
Penantian ku ternyata tidak sia-sia, dan kau membalas cinta ku dengan langsung melamar ku.
.
.
.
.
Acara syukuran tujuh bulananya kandungan Eva dengan di adakan siraman dan pengajian agar anak dalam kandungannya sehat jasmani dan rohani.
kerabat, sahabat, tetangga dan juga anak panti hadir dalam syukuran Eva dan Arzan di sambut baik dan ramah oleh tuan rumah. Anna dan Dewi pun juga turut hadir dalam acara syukuran sahabatnya itu, mereka berdua antusias untuk membantu.
Diperketat, iya pengamananpun sedikit diperketat karena Arzan tidak ingin kejadian tempo dulu terulang lagi dan menimbulkan korban, ya walaupun sebenarnya Arzan tidak mengundang rekan kerjanya. tapi tidak ada salahnya kan jika Arzan berwaspada, karena musuh bisa saja menyamar sebagai kerabat atau tetanggakan.
Pengajian dan ceramah sudah selesai dan mereka menikmati hidangan dengan cara prasmanan, Anak panti yang di undang pun begitu rindu dengan Arzan dan Eva mereka mengelilingi sepasang suami istri ini dengan canda dan tawa berbagi cerita saat mereka lama tidak berjumpa. Tapi Arzan dan Eva tetap menjadi donatur dan setiap bulan mereka mengirim sumbangan pada anak panti agar mereka tidak kelaparan dan terjamin hidupnya walau mereka di buang oleh keluarganya atau keluarganya yang sudah meninggal.
Kebaikan suami istri ini selalu di ingat pada penghuni dan pengurus panti serta mereka mendoakan Eva dan Arzan, untuk selalu di lancarkan rejeki dan kesehatan dalam keluarga kecilnya.
Selesai dengan pengajian dan amal pada anak panti, kini mereka sedang berkumpul dan makan bersama dengan keluarga besar.
" Aku mau punya ponakan baru." ucap Anna pada Eva.
" Aku juga." sahut cepat Dewi,
" Maria juga mau punya ponakan dua malahan." ucap Maria, membuat semua orang menatapnya.
" Dua.!" kata Eva dengan mengerutkan kening.
" Satu kak Eva dan satunya lagi masih di proses sama kak Anna." jawab Maria, membuat semua orang tertawa.
" Kamu tidak ingin punya ponakan dari aku." tanya Dewi.
" Kakak belum nikah, bagaimana bisa buat ponakan untuk aku." ujar Maria dengan jujur, membuat Dewi mengerucutkan bibir dan semua orang menahan tawa.
" Mangkanya cepetan nikah." kata Eva dan di anggukkan oleh Anna.
" Maunya cepat nikah, tapi enggak tau sama siapa." jawab Dewi dengan sedikit menatap Dani yang sedang menatapnya.
__ADS_1
" Dewi mau enggak nikah sama Anak tante." sela Budhe Eva, menawarkan anak putranya pada wanita yang ada di hadapannya.
Eva, Anna dan Dewi menatap Budhe Eva, beralih saling menatap serta tersenyum.
Budhe Eva belum mengenal Dewi dan ini pertama kalinya Budhe Dewi melihat wanita manis dan selalu bersama dengan Dani dengan Dani yang selalu membantunya saat Dewi sedikit kesusahan.
Budhe salalu memperhatikan gerak gerik putranya dan Dewi mereka begitu akrab dan saling tertawa bersama, dan ini pertama kalinya Budhe melihat Dani sebegitu akrabnya dengan wanita, wanita itu manis dan terlihat baik serta perhatian pada anaknya hingga Budhe tidak meragukan lagi jika wanita yang ada di samping Eva dan Anna ini pilihan yang cocok untuk putranya yang tidak pernah peka pada wanita.
Dani yang mendengar perkataan ibunya itu hanya tersenyum kecil dan menatap Dewi dengan dia yang sedikit terkejut akan perkatan ibu Dani yang melamarnya.
" Putra tante ini orangnya ganteng, pekerja keras, belum mempunyai pacar." promosi Budhe pada Dewi. " Tapi hanya satu kelemahannya, dia orangnya tidak peka dengan wanita." ujarnya lagi yang langsung mendapatkan tertawa kecil dari Anna dan Eva, Dewi hanya menggigit bibirnya menahan tawa saat ibu Dani berkata benar tentang Anaknya.
Memang benar kan apa yang di katakan Ibu Dani jika anaknya tidak peka dengan wanita dan selalu menjadikan wanita ini menunggu lama cinta Dani.
Dani awalnya yang di sanjung ibunya membuatnya tersenyum dan senang, tapi saat ibunya bilang kelemahannya Dani merasa terjatuh dan diam seketika.
" Buk.!" sapa Dani pada ibunya.
