
Rasanya aku ingin selalu bersama mu, tapi saat dekat dengan mu rasanya aku ingin marah. Entah kenapa, aku juga bingung.!
.
.
.
.
" Kamu bertemu dengan Tia di mana dan kapan.?" tanya Ana dengan antusias saat Eva beberapa jam yang lalu ke rumahnya dengan di antar Arzan.
Sempat merengek untuk tidak di tinggalkan sendiri di rumah Ana, ingin sekali Eva menyuruh Arzan untuk tetap bersamanya menemaninya sampai dia puas berkunjung ke rumah Ana dan bercerita panjang lebar.
Tapi karena Arzan harus bertemu dengan klaien dan tidak ingin membuat nama suaminya buruk di mata semua orang karena tidak konsisten dalam bekerja hingga dia pun rela untuk melepaskan suaminya, meskipun suaminya bilang tidak apa-apa untuk menemaninya dan mengundur jadwal pertemuannya hanya demi Eva.
Menghembuskan nafas berat sebelum Eva menceritakan tentang Tia mantan sahabat mereka.
" Empat hari yang lalu saat aku akan ke rumah kamu, aku tidak sengaja bertemu dengannya di toko kue. Pas melihat ku dia langsung pergi melengos begitu saja." jawab Eva dengan memakan cake coklat punya Ana.
" Terus.?" tanya Ana dengan tidak sabar
" Badannya kurus serta wajahnya pucat, pas aku kluar dari toko dia pingsan dan aku bawa ke rumah sakit." dengan masih setia menguyah makanan. " eh, pas dia udah siuman bukannya terima kasih malah menuduh ku."
" Menuduh apa.!"
" Menuduh ku katanya aku membunuh anaknya, hingga membuat suaminya pergi meninggalkannya dan ini." dengan menunjukkan bekas cakaran Tia. " dia menyerang ku." ujarnya lagi dengan wajah yang cemberut.
" Pasti kau tidak membalasnya." tebak Ana dan di anggukkan oleh Eva.
" Kau ini.! emm!!." geramnya dengan mengepalkan ke dua tangannya ke depan wajah merasa gemas dengan sahabatnya ini. " Seharusnya kamu itu melawan bukan diam saja jangan kasihan meskipun wajahnya pucat atau badannya kurus." tutur Ana dengan jengkel.
" Kasian An.!" seru Eva dengan cuek dan masih asik makan.
" Kasihan sih kasihan tapi kalau kayak gitu ya harus lawan lah." jawab Ana " dengerin gak sih kalau aku ngomong.?" ucap Ana yang merasa terabaikan karena Eva masih asik mengunyah.
" Kamu dari tadi makan melulu, gak kenyang apa." garutu Ana.
" Ada makanan lagi gak aku masih laper.!" tanya Eva.
" Eh, masih laper yang benar saja. Kamu sudah menghabiskan cake ku lho Va! enggak tersisa satu pun." ujar Ana dengan menunjukkan kardus makanan yang sudah kosong.
__ADS_1
Menyengir kuda seakan merasa tidak bersalah karena sudah memakan cake yang seharusnya buat Ana malah dia makan sendiri.
" Lapar.? cari makan yuk An." ajak Eva.
Menghembuskan nafas berat, menggelengkan kepala saat Eva mengajaknya untuk mencari makan padahal Eva sudah makan banyak tapi masih saja belum kenyang.
" Cari rujak yuk An, aku ingin rujak manis." ujarnya lagi dan beranjak dari duduknya mengambil dompet dan menggandeng tangan Ana untuk segera keluar dari rumah.
Memberitahu pada sang sopir jika dia ingin membeli rujak dengan menaiki motor. Sang sopir sempat melarang dan takut jika nanti Tuannya marah karena membiarkan istrinya naik motor.
Tapi karena Eva merengek dan ingin menangis hingga membuat sopir serta Ana merasa bingung dan serba salah pada akhirnya sopir pun mengijinkannya tapi dengan tetap mengikutinya dari belakang dan itu membuat Eva tersenyum senang walaupun nanti di rumah dia akan mendapatkan hukuman dari suaminya.
