman.
Lima hari lamanya ayah mertuanya selalu mengerjainya hingga tidak bisa berduan dengan istrinya, dan mencetak gol pun ia tidak bisa melakukannya. Karena istrinya sudah tertidur pulas, saat dirinya berada di luar kamar terlalu lama dengan ayah mertuanyanya.
" Kau mengantuk?" tanya Tuan Varman, membuat Mario membuka mata dan menatap kakek mertua.
" Sedikit kek." jawabnya.
" Kalau begitu tidur lah." perintah Tuan Varman, yang membuat Mario tersenyum dan berdiri cepat untuk meninggalkan Tuan Varman agar ia tidak lagi bersama pria tua itu.
Melihat kepergian menantunya yang berjalan cepat dan tersenyum membuatnya ikut tersenyum, dan sudah waktunya ia memberi kesempatan pada cucu menantunya itu untuk bisa berduan dengan cucunya agar ia bisa menimang cicit dan membuat rumahnya ramai dengan kehadiran anak kecil.
Masuk ke dalam kamar dengan tersenyum saat mendapati Anna yang sedang duduk di sofa dengan melihat tv.
Anna yang melihat Mario sudah ada di kamar dengan jam yang masih belum terlalu malam membuatnya mengerutkan keningnya. Sedangkan Mario melengkungkan bibirnya sempurna saat melihat istrinya yang belum tidur dan mulai duduk di samping istrinya.
" Tumben belum tidur Yank." tanya Mario.
" Tumben juga kamu masuk ke dalam kamar jam segini." tanya balik Anna.
__ADS_1
" Kakek yang menyuruh ku untuk istirahat." jawabnya dan di anggukkan oleh Anna.
" Yank.?" sapa Mario, hanya deheman yang Mario dengar dari Anna.
" Kangen.!!" rengeknya dan menyandarkan kepalanya ke bahu Anna.
"Eh.!" pekik Anna sedikit terkejut " kangen.?" tanyanya dan di anggukkan oleh Mario.
" Setiap hari kan ketemu." kata Anna.
" Iya ketemu, tapi enggak seperti ini." ucapnya dengan menyentuh pipi Anna untuk menghadapnya dan mulai mencium bibir mungil istrinya.
Tersentak kecil dan membulatkan mata saat Mario menciumnya dan mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas pangkuan dia tanpa melepaskan ciumannya.
Memagutnya dengan penuh gairah saat mereka sama-sama merindukannya, melepas ciumannya di saat Anna mulai kehabisan oksigen. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Mario saat suaminya melepaskan ciumannya karena malu di tatap olehnya.
Merasakan nafas Anna yang naik turun dengan cepat dan jantung yang sama dengannya berdetak begitu kencang. Memeluk istrinya yang ada di pangkuannya dan membisikkan sesuatu di telinga istrinya.
" Yank? aku menginginkan mu malam ini." ucapnya dan mencium leher istrinya, mengh*sapnya dan memberikan tanda merah di sana.
Anna yang mendapatkan ciuman di leher dari suaminya merasakan geli dan sedikit mengeluarkan desahan saat Mario mengh*sapnya.
" Mario.!" lirih Anna dengan nafas yang tersenggal.
" Hmm." jawab Mario dengan masih membenamkan wajahnya di dua gunung dan mulai menciumnya serta memberikan lagi tanda merah di sana, membuat Anna meremas rambut kepala belakang Mario saat merasakan sensasi yang panas di tubuhnya.
Melepas baju istrinya, meraba punggungnya dan melepaskan pengait kain hitam yang menutup dua gunung dan membuangnya ke sembarang tempat.
Melihat dua puncak gunung yang ada di hadapannya tidak bisa ia kendalikan lagi hingga ia langsung membenamkan wajahnya di satu gunung yang masih berwarna pink.
Tubuh Anna menegang, merasakan sensasi panas di tubuhnya dengan tanpa sadar ia mendesah, mengubah posisinya untuk menghadap sempurna arah suaminya dan mengusap rambutnya dengan sedikit menekan untuk meminta hal yang lebih dari itu.
Bermain-main dengan dua gunung kembar dengan sesekali melihat mata istrinya yang tertutup akan kenikmatan yang ia buat.
" Mario.!!" ucap Anna di sela-sela mendesahnya.
"Hmm." jawab Mario yang masih menikmati satu puncak gunung, Menarik wajah suaminya dan mencium bibirnya dengan dia yang sudah tidak tertahan.
" Aku sudah tidak tahan." ucapnya dengan memeluk tubuh suaminya, membuat Mario tersenyum.
__ADS_1
" Kita lakukan sekarang." ucap Mario dan di anggukkan oleh Anna.
Mengangkat tubuh Anna yang ada di atas pangkuannya dengan kedua kaki Anna yang melilit pinggang suaminya serta ke dua tangan yang mengalung ke leher suaminya.
Merebahkan tubuh Anna di ranjangnya dengan dia yang mulai membuka semua pakaiannya, Anna yang melihat itu pun begitu malu hingga dia menutup matanya.
" Ini mungkin akan sedikit sakit, tapi nikmatilah. Hmm." ucap Mario yang sudah ada di atas tubuh istrinya dengan masih menumpu ke dua tangannya, hanya mengangguk kecil dan tersenyum serta kembali mengalungkan ke dua tangannya ke leher Mario.
Memulai berciuman, dengan saling m*mang*t, bermain l*dah dan saling bertukar saliva.
Melepaskan kain yang menutupi kaki Anna dan membukanya dengan sedikit lebar, serta kembali menciumi bibir istrinya.
Menghentakkan sekali gerakan membuat Anna memekik kesakitan di dalam sela ciuman suaminya serta meremas kuat punggung suaminya dengan jari-jari kukunya.
Memberikan jeda waktu Anna yang menegang saat mulai memasukinya, dan perlahan memulai permainan dengan tempo yang sangat pelan dan lembut serta menggenggam satu tangan Anna, dengan Anna yang menggenggam erat dan mulai mengimbangi permainan suaminya.
" Anna! katakan kau mencintai ku." ucap Mario dengan ritmen yang mulai cepat.
" Mario!" jawab Anna dengan mendesah.
" Katakan An.!" desaknya sekali lagi saat ia sudah mulai berada di puncak nirwana yang akan mengeluarkan segalanya.
" A-ku, mencintai mu Mario." jawabnya dengan dia yang juga sama berada di puncaknya.
Memagut kembali bibir istrinya dengan mengalirkan rasa cinta dan sayang, serta kebahagiaan saat semuanya sudah ia keluarkan di dalam sana.
Melepaskan pagutannya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. Membiarkan tubuhnya memenuhi Anna dengan secara benar.
" Terima kasih Sayank." bisik Mario.
.
.
.
.🐨🐨🐨
Lunas gais lunas.😆😆
__ADS_1