
Aku takut saat kamu terluka, entah kenapa! Apa hati ku ini sudah memilih kamu, atau aku hanya merasa kasihan saja. Tapi aku memang benar takut dan tidak ingin kehilangan kamu.
.
.
.
.
Pov. Arzan
Aku merasa seperti mempunyai saudara saat dia memanggil ku dengan sebutan kakak, walaupun dia tidak sedarah dengan ku, walaupun dia bukan keluarga ku.
Mengingatkan ku kembali di saat aku makan bersama dengan keluarga mantan ibu tiri ku.
Malam itu aku merasakan keluarga yang sempurna, keluarga yang utuh. ibu ku kembali, ibu ku melayani ku, ibu ku seperti memberi ku kasih sayangnya lagi seperti waktu dia masih bersama ku.
Ego ku terlalu tinggi saat ibu ku ingin memeluk ku, aku menolak. Tapi hati ini sakit saat aku menolaknya padahal aku ingin sekali merasakan kembali pelukan seorang ibu.
Apa aku bisa mempunyai kesempatan lagi saat nanti aku bertemu dengannya dan ingin memeluk ibu ku walau sebentar saja. meminta maaf karena ke egoisan ku, meminta maaf karena kemarahan ku yang berlebihan, memintaa maaf karena aku tidak tau apa sebabnya dia pergi dari ku hingga aku mengerti sekarang.
aku seperti orang ke tiga di antara hubungan saudara ku dengan kekasihnya, sungguh aku tidak tau jika dia kekasih saudara ku.
Awal bertemu aku hanya merasa kasihan menangis dalam hujan dan pingsan, di hina dia hanya diam dan lagi lagi dia menangis di taman saat hujan deras.
Aku mulai mempunyai rasa pada wanita itu saat aku melihatnya dengan tersenyum dan berbaur dengan anak panti, dia begitu cantik manis, lemah lembut dan penyayang.
wanita itu yang membuat hidup ku mulai kembali tersenyum, kembali merasakan hidup berwarna, kembali membuka hati ku untuk mencintai seorang wanita.
wanita itu pula yang membawakan ku bertemu kembali dengan ibu tiri ku, saat sekian lama aku tidak tau kabarnya. merasakan malam itu menjadi keluarga yang utuh dimana yang sedari dulu aku impikan.
Apa aku harus mengalah untuk pergi dari kehidupan wanita itu, agar dia bisa kembali pada saudara tiri ku.
Apa aku egois jika aku juga mengingin kan Eva, menginginkan cintanya, menginginkan dia untuk ada di samping ku, menemani ku yang sebatang kara ini.
Apa aku boleh egois Tuhan untuk kali ini saja.
*****
" Arzan.?" sapa Eva lirih, hingga membuat tubuh Arzan tersentak kecil saat mendengar suara yang dia pikirkan sedari tadi.
__ADS_1
Berbalik kebelakang dengan sekali gerakan, saat mendengar suara itu. Wanita yang ada di hadapannya sekarang, dengan mata yang berkaca-kaca.
" Eva.!" serunya.
" Kamu membohongi ku Zan, menyuruh ku untuk pulang bersama Revan agar aku tidak tau jika kamu terluka." ucapnya, dengan suara bergetar.
" Bukan begitu Va." jawabnya dengan mendekati Eva.
" Lalu, apa.!" serunya " Apa kamu menyuruhku untuk kembali lagi bersamanya." ujarnya lagi, hingga membuat Arzan berhenti saat mendengar perkataan Eva.
" Apa itu benar Zan." ucapnya lagi, yang masih belum mendapatkan jawaban dari Arzan.
" Apa aku salah jika mulai membuka hati pada seseorang, apa aku salah jika mulai suka dengan seseorang. Apa aku salah!" serunya dengan menundukkan kepala saat ia mulai menangis, hingga Arzan menatapnya.
Menghapusa air mata dan akan berbalik keluar kamar, jika tangannya tidak di tarik oleh Arzan dan membentur tubuhnya hingga Arzan mendekap tubuh Eva dalam pelukannya.
