Eva My Life Line

Eva My Life Line
kita saudara


__ADS_3

Melepaskan adalah jalan yang terbaik, karena kesalahan ku di masa lalu yang membuat kita berpisah, Aku berdoa semoga kamu bahagia.


.


.


.


.


Cafe yang tidak terlalu ramai, terdapat dua lelaki yang duduk di pojok saat salah satu dari mereka ingin bertemu.


Menyerap minuman sebelum mereka ingin berbicara secara damai dan saling mengerti.


" Mas Arzan ingin bicara apa.?" tanya Revan, yang terlebih dahulu berbicara.


Ya, Arzan meminta Asistennya untuk mencari nomer Revan sebelum dia pergi ke rumah Eva untuk melamarnya, meminta bertemu dengannya untuk membicarakan tentang Eva, tentang lamarannya.


Bukan dia pamer saat mendapatkan Eva, tapi dia ingin meminta maaf karena dia sudah merebut mantan kekasih yang masih dia cintai dan memintanya untuk melepas kan Eva dengan baik agar tidak ada dendam di masa yang akan mendatang.


" Apa kamu masih mencintai Eva." tanya Arzan dengan menatap Revan, mengerutkan kening saat orang yang sudah di anggap saudaranya itu bertanya tentang Eva.


" Iya. " ucapnya, dan menundukkan kepala.


" Jika aku menikahinya, apa kamu keberatan.?" kata Arzan, membuat Revan terkejut menatapnya dengan mata yang tajam.


" Maksud mas Arzan." kata Revan.


" Aku mencintai mantan kekasih mu, aku ingin menikahinya apa kamu keberatan." ulangnya lagi dengan tegas.


Mencerna perkatan Arzan satu persatu, mencintai Eva, menikahinya, keberatan.


Jika di bilang keberatan memang dia sangat berat untuk melepaskan Eva karena dia masih mencintainya, Kakak tirinya ingin menikahi Eva sungguh ini membuatnya terkejut. Kenapa harus Eva dan kenapa Wanita yang di cintainya itu yang harus menikah dengan Kakak tirinya, apa Eva sudah melupakannya, sudah tidak mencintainya lagi. Pikirnya?


Menatapnya dengan tajam, mencari kebohongan, kebencian di mata kakak tirinya tapi tidak dia temukan. Mendesah berat sebelum akhirnya dia bertanya.

__ADS_1


" Apa mas Arzan ingin balas dendam dengan ku, karena aku sudah merebut mama dari mas Arzan." tanya Revan, membuat Arzan tersenyum kecil.


" Jika kamu di kasih pilihan kamu pilih mana, mengembalikan mama mu pada ku dan mendapatkan Eva atau memilih mama mu dan mengiklaskan Eva pada ku." kata Arzan.


Terdiam tidak ada jawaban, sulit untuk memilih karena ke duanya adalah orang yang dia cintai. Ibu yang melahirkannya dan Eva yang memenuhi setengah hatinya. Pilihan yang sulit bukan?


Diamnya Revan membuat Arzan mengerti jika dia begitu sayang dengan mamanya dan dia juga belum mengerti bagaimana cara bijak dia untuk menentukan masa depannya.


" Berbijak lah untuk menentukan pilihan kamu suatu saat nanti, jika kamu masih seperti ini tidak akan ada yang mau wanita bersama mu meskipun dia mencintai kamu." kata Arzan membuat Revan menatapnya.


" Di hina dan di permalukan di depan semua orang itu sakit, dua kali aku melihat itu saat bertemu dengan Eva yang di hina, di siram dengan minuman oleh mantan tunangan kamu, di hina sama mama kamu dan kamu hanya diam saja tidak membelanya sama sekali." dengan tersenyum miris "Dia menangis di saat hujan malam yang membasahi tubuhnya." ujarnya lagi dengan rahang yang mengeras saat mengingat Eva yang di hina di depan umum.


Jika di ingat kembali dia begitu salah, tidak membela Eva saat mamanya menghina dia dan dia tidak tau jika mantan tunangannya itu pernah menyiramnya dengan minuman, sunggung kekasih macam apa dia ini.! yang tidak bisa melindungi kekasihnya dari perlakuan kejam mamanya, yang tidak bisa membela kekasihnya saat di permalukan di depan umum.


