
Dia, orang yang selalu aku rindukan di setiap hari ku dan orang yang aku benci dalam hidup ku. Apa kau masih mengingat nama ku, mengingat wajah ku. IBU.?
.
.
.
Takdir macam apa ini, saat Arzan melihat orang yang dia benci dan orang yang dia rindukan selama bertahun tahun kini berada di restoran dengan orang yang dia kenal.
Rahang mengeras, mata menajam, tangan mengepal saat melihat wanita tua tapi masih cantik itu menghina wanita yang dia sukai.
Ingin sekali dia marah, ingin sekali dia bertemu dengan wanita tua itu. Tapi rasa benci dan kecewa membuat hatinya tertutup dan tak ingin melihat wajahnya lagi.
Di campak kan, di tinggal kan dalam malam kegelapan saat anak berusia lima tahun yang masih membutuh kan kasih sayang dan perhatian lebih dari seorang ibu. Tidak ada penjelasan saat wanita tua itu meninggalkan rumah, hanya tangis dan keributan yang Arzan dengar.
Saat sang anak meminta ibunya untuk tidak pergi dia pun tetap dengan pendiriannya. Pergi dari rumah melangkah dengan pelan tanpa melihat ke belakang, saat sang anak di dekap kakeknya dengan erat karena berusaha memberontak untuk mengejar ibunya.
Berpikir, kenapa wanita itu tidak membawanya, kenapa wanita itu meninggalkan dia sendiri, apa anak itu begitu menyusahkan ibunya hingga dia tidak mau membawanya.
Di tinggal ibunya dan di tinggal Ayahnya membuat hidup anak kecil menjadi seorang pendiam dan selalu menangis di dalam tidurnya.
Beruntung dia masih mempunyai kakek yang sayang dengannya dan masih mempunyai pengasuh yang setia hingga sekarang masih berada di rumahnya.
Arzan sempat mengingat pria yang pernah dia lihatnya saat berada di kost Eva, siapa pria itu dan kenapa pergi dengan wanita tua yang dia benci. Wanita yang dulu menagsuhnya dengan lemah lembut kini menjadi wanita yang sombong dan angkuh.
Mencoba mengendalikan amarahnya saat berada di luar dan tak ingin mencari keributan saat berada di restoran.
Beralih menatap Eva yang menunduk malu dengan menghapus air mata di meja duduknya saat semua orang sedang menatapnya. Berjalan untuk mendekatinya saat dia sedang menunduk malu di tatap oleh semua orang.
Mengulurkan sapu tanganya ke hadapan Eva yang sedang menunduk, hingga Eva mendongakkan kepalanya untuk menatap sang pemilik sapu tangan.
Sedikit tidak percaya jika Arzan ada di hadapannya sekarang, sudah berapa kali Arzan melihat Eva menangis, sungguh dia malu saat ini.
Mengambil sapu tangan yang ke dua kalinya dari pria dingin itu.
"Terima kasih." ucap Eva dan di anggukkan Arzan.
" Ayo pulang, aku akan mengantar mu." ucapnya.
" Makanannya." kata Eva yang masih sempat sempatnya memikirkan makanan membuat Arzan menggelengkan kepala serta sedikit tersenyum
" Biar asisten ku yang akan membayarnya." jawabnya Arzan dan di anggukkan oleh Eva serta berjalan beriringan.
Di dalam mobil Eva hanya merenung menatap jendela luar tanpa ia sadari Arzan mendekat dengannya hingga membuat Eva terkejut.
__ADS_1
Arzan meraih seatbalt dan memasangkannya pada tubuh Eva.
" Kenapa.?" tanya Arzan
" Tidak papa." jawab Eva " terima kasih." tambahnya lagi.
Kini mobil yang mereka naiki melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang sedikit padat akan kendaraan yang berlalu lalang.
Mobil yang mereka naiki bukan ke arah jalan kost Eva, tapi menuju arah taman kota yang terdapat beberapa hewan satwa yang berada di kandang dan beberaa pedagang makanan berjajar rapi.
" Taman.?" ucap Eva yang baru tersadar dari lamunannya dan menatap Arzan.
" keluar lah.?" ajak Arzan pada Eva, Eva hanya mengangguk akan perintah Arzan. sebelum Arzan keluar dia melepaskan jasnya dan dasi serta melipatt tangan kemejanya hingga ke siku.
Berjalan mengelilingi taman kota, banyaknya anak TK yang sedang berekreasi bersama ibu dan gurunya di sana.