" Kamu jahat Zan, kamu jahat." ucapnya dengan menangis dan memukul dads Arzan saat berada di pelukan dia. .
" Maaf ." jawab Arzan lirih, dan masih mendekap tubuh Eva
" Aku cinta kamu, aku sangat mencintai mu." ujarnya lagi dengan mencium puncak kepala Eva, membuat hati Eva terenyuh.
cukup lama dua anak manusia yang masih berpelukan dan saling termenung dalam pikiran mereka sendiri.
Eva yang mulai tenang dengan segera melepaskan dirinya dari pelukan Arzan, menatap pria yang ada di hadapannya dengan dia yang tersenyum.
" Maaf." ucap Eva
" Untuk.?"
" Maaf karena sudah membuat mu terluka." kata tulus Eva.
" Kenapa meminta maaf, Bukan kamu yang membuat ku terluka." ujarnya.
" Karena kamu menolong ku dari penculik itu, dan membuat mu seperti ini." ucap Eva dengan rasa bersalah.
Tersenyum dan menarik pinggang Eva dengan satu tangan agar mendekat, hingga tidak ada jarak sedikit pun. Membuat Eva tersentak kecil saat Arzan menarik pinggangnya tangan Eva yang menjadi pemisah menempelkannya pada bidang dada Arzan untuk bisa menatap wajahnya.
Saling menatap, dengan mata yang sayu dan terseyum.
" Sudah seharusnya aku melindungi mu, bukan begitu.?" kata Arzan menatapnya dan tersenyum.
__ADS_1
"Va, maaf." ujarnya lagi dengan satu ciuman mendarat di bibir Eva membuat sang pemilik bibir membulatkan mata lebih sempurna, saat bibir pria itu masih menempel di bibirnya.
merasakan kehangatan saat bibir itu menempel sempurna, memangutnya dengan lembut merasakan sensasi yang begitu mendambakan, entah sadar atau tidak Eva mulai membalasnya membuat sang pria tersenyum senang di dalam hati hingga mereka saling bertukar saliva, saling memangut dan memperdalam ciumannya.
bulan menjadi saksi saat mereka saling berciuman, tirai jendela berterbangan dengan hembusan angin yang tak begitu kencang membuat suasana romantis begitu terasa walaupun di kamar sang pria.
Perlahan sang pria melepaskan ciumannya di saat mereka sudah mulai kehabisan oksigen, menghirup udara dengan jantung yang terpompa begitu cepat di saat pangutan itu terlepas. Saling menempelkan keningnya dan menunduk kebawah saat wanita itu merasa malu membuat Arzan tersenyum.
" Ayo kita nikah." ucp Arzan yang masih tetap memeluk Eva, dan tangan satu lagi menyentuh dagu wanita itu untuk mengangkat wajahnya yang tertunduk malu.
menatap wajah yang cantik, mata yang sayu dan pipi yang merona.
" Kamu mau menikah dengan ku." ujar Arzan lagi dan saling memandang.
" Kapan." jawab Eva
" Kapan.!" tanya ulang Arzan dengan mengerutkan keningnya.
" kapan, kamu akan menemui keluarga ku dan meminta ku untuk menjadi istri mu." ucap Eva dengan malu, Arzan tertawa kecil saat mendengar jawaban Eva.
" Besok aku akan membawa mu pulang ke keluarga kamu, meminta mu untuk menjadi istri ku." jawab Arzan dengan lembut.
" Besok." tanya Eva dengan sedikit terkejut. " Apa tidak terlalu cepat.
" Lebih cepat lebih baik kan, agar aku bisa memiliki mu selamanya." jawab Arzan, membuat Eva tertawa kecil.
" I love u." kata Arzan.
" love u too." balas Eva dan memeluk Arzan.
Kini mereka pun menikmati malam yang indah tanpa rasa canggung dan hanya ada rasa kebahagian saat kini mereka saling mengungkapkan perasaan.
.
.
.
.🌸🌸🌸🌸
terima kasih atas dukungan dan semangat kalian.
__ADS_1