
Aku tau jika cinta tidak bisa di paksa, tapi aku akan mencoba mendapat kan cinta mu walaupun nanti kau akan kembali padanya.
.
.
.
.
Menikmati suasana malam yang begitu terang akan cahaya bulan yang terpancar begitu indah.
melupakan sejenak akan ketegangan dan kemarahan yang mereka alami saat beberapa jam yang lalu.
melangkah bergandengan tangan dengan orang yang dia cintai, entah sejak kapan cinta itu tumbuh di hatinya. tapi dia juga tidak tau apa cinta itu bertepuk sebelah tangan tau tidak, karena tidak ada jawaban dari wanita yang ada di sampingnya sekarang.
baginya dia akan tetap menerima keputusan yang wanita itu katakan nantinya, di terima atau tidaknya, dia tidak akan marah karena pada dasarnya cinta tidak bisa di paksa dan akan tetap kembali pada sang pemilik hatinya.
berjalan di sudut taman kota malam yang terdapat banyaknya penjual makanan di pinggir jalan, mencari makanan yang akan mereka tentukan dengan masih tetap tangan yang saling menyatu.
" Kamu ingin makan apa?" tanya Eva dengan menatap Arzan yang berada di sampingnya
" Kalau kamu mau apa?" tanya balik Arzan.
" kalau aku sih!" dengan gaya memikir " semuanya!" serunya lagi dengan tertawa kecil.
" memang perut kamu bisa menampung semuanya"
" kan ada kamu!" jawab Eva dengan tersenyum membuat pria itu ikut tersenyum dan menggelengkan kepala akan sikap Eva yang saat ini seperti anak manja.
Mengeluarkan beberapa uang lembar merah di dompetnya dan memberikannya pada Eva. menatap pria yang ada di hadapannya dengan tidak percaya akan apa yang di berikan olehnya.
" katanya mau beli semuanya, ayo!" ajak Arzan.
" Waahh! kalau begini terus bisa untung aku, uang gajian gak akan berkurang.!" serunya dengan tertawa.
" setiap bulan aku kasih kamu enggak mau."
" aku bukan wanita matrek yang memanfaatkan orang kaya untuk minta ini itu.!" jawabnya.
__ADS_1
" Tapi malam ini gakpapa lah aku matrek, maklumin saja tanggal tua." bisik Eva di telinga Arzan membuat yang pemilik telinga tertawa.
Wanita yang sudah di berikan uang jajan untuk membeli apapun yang dia mau tidak di sia siakan oleh Eva malam ini. menganyunkan tangannya yang masih bergandengan tangan dengan Arzan untuk memilih makanan apa saja yang akan di bawa pulang nanti.
Membeli sosis bakar beberapa tusuk, takoyaki dua bungkus, telur gulung, siomay bandung, martabak manis, martabak telor dan yang terakhir es campur.
Tangan kiri Arzan yang sudah penuh dengan bungkusan kantong plastik dan di tambah tangan Eva yang sama penuhnya membuat Arzan menatap wanita di sampingnya dengabn tidak percaya.
" Ada lagi.?" tanya Arzan
" Sudah, ayo pulang.!" ajak Eva dengan tanpa rasa bersalah, Arzan pun hanya mengangguk dan berjalan untuk menuju parkiran mobil.
mencoba makanan sosis bakar di dalam mobil, membuat seisi ruangan penuh dengan aroma khas makanan, tapi itu tidak masalah buat Arzan yang terpenting baginya sekarang Eva bisa tersenyum.
menyuapi Arzan yang sedang menyetir mobil dan beralih menyuapi dirinya sendiri, tidak ada rasa jijik saat makan satu bungkus dan satu gigitan yang sama dengannya. Sungguh aneh malam ini mereka seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran.
Mengerutkan keningnya saat mobil yang di kendarai Arzan tiba di rumah Arzan.
" Kok enggak nganterin aku pulang!" tanya Eva.
" Makanan tadi enggak gratis, harus di ganti.!" jawabnya.