Eva yang melihat anak kecil begitu tersenyum akan tingkahnya, serta tingkah ibu ibu yang sedang berselfie dengan memakai baju yang sama.
" Kamu suka.?" tanya Arzan dengan menatap Eva yang kini sedang berjalan bersama.
" Iya." jawabnya dengan tersenyum " kamu mengajak ku ke sini untuk menghibur ku.?" ujar Eva.
" Sedikit menghibur diri tidak apa-apa kan, untuk menghilangkan stres di otak." jawabnya tanpa melihat Eva.
Saat ada pedagang asongan yang menjual permen kapas Arzan pun membelinya dua serta membeli air minum kemasan.
" Untuk ku.!" kata Eva yang mendapatkan permen kapas dari Arzan
" Terima kasih" ucapnya dengan tersenyum penuh membuat Arzan ikut tersenyum.
Eva yang menikmati permen kapas sedangkan Arzan yang menikmati air minum dalam kemasan, Arzan yang melihat Eva memakan permen kapas membuatnya sedikit tertawa karena tingkahnya seperti anak kecil saat makan permen kapas hingga belepotan.
" kalau makan itu yang benar, lihat lah bibir mu sampai belepotan begini." ucapnya dengan mengusap ujung bibir Eva, Eva tersentak kecil saat mendapat perlakuan manis dari orang yang baru ia kenal, apa lagi dari pria dingin yang tidak pernah tertawa dan tersenyum.
" Kamu tertawa" ucap Eva tanpa sadar saat menatap Arzan, hingga Arzan mengalihkan pandangannya dari Eva hingga sesaat mereka tak saling bicara.
" Jangan pernah menangis lagi, jadilah wanita yang kuat dan berani." ujar Arzan.
" Apa aku selemah itu.!" jawab Eva dan menatap Arzan.
" Iya, di tindas masih saja diam dan menangis adalah jalan pilihan mu.!" ucap Arzan dan itu memang benar apa yang di katakan Arzan padanya.
" Jika kamu di kasih dua pilihan memilih bertahan atau mengakhiri." ucap Eva.
" Tergantung, yang di pertahankan mau berjuang bersama atau tidak." jawabnya. "Jangan bertahan jika sudah tidak sanggup, itu akan menyakiti hati mu sendiri. Mengakhiri itu lebih baik dengan cara kita berbicara yang baik." sambung Arzan lagi.
__ADS_1
benar yang di katakan Arzan bertahan itu memang sakit dan mengakhiri itu tidak akan mudah.
sama sama termenung dengan pikiran mereka sendiri hingga akhirnya mereka tersadarkan oleh sapaan anak kecil.
" Om, tante.!" seru cobah kecil membuat dua anak manusia tersentak kecil dan menatap anak laki-laki
" Ada apa bocil." ucap Arzan membuat Eva menatapnya dan melayangkan pukulan kecil ke lengan Arzan serta tertawa.
" Kenapa kamu panggil bocil.!" seru Eva dengan menahan tawa.
" Aku sudah besar om.!" seru anak laki laki dengan berkacak pinggang.
"Coba berdiri.?" tantang Arzan.
"Ini sudah berdiri!" gerutunya membuat Eva dan Arzan tertawa
"Jangan di peduliin ya omongan om." ucap Eva dan di anggukkan oleh anak kecil itu.
"Sekarang ada apa manggil om dan tante.?" tanya Eva.
"Em, itu" dengan menunjukkan permen kapas yang berada di sebelah Arzan.
"Ini?" kata Arzan dan mengambil permen kapas untuk di berikan oleh anak kecil itu.
" Terima kasih." ucapnya dengan senang dan pergi dari hadapan Eva dan Arzan.
Menatap kepergian anak laki-laki itu dengan tersenyum dan tertawa ketika anak laki-laki itu memberikan permen kapas pada seorang gadis kecil.
" Dasar play boy kecil." ucap Arzan membuat Eva tertawan lepas.
.
.
.
.
.🍃🍃🍃
hay, terima kasih dengan komen kalian dan masukan kalian.
Nikmati saja dulu alur ceritanya, memang di sini peran pertama adalah Revan, dia memang tegas pada siapa pun tapi jika sama orang tua dia tidak bisa memberontak dan tetap mematuhi perintah ibunya.
Tapi!!! suatu saat dia akan berubah jika dia tau tentang masa lalu ibunya.
__ADS_1