" Apa kamu sudah tau siapa yang menculik Eva." tanya Arzan, dan di gelengkan oleh Revan, hanya tersenyum kecil saat Revan tidak tau.


" Mantan tunangan kamu yang menculiknya.!"


" Bella.!" serunya dan hanya di anggukkan kecil oleh Arzan.


Sungguh luar biasa kenapa dia tidak mencari tau siapa yang menculik Eva dan kenapa kakak tirinya itu lebih dahulu mengetahuinya.


lelaki yang tegas, bijak dan dewasa dalam bertindak. Tidak seperti dirinya yang masih belum mempunyai pendirian tetap saat akan menentukan sesuatu, dan dia begitu menghormati mamanya meskipun dia harus rela untuk berpisah dengan kekasihnya.


" Jaga baik baik Eva jika dia sudah bersama mu, dia wanita yang baik. jika mas Arzan melukainya aku akan mengambilnya kembali." ucap Revan dengan tegas, bukannya marah akan ancaman Revan dia malah tersenyum dan mengangguk kecil.


" Kau mengiklaskan dia dengan ku."


" Terpaksa." ujarnya dengan sedikit sewot, yang sukses membuat Arzan tertawa saat mendapatkan jawaban dan pertama kali ini dia tertawa lepas merasakan kembali dirinya yang lama tidak pernah seperti ini mengobrol santai dengan seseorang.


Tertawa Arzan membuat Revan juga ikut tertawa, dia seperti mempunyai saudara yang sesungguhnya.


" Kamu mau menjadi saudara ku mas." pinta Revan tulus yang membuat Arzan menatapnya dengan lekat.


" Jika aku tidak mau." tanya Arzan

__ADS_1


" Ya sudah aku tarik saja kembali perkataan ku untuk mengiklaskan mu bersama Eva.!" serunya, hingga satu toyoran mendarat di kepala Revan.


" Auww!" pekik Revan. " sakit mas." dengan mengusap kepalanya dan mengerucutkan bibirnya


" Kau mau mati.!" seru Arzan. " tadi bilang mengiklaskan sekarang mau di ambil kembali." ujarnya lagi dengan sedikit Emosi yang di buat buat, tidak ada rasa canggung dan dingin saat mengobrol dengan saudaranya sekarang


" Mas kan yang mulai dulu." dengan masih mengusap kepalanya.


" Aku sudah menganggap kamu sebagai adik ku, saat pertama kali kamu memanggil ku kakak." jawabnya.


" Ah, soswiit.!!" serunya dengan menempelkan ke dua tangan di pipinya dan mengedip ngedipkan mata, membuat Arzan bergidik ngeri dan memundurkan tubuhnya.


" Kau membuat ku geli." ujar Arzan dan menonyor lagi di kening Revan.


" kau ini mas suka sekali memukul ku." gerutunya. " jadi kita saudara sekarang." tanya Revan dan di anggukkan oleh Arzan dengan tersenyum lebar.


" Cepat lah menikah dan buatkan aku ponakan." ujar Revan dan berdiri dari duduknya. " dan bayar minuman ku mas." katanya lagi dengan berjalan meninggalkan Arzan yang manatapnya dengan tersenyum.


Menatap kepergian Revan dengan gaya tengilnya, sedikit merasa bersalah saat dia merebut mantan kekasih adik tirinya yang masih dia cintai. Tapi dia juga mencintai Eva, dia juga menginginkan Eva.


Maafkan aku, kali ini aku egois. aku harap suatu saat kau akan mendapatkan wanita yang sama seperti Eva.!" gumamnya dengan tersenyum.


Revan yang sudah berada di luar cafe hanya tersenyum getir.


Kau pria yang tepat dan aku mengalah untuk mu. Anggap saja kita impas, aku merebut ibu mu dan kau merebut kekasih ku. Aku berharap semoga kalian bahagia! dan aku akan menganggap mu kakak ku untuk selamanya." Gumam Revan dengan melihat ke belakang dengan tersenyum untuk melihat Arzan yang masih duduk di sana.


.


.


.


.🍀🍀🍀🍀


Aku tau kalian kecewa dengan ku karna Revan tidak sama Eva.

__ADS_1


Tapi tenang saja Si babang tengil akan mendapatkan yang baik. oke.👌 dan akan ada ceritanya sendiri.


Terima kasih buat Vote kalian.😘


__ADS_2