Eva My Life Line

Eva My Life Line
mencuri


__ADS_3

Kau membuat ku tidak bisa tidur nyenyak karena ulah mu yang membuat jantung ku berdetang kencang saat mengingatnya.


.


.


.


.


Menghampiri sahabat yang sudah dia anggap sebagai saudara sendiri. Di saat Eva terpuruk, susah maupun senang, Ana selalu bersamanya, menemaninya dan menghiburnya.


Melihat sahabatnya yang sedang memainkan ponsel dengan muka yang di tekuk saat Eva dan yang lain menggodanya atau memojokkannya karena ulah Mario.


Duduk berhadapan dengan Ana yang berada di kamar dengan bersandar di hearbord sambil memainkan ponsel dan enggan untuk menatap sahabatnya karena tidak mempercayainya.


" Ana.?" sapa Eva dengan menahan senyum, tidak ingin menjawab dan masih saja asyik dengan ponselnya


" Ana.!" ulangnya lagi dengan sedikit keras.


" Apa.!" jawab Ana dengan ketus.


" Dek, aunty kamu marah dengan mama." kata Eva dengan mengusap perutnya berharap Ana melihatnya dan sedikit mulia luntur akan marahnya.


Melihat Eva yang mengusap perutnya dengan berbicara pada bayi dalam perutnya membuat Ana luluh dan menghembuskan nafas beratnya.


" Mama mu enggak percaya sama Aunty.!" jawab Ana " Dan Asisten ayah mu yang memulai dahulu." ujarnya lagi dengan wajah yang cemberut serta menatap Eva.


" Bagaimana harus percaya dek, orang mama sama ayah lihat sendiri bagaimana kelakuan mereka tadi di ruang tamu.!" jawab Eva.


" Astaga Va.!!" seru Ana dan membuat Eva tertawa.


" Iya, iya aku percaya jika sahabat ku ini enggak seperti itu.!" ucap Eva dan membuat Ana menatapnya serta tersenyum saat Eva sudah mempercayainya.


" Tapi kalian cocok lho An."


" Cocok dari mana.! Amit-amit aku sama dia." gerutunya.


" Awas! benci jadi cinta lho." goda Eva


" Enggak akan." jawab Ana. " Eh, Kamu ke runah mau ngapain.?" tanya Ana, agar tidak membahas pria gila yang sudah membuatnya naik darah.


" Minta makan.?" jawab Eva dengan tersenyum. " Dia ingin masakan Auntynya.?" ujarnya lagi dengan menunjuk perutnya serta memasang wajah yang memelas.


" Ngidam buk.!" seru Ana dan di anggukkan cepat oleh Eva dengan tertawa kecil di ikuti Ana yang juga tertawa serta mengusap perut Eva yang masih rata.


Berjalan keluar kamar bersama dan akan menuju meja makan sebelum Eva berhenti untuk memanggil suaminya yang juga ikut untuk makan bersama dengannya.


Hanya menggelengkan kepala saat sahabat, suaminya dan asisten sahabat suaminya menumpang makan di rumahnya.


Sungguh hari yang sangat gila dengan kedatangan mereka dan senang saat rumahnya di kunjungi oleh Sahabat serta suaminya.


Selesai dengan makan bersama, kini Eva dan Ana sedang menikmati nonton film drakor. Sedangkan dua pria memilih untuk menyibukkan diri dengan mengecek email lewat ponsel sekali-kali merasa bosan karena menunggu dua wanita yang sedang asyik dengan sendirinya hingga siang hari tanpa memikirkan mereka.

__ADS_1


" Ay.?" sapa Eva, membuat Arzan menatapnya.


" Jalan-jalan yuk." ajak Eva.


" Kemana.?" tanya Arzan dengan tersenyum.


" Ke moll." kata Eva " dan jalan berempat." ujarnya lagi.


" berempat.?" kata Arzan dan di anggukkan oleh Eva.


" Aku, Ana, kamu dan Mario." jawab Eva membuat Ana dan Mario saling menatap dan beralih menatap Eva.


" Aku enggak bisa Va.?" tolak Ana.


" Kenapa." tanya Eva yang sudah mulai mengerutkan keningnya


" Kaki ku masih sakit." elak Ana yang sebenarnya menghindar karena malas untuk jalan bersama Mario.


Melihat kaki Ana yang memang membengkak tapi sudah tidak sakit jika di buat jalan seperti kali pertama terkilir.


Merasa kasian dan tidak bisa memaksakan sahabatnya untuk ikut jalan bersama hingga dia memutuskan untuk pulang saja, karena berjalan dengan sahabatnya lebih menyenangkan dan bisa saling memberi saran saat berbelanja keperluan wanita.


Beda jika berjalan ke moll dengan suaminya, meminta pendapat malah bilang " Semuanya bagus", hanya bilang ini bagus tidak " jawab Iya." dan tidak ada jawaban lagi sungguh menyebalkan jalan ke moll sama pria yang begitu dingin.


" Kalau gitu aku pulang ya, cepat sembuh biar aku bisa mengajak mu jalan." ucap Eva saat berada di luar rumah.


" Iya.? hati-hati di jalan." jawab Ana.


Masuk ke dalam rumah dengan wajah senang dan menutup pintu rumah berbalik badan hingga terkejut saat mendapati pria yang ada di belakangnya tersenyum.


" Astaga.!! kenapa kau tidak pulang." geram Ana yang mendapati Mario masih berada di rumahnya.