" Apa! memang benarkan yang ibu katakan." kata ibunya dan Dani hanya menghembuskan nafas berat serta diam kembali.
" Mau kan nikah sama Putra tante." tanya Dewi dengan sedikit berharap pada wanita yang ada di hadapannya.
" Dewi." ucap Dani membuat semua orang menatapnya dan Dewi pun juga menatapnya.
" Di hadapan ke dua orang tua ku, aku melamarmu, kamu mau nikah dengan ku." ujarnya lagi, dan semua orang yang mendengarnya pun terkejut begitu juga dengan Dewi yang tidak percaya akan apa yang di ucapkan Dani.
" Aku mencintai mu, mau kamu menikah dengan ku." ucapnya sekali lagi dengan tegas dan menatap Dewi yang sedang menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Eva, Anna, Arzan, Mario dan ke dua orangtua Dani menyaksikan lamaran dadakan dari seorang pria dingin dan jarang berbicara itu pada wanita yang sudah lama berteman dan memendam cintanya pada Dani.
Menunggu jawaban dari Dewi dengan semua orang terdiam dan berharap cemas saat apa yang Dewi katakan.
" Dani.?" sapa lirih Dewi membuat Dani menatapnya. " Aku mau menikah dengan mu." tambahnya lagi dengan tersenyum dan meneteskan air mata, Eva dan Ana merasa senang dan memeluk sahabatnya ini dengan rasa bahagia.
Sedangkan Dani menundukkan kepala serta meneteskan air mata kebahagian karena ajakan nikahnya di terima oleh Dewi, Arzan dan Mario menepuk punggung Dani dan mengucapnya selamat padanya.
Kedua orang tua Dani begitu senang saat Dewi menerima ajakan nikah dari anaknya, Budhe terharu dan juga menangis dan memeluk suaminya karena merasa bahagia putranya akan menikah.
" Paman akan ke rumah Dewi, untuk meminta Dewi pada orang tau De-."
__ADS_1
" Anda tidak perlu datang ke rumah Tuan." potong suara pria dari luar bersama wanita dan juga pria tua saat akan memasuki dalam rumah Arzan.
" Kakek." sapa Anna.
" Papa, Mama.!" pekik Dewi saat melihat ke dua orang tuanya ada di rumah Eva.
Kedua orang tua Dewi berjalan ke rah mereka dengan tersenyum dan sedikit mengangguk untuk memberi salam. Anna dan Eva berpindah tempat dan memilih duduk bersama suaminya.
Paman dan Budhe duduk bersama Dani dengan berhadapan ke dua orang tua Dewi.
" Anda tidak perlu datang ke rumah, karena saya sudah ada di sini sekarang." ucap Papa Dewi pada Paman.
" Maafkan kami, karena putra kami melamar putri anda tanpa adanya anda di sini." ucap paman dengan memohon maaf.
" Tidak apa-apa Tuan." jawab Papa Dewi dengan tersenyum. "Apa putri kami menerima lamaran putra anda Tuan.?" tanyanya lagi.
" Maafkan Dewi Pa, Ma." ucapnya lirih meminta maaf pada papanya yang menerima lamaran Dani tanpa sepengetahuan orang tuanya dulu.
" Maaf kan saya Tuan karena sudah melamar putri Tuan." ucap Dani, hanya tersenyum dan sedikit mengangguk pada Dani.
" Putri ku sudah lama mencintai kamu." ucap Papa Dewi membuat semua orang terkejut termasuk Dani dan Dewi."
" Papa.!" seru Dewi dengan menggelengkan kepala untuk tidak menceritakannya pada Dani atau ke semua orang.
" Putri ku mencintai mu sudah lebih dari tujuh tahun." ucapnya, dan Dani membulatkan mata saat mendengarnya. " Sudah beberapa kali Dewi kami jodohkan, tapi dia tolak dan tidak mau karena ayah dan ibunya tau jika putrinya menyukai pria dan setia menunggunya." ujarnya lagi.
" Dan kini cintanya terbalas saat kamu ingin menikahinya." ucap Papa Dewi. " Aku merestui kamu dengan putri ku." imbuhnya dengan tersenyum
" Terima kasih Tuan." ucap Dani dengan tersenyum dan di anggukkan oleh Papa Dewi.
Menatap ke arah Dewi dengan tersenyum dan juga terharu karena Dewi mencintai dirinya dalam diam selama tujuh tahun, Selama ini Dani hanya menganggap Dewi sebagai teman karena dia dulu menyukai Anna dan dirinya terlambat untuk mengungkapkannya, tapi kini dirinya sadar jika selama ini Dewi selalu ada untuk dirinya dan dia mulai nyaman dengannya hingga dirinya berani mengungkapkannya langsung di hadapan semua orang jika ia mencintai Dewi.
.
.
.
.🍃🍃🍃
__ADS_1