*****
Memandangi langit gelap di tengah malam dan danau yang terpancar pantulan bulan begitu redup dengan rasa marah dan kecewa akan apa yang terjadi saat ini, saat di mana kenyataan yang tak pernah ia tahu dari orang yang dia sayang, yang dia hormati, yang dia patuhi akan perintahnya.
sungguh dia benci semua itu, benci akan kenyataan di mana dia lahir di saat seorang wanita hamil terlebih dahulu dan masih dengan status suami orang.
merebut kebahagian seorang anak demi kembali ke posisinya untuk bersama selingkuhannya dan membiarkan anak itu hidup tanpa kasih sayang seorang ibu.
Revan tumbuh dengan kasih sayang oleh ibu dan ayahnya, ibu yang selalu melindunginya sedari kecil, ibu yang selalu memberinya kasih sayang, perhatian yang lebih.
Tapi saat ia tahu kenyataan ibu yang melahirkannya juga mempunyai anak sambung dan menelantarkannya membuat dia marah akan hal itu, membuat dia seperti seorang pencuri kasih sayang pada ibunya.
tidak di sangka ibu kandungnya itu mempunyai sisi kelam yang begitu buruk, tapi juga masih menyayangi anak angkatnya.
Cemburu pada pria itu saat dia memeluk mantan kekasihnya, saat dia membenamkan kepalanya di perut Eva.
Marah dengan sendirinya saat Eva mengusap punggung pria itu dan membiarkannya untuk di peluk.
__ADS_1
Ya saat itu Revan melihat Eva yang begitu tergesa gesa seperti sedang mencari seseorang hingga dia mengikutinya sampai ke taman, melihat Eva menghampiri seorang pria yang di anggap ibunya sebagai putra itu seperti menahan rasa cemburu dan marah.
saat dia melangkah kan kakinya untuk mendekat, ia pun tiba tiba berhenti dan berbalik untuk meninggalkan mereka, karena pria itu lebih rapuh daripada dirinya dan membutuhkan sandaran untuk menghilangkan beban yang selama itu ia pendam sendiri.
Apa kamu sudah melupakan aku va! gumam Revan dengan menatap danau yang memantulkan cahaya bulan.
" Kenapa, di tolak cinta.!" seru gadis remaja yang tiba tiba duduk di sebelah Revan hingga membuatnya terkejut dan menatap gadis remaja.
" Kejar saja terus sampai dapat, nanti kalau masih di tolak dukun bisa bertindak kan." ujarnya lagi dengan tertawa.
" Aku saranin ya kak, kalau udah gak di terima jangan maksa biarkan cinta itu pergi pada pemiliknya. lepaskan saja mungkin belum jodohnya." cerocosnya lagi
Revan hanya menatap tajam gadis remaja itu tidak menghiraukan ucapannya. berdiri dari duduknya dan pergi dari gadis kecil itu yang masih berbicara sendiri.
" kak kalau kita ketemu lagi, sapa ya! ajak ngopi bareng nanti curhat saja aku siap dengerin kok!! " teriak gadis remaja itu yang menatap kepergian Revan tanpa melihat ke belakang.
Cowok aneh!" gumam gadis remaja itu dan pergi meninggalkan taman.
Revan yang sudah berada di mobil menatap ponsel yang sedari tadi berbunyi dengan panggilan nama mamanya, tidak menghiraukan dia memilih untuk mematikan ponselnya, dan menjalankan mobilnya untuk menuju ke rumahnya, menenangkan diri untuk sementara waktu agar ia tidak terlalu emosi saat berhadapan dengan orang tuanya nanti.
Nyonya Vani yang mencoba menelpon anaknya lagi kini merasa kecewa saat mengetahui nomer anaknya tidak aktif.
menangis lagi saat ia merasa bersalah dan telah menutupi kenyataan pada putranya.
.
.
.
.
.๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
aku tidak maksa kalian suka dengan cerita ini atau tidak, tapi aku memang ingin membuat cerita ini seperti keinginanku.
jadi buat tim Revan atau tim Arzan jangan pernah kecewa dengan keputusan aku nanti.๐
terima kasih atas Vote kalian semoga kalian mendapatkan rezeki yang banyak. amin๐
__ADS_1