" Lagi di kamar mandi, di suruh nunggu malah di tinggal pulang.!" jawab Mario dengan sedikit memelaskan wajah karena ini adalah triknya agar bisa berduan dengan Ana.


" Kalau begitu pesan taksi online saja, biar bisa pulang." ujar Ana.


" Ponsel ku mati." dengan menunjukkan ponselnya yang tidak hidup, karena dia sendiri yang mematikannya untuk mendapatkan Alasan yang tepat lagi saat Ana menanyakan hal seperti ini.


" Kau.!!" geram Ana dengan mengeratkan giginya dan mengepalkan ke dua tangannya ke depan dada.


Berjalan ke arah kamar di ikuti Mario dari belakang dan masuk berdua di dalam sana mengambil charger dan akan berbalik hingga merasa terkejut saat Mario berbaring di ranjangnya dengan posisi tidur miring serta memeluk guling.


" Pria gila.!!" teriak Ana dengan rasa marah melihat Mario seenaknya saja masuk ke dalam kamarnya.


" Aku mengantuk An.!" jawabnya dengan lirih dan sudah memejamkan mata yang tidak bisa di buka lagi mungkin karena terlalu lelah saat malam hari tidurnya tidak pernah nyenyak akhir-akhir ini.


" Ya Allah.! aku salah apa hari ini.? sampai sampai aku bisa bertemu dengan pria gila." gumamnya dengan lirih serta menghembuskan nafas beratnya dan tidak ingin untuk berdebat lagi dengan pria yang masih setengah hari berkunjung ke rumahnya.


Berjalan keluar dari kamarnya, meninggalkan Mario yang tertidur di ranjangnya. Mengalah untuk hari ini semoga esok hari dia tidak akan mendapatkan tamu yang seenak jidatnya masuk ke dalam rumahnya.


Merebahkan diri di kamar tamu dan beristirahat sebentar untuk nanti mulai membersihkan rumah serta memasak.


Memaksakan untuk bangun saat sore sudah tiba. Berjalan ke arah kamarnya dan mendapati Mario yang masih tertidur lelap menatapnya dengan lekat dan sedikit tersenyum saat melihatnya yang seperti anak kecil saat tidur pulas dan damai tidak ada kejailan saat matanya masih tertutup.

__ADS_1


Mengambil baju dan keluar dari kamar untuk mandi serta membersihkan rumah dan memasak untuk makan malam.


Menggeliatkan badan saat terbangun dari tidur nyenyaknya dan menatap ruangan kamar yang ternyata bukan miliknya. dan melengkungkan bibirnya saat dia masih di rumah Ana.


Berjalan keluar kamar untuk mencari Ana dan melihatnya yang sedang memasak.


" Masak apa.?" tanya Mario membuat Ana tersentak kecil, berbalik dan melihat Mario yang menguap serta bersandar di dinding.


" Kau sudah bangun.!" tanya Ana dan di anggukkan oleh Mario.


" Cepat mandi dan aku sudah menyiapkan makan malam mu." perintah Ana, Mario hanya mengangguk dam berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.


Tersenyum kecil saat Mario menurut dan tidak berdebat dengannya, entah dia masih mengantuk atau malas untuk berdebat.


Menyajikan makan malam dan mengambilkan makanan untuk Mario yang sudah dudum tenang di meja makan.


" Terima kasih." ucap Mario dengan tersenyum hanya mengangguk dan kembali duduk di kursinya untuk ikut makan dengannya.


" Aku ingin cepat nikah, jika tau begini rasanya di layani dengan wanita." ucap Mario dengan mangunyah makanan.


" Ya sudah sana cepat nikah, biar kamu enggak ke rumah ku terus."


" Tapi Aku mau nikahnya sama kamu." jawab santai Mario membuat Ana membulatkan mata dengan sendok yang masih ada di dalam mulutnya.


Tidak bisa menjawab hingga Ana memilih makan dalam diam dan tidak ingin menatap Mario. Sedangkan Mario tersenyum senang saat Ana diam dan menundukkan kepala.


Selesai dengan makan malam, Mario membuka ponsel dan menelpon sopirnya untuk datang ke rumah yang sudah dia sebutkan alamatnya.


Cukup lama menunggu dengan Ana yang duduk di sofa tunggal serta memainkan ponsel untuk menghindari percakapan dengan Mario karena dia masih memikirkan ucapan Mario yang terngiang di dalam kepalanya.


" Aku pulang.?" ucap Mario dengan berdiri membuat Ana menatapnya dan juga ikut berdiri untuk mengantarnya ke depan rumah.


" Kenapa.?" tanya Ana saat mendapati Mario yang berhenti dan memegang matanya.


" Mata ku seperti kemasukan debu.?" jawab Mario dan berbalik menghadap Ana. " Tolong tiupkan." ujar Mario.


Mendekat dan berjinjit untuk meniup mata Mario karena dia terlalu tinggi untuknya.


Menyentuh mata mario dan akan meniupnya tapi Ana membeku dan membulatkan mata saat Mario mencium bibirnya.


" Untuk imun ku malam ini." ucap Mario lirih di telinga Ana yang masih membeku dengan jantung yang berdebar cepat.


Berjalan meninggalkan Ana yang masih terkejut akan perlakuannya dan tertawa senang saat ia sudah mencium bibir Ana


.


.


.


🐨🐨🐨


Garcep ya gaes si Marionya.😂😂

__ADS_1


__ADS_2