Sudah lama Eva tidak mengendarai motor merasa senang jika terbebas sebentar dari suaminya meskipun dia tidak keberatan jika sopir mengikutinya di belakang.
Berhenti tepat di area SPBU saat melihat gerobak penjual buah segar yang sudah di kupas dan di simpan dalam kaca putih.
" Mas rujak buah ya empat bungkus.?" ucap Eva.
" Banyak sekali buat siapa." tanya Ana dengan sedikit terkejut.
" Dua buat aku, satu buat kamu dan satu buat pak sopir." kata Eva.
" Habis, tenang saja.!" jawab Eva acuh
Melihat buah yang sudah di potong dan sudah di taruh dalam mika membuatnya menelan ludah dengan tidak sabar sekali ingin memakannya.
Beruntung sopir mengikutinya hingga dia bisa makan di dalam mobil bersama Ana.
" Kamu yakin sanggup menghabiskannya." tanya Ana yang melihat buah begitu banyak.
" Hmm." jawab Eva dan mulai memakannya.
Melihat kelakuan sahabatnya yang makan dengan lahap membuatnya heran, dan sangat heran lagi saat menghabiskan dua bungkus rujak manis dalam sekejab.
" Mau lagi.?" tawar Ana dengan menunjukkan satu bungkus miliknya yang belum di makan, mengangguk tersenyum merasa tidak bersalah dan mengambil milik sahabatnya untuk segera di buka dan di makan.
" Eh.? Astaga.!" seru Ana. " Va, kamu enggak takut gemuk.?" tanyanya hingga Eva berhenti mengunyah dan menatap sahabatnya.
" Apa aku sekarang gemuk An?" tanya balik Eva.
" Enggak tau tanya saja suami kamu." jawab Ana karena sudah melihat wajah Eva yang berubah cemberut " Sudah makan lagi sana." ujarnya.
__ADS_1
" Enggak ah sudah kenyang." jawab Eva tapi masih sempat melirik dan menelan ludahnya.
Berada di rumah Ana hingga sore hari membuat Eva rindu dengan suaminya hingga Eva memutuskan pulang sebelum suaminya terlebih dulu pulang ke rumah.
Berdandan dengan cantik dan menunggu suaminya di depan ruang tamu untuk menyambut kedatangan Arzan.
Mendengar suara mobil yang berhenti di halaman rumah membuat Eva bersemangat berdiri di depan pintu dengan wajah yang tersenyum.
Belum sempat Arzan memeluknya, tangan Eva sudah bergerak menahan untuk tidak mendekat lebih hingga membuat Arzan berhenti dan mengerutkan kening.
" Kenapa.?" tanya Arzan.
" Kamu pakek parfum apa kok bau sekali sih." ucap Eva dengan menutup hidungnya.
" Ini parfum tadi pagi lho Ay?" dengan mencium bau badannya " mungkin bau keringat mangkanya bau badan ku." jawab Arzan.
" Mandi dulu sana." kata Eva dan memberi jalan pada Arzan.
" Enggak mau peluk? biasanya aku datang salim dan peluk." ujar Arzan.
" Enggak, aku mau mual kalau dekat kamu?" jawab Eva dan berjalan menuju sofa.
" Emang aku tukang kuli apa di bilang bau." gerutu Arzan dengan menatap istrinya yang sudah duduk di sofa dengan melihat tv.
" Ay.?" sapa Arzan.
" Jangan dekat dekat, mandu dulu." sargah Eva tanpa melihat Arzan.
Menghembuskan nafas berat dengan berjalan lesu menaiki anak tangga karena tidak mendapatkan penyambutan yang baik saat pulang kerja dini hari.
Selesai dengan mandi dan berganti baju serta menyemprotkan parfum di badannya agar sang istri mau memeluknya.
Lagi-lagi Arzan mendapatkan penolakan dari istrinya dengan menjaga jarak lebih jauh dengan Alasan jika bau parfumnya sangat busuk dan menyengat hingga Eva berlari ke arah kamar mandi.
.
.
.🐨🐨🐨
Yuk ramaikan gaes.😅😅
__ADS_1